Saat itu syair Maut sudah sampai di depan Jiu Cien. Ia mengibas dengan tangan kiri, tangan kanan mencengkeram batuk kepala. Tenaga kibaran itu sangat besar membuat tubuh Jiu Cien serasa kaku. Saat berikutnya kepalanya terasa dingin. Jiu Cien tahu jiwanya berada di ujung tanduk, namun ia tidak gentar. Ia bergerak dengan dua jurus susulan Naga Meliuk dan Naga Terbang Menyusup. Saat itu Jiu Cien berpikir sederhana, jika ia harus terluka atau bahkan binasa, maka lawannya pun harus mengalami kerugian besar. Pukulan dan tendangannya mengarah pelipis dan s**********n lawan. Pada saat itu dua pukulan Yu Jin dan Sima Yi ikut mengancam punggung syair Maut.
Terdengar suara lawan "iiihhh!" syair Maut terkejut, diam-diam ia memuji gerakan Jiu Cien. Jika ia meneruskan serangan, Jiu Cien pasti mati, namun ia pun akan terluka parah. Begitu juga pukulan dua pendekar kawakan yang mengarah punggungnya.
Dia membatalkan serangan pada Jiu Cien, sambil merentangkan dua tangannya ia menerima pukulan Yu Jin dan Sima Yi. "Deeeesss!" Punggungnya kena telak. Pakaian di bagian punggungnya pecah dan robek. Namun syair Maut itu tampak tidak terluka. Saat pukulannya mengena telak punggung lawan, Yu Jin dan Sima Yi merasa tenaganya amblas di ruang kosong. Memang terasa adanya benturan, namun tidak ada daya tolak dari punggung lawan sebagaimana mestinya.
Ternyata sebenarnya syair Maut meminjam tenaga lawan, pukulan itu tidak melukainya bahkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi melayang ke arah Mei Chu.
Ketua Pedang Bunga ini menyambut dengan kibasan pedang Bunga Tiga Warna, satu jurus mematikan dari ilmu andalannya Bahagia dan Beruntung. Berbarengan dengan itu Matauci dan Secauci bersama-sama mengirim pukulan gabungan, salah satu jurus tangan kosong handal dari perguruan Wuwei. Sergapan tiga pendekar ini sepertinya menebar hawa kematian. syair Maut tak punya peluang untuk lolos.
Kenyataan tidak demikian. syair Maut membuat gerakan putar, tubuhnya melintir dan meliuk ke samping, menghindari pedang Mei Chu. Ternyata geraknya bukan hanya menghindar. Tetapi sekaligus menyedot dan menarik tubuh Mei Chu sampai terhuyung ke depan Dua tanggannya kemudian membentur pukulan dua murid Wuwei "Duuukkk... dukkk!"
Matauci dan Secauci terhuyung empat langkah ke belakang. Mei Chu hilang keseimbangan dan tersuruk dua langkah ke depan.
Syair Maut benar-benar pamer kepandaiannya. Meminjam tenaga lawan, ia melejit dan melenting ke atas melewati tiga lawannya. Kini dua gadis Pedang Bunga yang terancam!
Mei Chu yang terpisah agak jauh dan dalam keadaan limbung tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dua murid Wuwei.
Tidak demikian Jiu Cien yang cerdik. Ia bisa membaca jalan pikiran syair Maut. Saat syair Maut menempur Mei Chu, saat itu juga Jiu Cien menerjang ke arah Mei Lan dan Mei Lin. Sehingga waktu dua gadis cantik itu diserang, Jiu Cien ikut membantu dengan jurus Naga Terbang Menyusup.
Dua gadis cantik ini juga bukan orang lemah, dua kilatan pedang berkelebat mengibas udara. Terdengar suara menggumam dari balik topeng syair Maut, suara yang tidak jelas. "Hmmmmm.'' Ia memainkan ilmu pinjam tenaga, menangkis pukulan Jiu Cien, ia melenting dan melesat meloloskan diri dari kibasan pedang dua gadis itu. Gerakan menangkis itu dilakukan sambil ia melayang pergi ke luar ruangan menghilang di kegelapan malam. Sepertinya ia lari karena gagal.
Mendadak terdengar suara mencicit saling susul. Dua bor menyerbu masuk. Semua terkejut. Jiu Cien sehabis bentrok tenaga dan surut empat langkah dengan d**a sesak sempat melihat bor itu mengancam Mei Lan. Tanpa sadar Jiu Cien melesat ke arah gadis itu memotong jalan bor maut. Yu Jin dan Sima Yi ikut meluruk ke arah sama, begitu juga Mei Chu Tiga pendekar kawakan ini bergerak pesat menolong Mei Lan. Tetapi syair Maut lebih cepat lagi. Saat itu juga terdengar suara mencicit lainnya, dua bor lain menyerang pesat.
Terdengar jeritan maut. Mei Lin yang sendirian dan tidak dilindungi menjadi korban. Dadanya bersimbah darah. Tewas mengerikan. Saat itu juga suasana sepi dan lengang. Fajar mulai menyingsing.
Semua terpana. Pertarungan berlangsung singkat. Serba cepat dan telah menebar detik-detik kematian yang mengancam semua pendekar. Hanya nasib baik saja yang meloloskan mereka dari kematian. Rupanya sambil melayang pergi, menuju kegelapan malam, syair Maut menyerang dengan s*****a bor mautnya. Tak seorang pun menyangka keadaan seperti itu.
Lawan juga berlaku licik, menyerang Mei Lan namun yang yang di incarnya adalah Mei Lin. Sehingga begitu semua perhatian dan pertolongan mengarah pada Mei Lan, saat itu juga ia menyerang Mei Lin. Lihai, sungguh lihai.
Lihai dan licik!
Mei Lan memeluk mayat adiknya, menjerit dengan tangis memilu. "Adikku, kenapa kamu tinggalkan aku, maafkan kakali ini karena gagal melindungi adiknya."
Mei Chu merunduk, selama ini belum pernah ia dipecundangi orang setelak itu. Muridnya mati di depan hidungnya tanpa ia sanggup menolong. Lawannya pun hilang begitu saja.
Matauci, Secauci dan Jiu Cien merasakan jantungnya berdegup kencang. Benturan tenaga dengan syair Maut membuat tenaga dalam mereka jadi tidak karuan. Mereka duduk semedi mengatur kembali tenaga intinya. Yu Jin dan Sima Yi masih bingung dan takjub. Mereka heran, sebab jelas-jelas syair Maut kena pukulan telak di punggungnya, pukulan yang sanggup menghancurkan gajah sekali pun ternyata tidak mempan terhadap tubuh lawan. Mereka takjub akan ilmu pinjam tenaga yang dimainkan syair Maut. Jelas, tenaga dalam dan ringan tubuh lawan sangat tinggi, ditambah lagi dengan jurus- jurus aneh, membuat orang bertopeng itu tampak sangat digdaya.
Drama berdarah itu selesai persis fajar menyingsing. Seperti kebiasaan yang diceritakan dari mulut ke mulut, Syair Maut menepati janjinya. Lima kali syair dinyanyikan, lima nyawa melayang. Hebatnya lagi, ia menyisakan saksi hidup agar dunia kependekaran mengetahui kehebatan syair Maut.
"Tak ada lawan. Tak ada tandingan. Ilmu dari segala Ilmu.
---ooo00ooo---
Suasana pagi di sekitar bangunan tua itu sepi dan lengang. Tak terdengar kicau burung. Seakan makhluk unggas itu ikut berdukacita. Seakan ikut sedih atas malapetaka yang ditabur syair Maut tadi malam.
Jiu Cien masih membayangkan Mei Lan yang cantik. Mei Lan yang menangisi kematian adiknya. Mei Lan yang memandanginya dengan penuh rasa terimakasih. Ia juga tak bisa melupakan pengalaman mengerikan itu. Selama ini ia telah melewati banyak pertarungan namun sepak terjang musuh seperti syair Maut tak akan pernah bisa ia lupakan. Telengas, k**i dan sangat lihai.
Jiu Cien masih memandangi rombongan Mei Chu, Mei Lan dan dua murid Wuwei yang menghilang di balik hutan.
Jiu Cien merasa ada sesuatu dari dirinya yang terbawa Mei Lan. Ia kesengsem akan kecantikan gadis itu. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang montok. Jiu Cien punya perasaan kuat si gadis punya perhatian padanya. Ia sering memergoki Mei Lan sedang memandanginya. Dan saat mata mereka bentrok, gadis itu melempar senyum dengan mata yang berkedip-kedip. "Ia juga ada perhatian padaku, tetapi apakah ia sudah punya hubungan dengan Secauci, murid Wuwei itu?" gumamnya dalam hati.
Dalam keadaan termenung, Jiu Cien dikejutkan panggilan Yu Jin. "Jiu Cien, tadi saat kau diserang, tiba-tiba dia membatalkan serangannya padamu, apa yang terjadi ?"