Syairnya Berbeda

1024 Kata
Jiu Cien tak bisa menjawab. Ia sendiri tak mengerti mengapa syair Maut membatalkan serangannya. Kalau saja serangan itu dilanjutkan, ia tak yakin bisa menghindari maut. "Waktu itu aku siap dengan kuda-kuda Naga Perkasadan siap menyerang dengan jurus Naga Meliuk dan Naga Terbang Menyusup , tetapi aku tak mengerti mengapa ia batal menyerang, ia mengeluarkan suara 'iiihhh' seperti orang terkejut. Aku tak tahu apa yang membuat ia terkejut." Sima Yi memotong penuturan Jiu Cien. "Coba, nak, kamu ingat-ingat suara orang itu, suara lelaki atau perempuan?" "Orang itu memakai topeng, wajahnya tak terlihat, potongan tubuh pun tersembunyi dalam jubah panjangnya. Waktu ia menyanyikan syair agak sulit membedakan suaranya, tetapi tadi malam aku yakin mendengar suara kaget, suaranya mirip suara perempuan. Dia pasti seorang perempuan, guru." Sima Yi mengerutkan kening, tampak ia berpikir keras. "Waktu benturan tenaga jarak jauh aku mencium bebauan yang biasa dipakai kaum wanita, wewangian bunga, apakah kau juga mencium bebauan serupa, Yu Jin?" Yu Jin yang ditanya tertawa lirih. "Aku tak pernah tahu bagaimana bebauan perempuan, tetapi memang aku sempat mencium wangi-wangian segar semacam bebauan bunga." "Tak salah lagi, ia pasti perempuan!" teriak Sima Yi. "Benar guru, aku juga mencium wewangian itu. Tetapi apa bedanya perempuan atau lelaki, yang pasti ia seorang pembunuh k**i yang berilmu tinggi." "Ada bedanya bagiku, Jiu Cien. Itu bukti bahwa syair Maut bukan seseorang yang kukenal dan yang sangat kuhormati!" "Siapa yang kau maksud, guru ?" Sima Yi memandang langit. Suaranya agak serak. "Kejadiannya duapuluh lima tahun silam di tengah perang Luoyang. Berdua kak Lu Xun, aku bertarung lawan jago kepercayaan Kaisar Liu Bei, pendekar Himalaya, Takadagawe dari India. "Hebat ilmu pendekar itu, kami berdua terdesak hebat Nyawa kami sudah di ujung rambut. Mendadak datang pendekar penolong itu. Keduanya kemudian terlibat tarung, sungguh perkelahian pendekar kelas utama. Sebelum dan sesudahnya aku tak pernah melihat ada pertarungan tingkat tinggi seperti itu lagi. Tidak sampai limapuluh jurus penolong itu sudah menghajar pendekar Takadagawe muntah darah. Pendekar penolong kemudian seperti terbang melayang pergi membawa serta Kaisar lolos dari kepungan lawan. Dia berlalu sambil mendendangkan syair Jurus Penakluk Langit itu." "Syairnya sama, guru ?" "Syairnya sama persis. Hanya ada satu bait awal yang dinyanyikan pendekar penolong tetapi yang tidak dilantunkan si syair Maut tadi malam. syair itu sangat terkenal pada masa itu tetapi belakangan, setelah duapuluh lima tahun berlalu, orang mulai lupa. Lengkapnya begini, "Aku datang dari balik kabut hitam Aku mengarungi samudera darah Akulah sang pengelana Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Kan kupecahkan wajah rembulan Dengan Syair Penakluk Langit, Tak ada lawan, Tak ada tandingan, Ilmu dari segala ilmu...!" "Tadi malam syair Maut tidak menembangkan bait awal Aku datang dari balik kabut hitam, Aku mengarungi samudera darah. Selain itu pembunuh tadi seorang perempuan, berarti ia bukan pendekar penolongku. Nah pertanyaannya sekarang, kalau ia bukan penolongku itu, lantas siapa dia ? Mengapa ia selalu menembang Syair Penakluk Langit setiap melakukan pembunuhan k**i?" Suasana lengang seketika, Yu Jin kemudian angkat bicara. "Sebenarnya Syair Penakluk Langit itu konon gubahan kakek Sepuh Sun Jian, tokoh sepuh dan legenda hidup perguruan kami. Dan hanya sedikit orang terutama di kalangan murid utama saja yang mengerti dan hafal Syair Penakluk Langit." Yu Jin berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Sima Yi, penting sekali mengetahui pendekar penolong itu, kau satu-satunya saksi hidup yang pernah menyaksikan sepak terjangnya dalam perang Luoyang, mungkin dari jurus ilmunya bisa kita ketahui apakah dia Sepuh Sun Jian atau bukan, dan apa hubungannya dengan si pembunuh itu?" "Sudah duapuluh lima tahun berlalu, setiap kupikirkan tetap tak ada jawaban. Aku Cuma merasa ilmu kakek penolong itu sangat tinggi dan sulit diukur. Terkadang aku merasa tak asing dengan gerak silatnya, tapi makin kupikir makin aku tak mengenalnya." Kening Yu Jin berkerut, tanda ia berpikir keras. "Tampaknya ini rahasia besar yang menyangkut dunia kependekaran kita. Coba kau pusatkan pikiran dan mengingat kembali kejadian itu dan menceritakannya secara rinci. Mungkin bisa terpecahkan." Sima Yi duduk bersila, dua tangannya sedekap dengan sepasang telunjuk menempel ujung hidungnya yang mancung. Ia memejamkan mata. Tidak mudah mengingat kejadian yang sudah duapuluh lima tahun berlalu. Kecuali jika kejadiannya memang sangat berkesan. Sebab jika kejadiannya sangat berkesan akan menempel ketat di alam bawah sadar. Untuk mengingatnya seseorang memerlukan konsentrasi penuh menggali ingatan atas kejadian itu. Kejadiannya memang sangat berkesan bagi Sima Yi. Ada seorang wanita cantik terlibat di dalamnya, wanita yang sangat dicintainya, Zsu Mei. Wanita itu tewas bersama semua sahabat dan kenalan dekatnya, bahkan mereka yang sudah dianggap saudara Pendekar jangkung ini kemudian menceritakan apa yang dilihatnya. Pertarungan itu sangat dahsyat. Kedua pendekar itu memeragakan ilmu yang sulit dicari tandingannya. Pendekar penolong berjubah putih dengan anggun mengalahkan pendekar Takadagawe yang beringas dan penuh amarah. Pertarungan itu seperti terpampang kembali di depan matanya. Dia menceritakan dengan rinci setiap gerak yang dimainkan pendekar jubah putih itu. Yu Jin mendengar dengan serius, keningnya berkerut. Orangtua ini tampak berfikir keras. Tiba-tiba dia bangkit dari duduk melangkah, tangan dan kakinya memainkan jurus. "Gerak menepuk dua tangan lalu satu tangan mencengkeram ke depan itu pasti gerak awal jurus Naga Memburu Mangsa. Tangan kiri menggaruk belakang kepala dan tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi itu jurus Naga Turun ke Bumi. Pinggang digoyang, tangan kiri mendorong pukulan lawan, tangan kanan menyusup ke depan mengelus d**a lawan, itu gerakan akhir dari Naga Memburu Mangsa. Itu peragaan jurus biasa ilmu Naga Emas, tetapi karena digelar dengan tenaga dalam yang tinggi luar biasa, maka jurus menjadi sangat ampuh. Siapa lagi jikalau bukan Sepuh Sun Jian, satu-satunya orang yang bisa menggelar Naga Emas sehebat itu" Jiu Cien tak bisa menyembunyikan keinginan tahunya. "Siapa beliau, siapa Sepuh Sun Jian?" Yu Jin tak menjawab. Ia berdiri seperti patung, pandangan menerawang jauh. Sima Yi menarik lengan muridnya. "Jiu Cien, biarkan dia sendirian, ia sedang memikirkan jurus tadi." Keduanya duduk. Jiu Cien menatap gurunya lekat-lekat Sima Yi menghela napas. "Jiu Cien, hidup memang banyak tantangan, apalagi hidup di dunia kependekaran yang serba keras dan kejam di mana hanya hukum rimba yang berlaku, siapa kuat dia jadi raja, siapa lemah dia jadi b***k atau mati ditindas. Sering kita dilanda keresahan, bentrokan, marah, kecewa karena dua hal pokok.Tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Atau memperoleh sesuatu yang tidak kita inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN