"Jiu Cien, aku dan ayahmu, beserta Kakak Lu Xun dan Kakak Cao Tao sudah angkat saudara. Kami bertiga menjadi inti pasukan elit istana yang dipimpin Kakak Cao Taoyang tidak lain adalah adik Kaisar Cao Cao. Kami punya rencana besar yakni mencetak seorang pendekar yang sangat hebat dan menjadi nomor satu di dunia kependekaran. Kami sepakat memilih kamu Sejak bayi, tubuhmu dibentuk dengan memberimu bekal kekuatan, jamu unggul dari gurumu Cao Pi, jamu dan makanan khusus menjadi santapanmu sehari-hari, obat anti racun, dasar tenaga dalam, dasar ilmu ringan tubuh. Kamu dilatih khusus."
"Aku masih ingat, guru, waktu kau melatih aku berlari dan gelantungan di atas pohon. Ayah mengajari aku latihan tenaga dalam Paman Lu Xun melatih kuda-kuda. Aku ingat semuanya."
Sima Yi melanjutkan, "tetapi perang Luoyang telah mengubah semuanya, jalan hidupmu, jalan hidupku, semua berubah, tidak seperti yang kita rencanakan. Ayahmu dan pamanmu Lu Xun, juga ibumu dan saudara lainnya, semua tewas di Luoyang."
Wajah Jiu Cien tampak keras, ia memandang tajam gurunya, "Guru, aku sudah tahu orangtuaku tewas di Luoyang, tetapi siapa orang yang membunuh mereka?"
Sima Yi memandang Jiu Cien. Dalam mata muridnya ia melihat pancaran bara api. Percikan marah dan dendam kesumat yang tak terukur besarnya. Sima Yi menghela napas gundah. "Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa kita akan kalah dalam perang. Sebelum menuju Luoyang, kami mendengar berita Partai Naga Emas dibumihanguskan pasukan musuh. Kamu tahu Jiu Cien, sebagian besar Prajurit istana adalah murid Partai Naga Emas, sehingga berita itu sangat memukul mental pasukan istana. Dendam dan kekhawatiran berbaur dalam diri kami. Ternyata pasukan Liu Bei sangat tangguh, banyak pendekar berilmu tinggi yang membelanya. Satu demi satu Prajurit Kerajaan Wei mati Tetapi kami pantang menyerah. Meskipun terdesak, kami merasa tenang sebab Kaisar sudah lolos ditolong Sepuh Sun Jian. Kami akan tarung sampai tetes darah terakhir."
Kejadian itu berputar kembali di depan mata Sima Yi. Ia melihat Zsu Mei, ibu Jiu Cien, bersama suaminya Jiu Shan bertarung bahu membahu. Satu hal yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada Jiu Cien bahkan kepada siapa pun, percintaannya dan perselingkuhannya dengan Zsu Mei. Ia mencintai wanita cantik itu saat masih gadis belia dan tak pernah luntur sampai ajal menjauhkan kekasihnya dari dekapannya.Dia melihat panah nancap di pundak kekasihnya. Dia melihat tongkat yang nancap di d**a kekasihnya, d**a yang sering dibelai dan dikecupnya. Dia mendengar kembali seruan kekasihnya. "Sima Yi pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu." Kemudian seruan yang kedua, "Pergi Kak Sima Yi, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah."
Ketika dia melesat pergi dia masih menoleh ke belakang. Dia melihat Ma Chao menghantam kepala Jiu Shan. Sekali lagi dia menoleh dan melihat tinju Ma Chao menghantam d**a Zsu Mei. Dia berlari sambil menangis. Dia menangis sepanjang tahun, dia sedih lantaran tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan perempuan yang dicintainya itu mati.
"Aku mencari-cari pembunuh ibumu itu. Tapi dia seperti hilang dari bumi. Semula dia berada di Kerajaan Shu, aku juga mencarinya di kuburan Chengdu tetapi tak pernah bisa menemukannya."
"Guru, kamu menyebut kuburan Chengdu, apakah dia si Iblis Chengdu yang bernama Ma Chao?"
"Benar, Ma Chao!"
"Baik, aku akan mencari balas, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa."
"Jiu Cien kamu tak boleh membalas dendam sekarang, itu sama dengan mengantar nyawamu, ilmunya sangat tinggi. Itu sebabnya kakek gurumu Yu Jin tidak memberitahumu tentang Ma Chao."
Jiu Cien tertawa lirih.
"Tetapi kamu telah memberitahu, terimakasih guru!"
"Jiu Cien, aku tadi kelepasan bicara Sebenarnya belum saatnya kuberitahu. Kamu harus janji padaku, jangan balas dendam sebelum ilmumu maju pesat. Berjanjilah!"
"Soal itu, aku tak bisa menjanjikan apa-apa, guru"
Jiu Cien melihat ada penyesalan di mata gurunya, dia bertanya lirih sambil memegang tangan gurunya. "Guru, kamu mencintai ibuku dan ibu mencintaimu, benarkah?"
Sima Yi terkejut. Bagaikan disambar petir. Dia gagap menjawab, "Kamu tahu? Dari mana kamu tahu?"
Jiu Cien tersenyum, menjawab dengan senyum "Aku pernah melihat kalian berdua memasuki goa itu."
"Kamu membuntuti kami? Lalu kamu memberitahu ayahmu?"
Melihat Jiu Cien menggeleng kepala, Sima Yi bertanya lagi, "Mengapa tidak lapor pada ayahmu?"
Jiu Cien menggeleng sambil senyum menggoda. "Itu biasa. Ayah dan ibu saling mencintai, jika tidak mana mungkin aku lahir. Ibu dan guru saling mencintai, jika tidak mana mungkin mau berduaan dan b******a di goa itu. Drupadi mencintai lima Pandawa sedangkan ibu mencintai dua pendekar, jadi kupikir itu hal yang biasa. Lagipula aku menyayangi ayah, ibu dan juga kamu guru"
Sima Yi memandang muridnya dengan kagum.
Dia melihat seorang muda yang jujur, cerdas dan berpikir jernih. Dia mengalihkan pembicaraan. "Kamu ingat, selain Ma Chao, juga Mi Fang mengeroyok Kakak Lu Xun. Dua musuh lainnya Pang Tong dan Sempai Chu membunuh Kakak Cao Tao dan Sepasang Iblis Chongging membunuh pamanmu."
Sepasang mata Jiu Cien memancarkan sinar penuh dendam. Tangannya terkepal, menahan amarah. Dia meyakinkan dirinya "Aku harus rajin berlatih, karena banyak hutang nyawa yang harus kutagih. Aku akan mencari kalian, Ma Chao, Mi Fang, Sempai Chu, Pang Tong, Iblis Chongging. Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa!"
-ooo0dw0ooo-
Yu Jin menghela napas, ia gundah. Sampai hari ini, duapuluh lima tahun berlalu, ia belum bisa menyelesaikan tugas yang diembankan Xiahou Dun padanya. Ia belum menemukan adik perguruan Guan Xing dan juga keturunan Nyonya Sucilin. Ia belum tahu bagaimana caranya bisa mendapatkan jurus pusaka Inti Naga Emas Pamungkas. Ia juga belum menemukan murid pengkhianat yang menabur racun pelemas tulang. Ia belum membalas dendam meski setiap mengingat tragedi berdarah itu, amarahnya berkobar. Cuma satu hal yang membuatnya senang, Jiu Cien telah menguasai seluruh ilmu yang dia ajarkan, duabelas jurus Naga Emas yang berintikan tenaga gama (amarah) dan tujuh jurus Naga Emas Pamungkas.
Hari itu setelah kejadian di reruntuhan rumah tua, Yu Jin menyerahkan Jiu Cien kepada Sima Yi untuk menyempurnakan ilmu andalan Huangshan, pukulan Big Bang dan ilmu ringan tubuh Jejak Kilat.
"Jiu Cien, ada dua murid kak Xiahou Dunyang selamat, namun entah berada di mana sekarang. Xun Yu, tak mungkin mencapai kesempurnaan ilmu lantaran cedera tenaga dalam. Jen Ting, ia seorang wanita sehingga kemajuannya terbatas. Mereka adalah adik perguruan ayah ibumu Dibanding keduanya, kamu calon paling kuat untuk menjadi ketua Partai Naga Emas. Tapi kamu harus berlatih keras. Ingat kamu harus temukan rahasia Inti Naga Emas Pamungkas yang berada di tangan keturunan Nyonya Sucilin, kamu gabung dengan tujuh jurus Naga Emas Pamungkas yang kuajarkan, maka Naga Emas Pamungkas akan sempurna dan menjadi jurus dahsyat, jurus yang menjadi pusaka perguruan kita. Kamu cari dan temukan pusaka itu!"