Lima hari berlalu, rasanya Safiya mulai rindu pada om suami. Bayangkan saja biasanya setiap hari bertemu saat ini Safiya sendirian hanya ditemai Abel dan mama mertuanya. "Ah, om tua itu, kenapa harus ngangenin, sih?" Kesal Safiya melempar bantal sofa. Lima hari Abram keluar kota dan tak sekali pun ia sekedar mengirimkan chat atau telepon. "Fiya," panggil mama mertuanya sambil menghampiri Safiya. "Iya, ma?" "Makan dulu, yuk sudah ditungguin Abel." "Emm, iya nanti saja ngak lapar, ma." "Ayolah. Kasihan Abel." Safiya akhirnya setuju. "Baiklah, ma." Safiya mengikuti mamanya ke arah meja makan dan ikut makan dengan yang lainnya, meski kepalanya sedikit pening. Sesekali sendok beradu dengan piring mencipta denting, memecah hening. Sungguh, kali ini Safiya tidak berselera untuk sekeda

