Sinar mentari pagi menembus kisi-kisi dan tirai jendela. Dingin yang semula menyergap tubuh akibat hujan deras semalam perlahan menghilang, berganti hangat yang terasa sampai ke hati. Dengan berdebar-debar Safiya keluar dari kamar mandi mengendap-endap berharap jika suaminya masih tidur. Safiya tahu sumainya menyayanginya, bisa Safiya rasakan itu lewat sorot matanya teduh itu. Safiya mengeringkan rambut dengan hairdryer selesai ia menjalankan Salat Asyar. Ia malu banget kenapa sesiang itu bisa-bisanya mereka bercinta. Selesai Safiya mengambil musyaf lalu membacanya demi mengalihkan rasa gugup dalam dirinya. Dua puluh menit berlalu Safiya tidak sadar jika suaminya itu sudah wangi dan berada di belakangnya. "Om, ich ngagetin saja sih." Abram ngengir. "Tapi suka kan?" "Om." "Iya, iya."

