Si Penyair Maut

1042 Kata
Cerita Yu Jin terhenti. Saat itu terdengar jeritan dua orang saling susul. Suaranya mendirikan bulu roma. Saat berikut, dua sosok bayangan menyerbu masuk, mendatangkan angin kencang. Sima Yi dan Mei Chu bergerak sebat, hampir berbarengan "Kena kamu siluman!" teriak Mei Chu. Makian itu disusul teriak girang Mei Chu karena pedangnya mengenai sasaran tubuh manusia. Pukulan melingkar Sima Yi yang berisi tenaga dalam dahsyat mengena telak d**a lawan yang lain. Darah muncrat ke mana-mana. Dua musuh itu sudah dipecundangi, begitu mudahnya. Semua mata melotot memandang dua sosok mayat yang tergeletak di ruangan. Ternyata mereka dua orangtua pedagang kecil tadi. Luka menganga di d**a tepat bagian jantung. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Mereka dibunuh dengan k**i kemudian mayatnya dilempar ke dalam, itu yang membuat Mei Chu dan Sima Yi kecele. "b*****t kejam!" Dua murid Mei Chu membuang muka, tak tahan melihat mayat mengerikan itu. Apalagi dua orangtua itu bukan dari kalangan pendekar. Mereka orang awam yang tak bisa silat. Mei Chu menggamit dua muridnya, Mei Lin dan Mei Lan. "Kalian jangan jauh-jauh dari gurumu" Yu Jin dan Jiu Cien tak begitu peduli. Sekilas melihat dua mayat, Yu Jin menggamit Jiu Cien. Namun sebelum ia buka mulut, terdengar suara Sima Yi. "Kak Yu Jin, Mei Chu, coba perhatikan ini, s*****a apa ini yang bisa membuat lubang di d**a manusia, mungkin semacam bor." Dua pendekar itu mendekat dan memerhatikan mayat. Lukanya sama, tepat di bagian jantung. Tampak seperti s*****a itu menembus d**a, berputar dan melumat hancur tulang dan daging di seputar d**a sebelah kiri. "Mungkin benar, senjatanya semacam bor namun jelas sekali dikendalikan dengan tenaga dalam yang besar," tukas Yu Jin. "Setahuku, belum pernah ada pendekar di dataran tengah yang menggunakan s*****a aneh seperti ini," tambah Mei Chu Lelaki botak alias Si Tangan Besi menyela, "Menurut cerita orang, sepanjang beberapa bulan belakangan ini, si syair Maut selalu meninggalkan saksi hidup. Dan mereka yang ikut menyaksikan pembunuhan k**i itu tak pernah menyebut adanya s*****a, mereka mengatakan orang itu berkelebat macam siluman, geraknya sangat cepat dan ia selalu beraksi dengan tangan kosong. Mungkin saja, malam ini malam istimewa sehingga dia menggunakan s*****a" Saat itu semua orang lengah. Mereka terpencar dan tidak berada lagi di dalam lingkaran. Tiba-tiba saja terdengar suara mencicit yang bising. Sima Yi berteriak. "Kembali ke lingkaran semula!" Terlambat! Suara mencicit sudah memenuhi ruangan. s*****a itu hampir tak terlihat. Bor maut berbentuk kerucut sebesar ibu jari, dikendalikan dengan tali yang saking tipisnya hampir tidak terlihat. Semuanya ada empat bor maut. s*****a itu berputar bagai gasing dan menyambar ke sana kemari dengan kecepatan tinggi Semua orang panik. Sibuk berkelit dari serangan s*****a maut itu. Caci maki dan sumpah serapah keluar dari mulut para pendekar. Tidak lama. Tidak sampai sepeminuman teh, terdengar jerit dan lengking kesakitan. Saat berikutnya s*****a itu menghilang. Datang secara mendadak, pergi pun sangat tiba-tiba. Suasana lengang. syair Maut tetap tak kelihatan batang hidungnya. Dua mayat tergeletak di tanah. Darah segar masih mengucur dari lubang di dadanya. WarsaKumarawet dan Tangan Besi! Dua pendekar yang saling bermusuhan, kini mati bersamaan tanpa pernah mengenal wajah pembunuhnya. Semua saling pandang. Seperti tak pernah ada sesuatu yang terjadi karena berlangsung begitu cepat. Semua sependapat ilmu iblis itu teramat tinggi. Tanpa memperlihatkan diri ia sanggup mencabut nyawa dua pendekar di depan mata delapan pendekar lainnya. Sima Yi memandang Yu Jin dan Mei Chu. Teror bor maut itu masih terbayang Suaranya seakan masih mencicit di telinga Mei Chu membanting kaki, saking kesal. "Gila, sungguh pembunuh licik dan k**i" Tak bisa kuasai dirinya lagi, pendekar Pedang dewa itu berteriak, "b*****t licik, keluar kau, hadapi aku." Suara Mei Chu bagai guntur di tengah malam sunyi Gema suara itu dipantulkan ke sana kemari. Suatu pameran tenaga dalam dari seorang pendekar kelas satu Suasana kembali sunyi. Seorang lelaki muda tampan dan tampaknya serombongan dengan Mei Chu, berkata sambil memberi hormat kepada para pendekar. "Sebaiknya kita jangan terpancing, serangan iblis itu akan datang lagi. Sudah empat nyawa melayang, masih ada satu lagi yang diincarnya sebelum fajar, salah satu di antara kita. Maka lebih baik kita siap-siap menghadapinya." "Benar apa yang dikatakan Secauci, sebaiknya kita semua siap dalam kelompok." Berkata demikian Mei Chu menarik dua muridnya yang cantik, mendekat kepadanya. Secauci memegang lengan temannya. "Kakak Matauci, kita harus bahu-membahu untuk selamat." Lelaki bertubuh kekar itu manggut. Ia mencabut pedang dari balik punggung "Sebaiknya kita tetap berdampingan, Kakak. Apa pun yang terjadi, jangan sampai kita terpisah." Sima Yi bergabung dengan Yu Jin dan Jiu Cien. Delapan pendekar itu terbagi dua kelompok tetapi tak berjauhan satu sama lain. Semua bersiap. Menanti! Sepi dan lengang. Tak ada suara apa pun kecuali suara kodok dan jengkrik. Saat demi saat berlalu. Fajar semakin dekat. Dari jauh terdengar suara kokok ayam. Belum ada tanda-tanda syair Maut akan menyerang. Tanpa terasa suasana ini mendebarkan semua orang. Mereka tetap siaga. Mendadak terdengar suara gedubrakan. "Bruuaaakkk!" Tembok rumah tiba-tiba runtuh dijebol orang. Dihantam dengan pengerahan tenaga dalam sangat tinggi Bunyi keras itu disusul bebatuan tembok yang beterbangan ke sana kemari dengan kecepatan tinggi dan serabutan. Debu beterbangan memenuhi ruangan. Sinar rembulan purnama dan penerangan obor tak mampu menembus kumpulan debu. Obor pun mati. Orang sulit melihat datangnya bebatuan yang begitu banyak jumlahnya. Hanya menggunakan ketajaman pendengaran membuat para pendekar pontang-panting mengelak terjangan batu. Salah hitung, kepala bisa pecah. "b*****t pengecut, perlihatkan dirimu!'' teriak Mei Chu marah. Matauci dengan suaranya yang keras kasar membentak. "Ayo hadapi aku secara jantan, jangan main sembunyi!'' Dari balik debu yang masih memenuhi ruangan, sosok bayangan berkelebat. Gerakannya gesit, bahkan teramat gesit. Seakan berlomba adu cepat dengan batu-batuyang beterbangan. Tangannya mengibas menyemburkan tenaga dalam dahsyat ke Sima Yi dan Yu Jin. Dua pendekar kawakan ini terkejut. Tenaga lawan sungguh besar. Tak ayal lagi keduanya membalas dengan seluruh kekuatan tenaga dalam. Tak terhindar adanya benturan tenaga. "Dukk ! Dessss!" Yu Jin terdorong surut satu langkah, Sima Yi juga. Bayangan lawan bagai tak mendapat rintangan, tetap menyerbu Kini sasarannya Jiu Cien! Jiu Cien sejak awal sudah siaga penuh. Ia merentang dua tangan dalam sikap Naga Perkasadari jurus andalan Partai Naga Emas. Ini sikap pasrah dan menanti yang menyimpan banyak perubahan tak terduga. Jiu Cien mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Ia tahu situasi kritis mengancam hidupnya. Yu Jin dan Sima Yi terkesiap. Kalau mereka saja terdesak mundur oleh tenaga dalam lawan, bagaimana lagi nasib Jiu Cien. Tanpa pikir lagi keduanya menerjang lawan sambil mengirim pukulan jarak jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN