Yu Jin sebenarnya adalah kakek guru bagi Jiu Cien namun belakangan justru menjadi guru Orangtua Jiu Cien, Jiu Shan dan Zsu Mei, murid Xiahou Dun yakni kakak perguruan Yu Jin. Duapuluh lima tahun lalu, setelah menyelamatkan Jiu Cien dari kepungan pasukan Kerajaan Shu, Sima Yi menyerahkan Jiu Cien untuk dididik Yu Jin. Itu sebab Jiu Cien terbiasa memanggil Yu Jin dengan kakek meski terkadang menyebutnya guru Jika melihat hubungan lewat orangtuanya, Jiu Cien memang pantas memanggil kakek guru Tapi jika melihat bahwa selama duapuluh lima tahun Yu Jin mengajarinya ilmu, maka Jiu Cien boleh saja memanggil guru.
"Kakek, kau sudah seperti kakek sungguhan yang memelihara aku sejak kecil, kamu juga guruku, maka sudah kewajibanku melayani dan meladenimu Setelah selesai berlatih dengan guru Sima Yi aku akan mencarimu Tetapi guru, kamu kan masih ketua Partai Naga Emas, kenapa harus mencari ketua lain."
"Aku hanya ketua sementara, itu peraturan perguruan kita bahwa ketua hanya diturunkan dalam setiap generasi. Setelah Xiahou Dun dan aku, maka generasi berikut adalah generasi kamu, Xun Yu dan Jen Ting. Tapi sudah kukatakan tadi, kamu yang paling berbakat, cerdas dan memang sudah dipersiapkan sejak kecil oleh orangtua dan paman-pamanmu Hanya kamu harus berjuang dan berlatih keras untuk jabatan terhormat itu."
Jiu Cien merunduk. Malu-malu dia berkata lirih, "Aku belum tahu banyak asal-usul perguruan kita juga perihal Sepuh Sun Jian dan Nyonya Sucilin, siapa mereka?" dia melanjutkan. Inti Naga Emas Pamungkas itu apakah sedemikian hebatnya sehingga menjadi ilmu pusaka perguruan kita. Kek, cerita guru Sima Yi tentang pertarungan Sepuh Sun Jian di Luoyang itu, tentu beliau menggunakan jurus Inti Naga Emas Pamungkas."
"Benar. Itu sebab sangat penting untuk menemukan separuh Pamungkas itu, sebab tanpa jurus Inti Naga Emas Pamungkas yang utuh sempurna sulit bagi kamu menjadi pendekar utama dan mengangkat kembali nama dan citra Partai Naga Emas. Pergilah Jiu Cien, jangan ragu, lelaki sejati hanya punya satu tujuan hidup. Pandanganmu harus ke depan, jangan melihat belakang, jangan melihat samping, tetapi pandang ke depan, di situ tujuanmu ke situ kamu pergi Pergilah, gurumu Sima Yi sudah menantimu di luar. Ada satu yang penting, sekarang ini jangan mengaku murid Partai Naga Emas, sebab banyak musuh, aku yakin suatu waktu nanti kita semua akan bangga sebagai murid Partai Naga Emas saat di mana kita sudah memiliki seorang ketua yang ilmunya disegani banyak orang. Sekarang pergilah."
---ooo00ooo---
Daerah belahan Timur di kaki gunung t*i jarang dikunjungi orang. Hutannya rapat padat dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Pagi itu udara masih dingin. Kabut pun masih tebal. Suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Air terjun mencurah dari tempat yang cukup tinggi dan terjal. Curah air itu bagai tonggak langit, membentuk sungai yang airnya mengalir deras. Uap air menutupi pemandangan di sekitar air terjun, sehingga tidak terlihat adanya seorang lelaki sedang berlatih silat di pusaran air terjun. Dia Jiu Cien.
Jiu Cien bergerak lincah berloncatan di bebatuan. Sekali-sekali ia menerjang curah air yang bagaikan tembok tebal Menerobos tirai air yang deras, sepertinya ia tak mengalami kesulitan. Padahal air yang terjun dari tebing puluhan tongkat tingginya tentu sangat dahsyat kekuatannya. Ia berlatih seharian. Ketika matahari sudah bergeser ke Barat, senja semakin mendekat, Jiu Cien melompat ke sebuah batu Ia semedi di tengah uap air yang tebal, basah kuyup. Ia bertelanjang d**a, hanya mengenakan celana sebatas lutut.
Setelah berpisah dari Yu Jin, Sima Yi membawa Jiu Cien berlatih di air terjun. Satu minggu ia mengajarkan ilmunya, Sima Yi kemudian meninggalkan Jiu Cien. "Kamu tinggal membiasakan jurus-jurus itu menyatu dengan gerakanmu. Paling tidak kamu harus berlatih satu bulan lagi di sini. Dan aku tidak bisa menemanimu terus, aku harus pergi mencari Sepuh Sun Jian dan keturunan Nyonya Sucilin, jika ketemu, aku akan membawa kamuke sana. Sekarang kamu berlatih saja, setelah satu bulan berlatih, kamu boleh pergi mengembara ke mana kamu mau. Tetapi ingat pesan kakekmu Yu Jin, jangan memperkenalkan dirimu sebagai murid Partai Naga Emas."
Batas waktu satu bulan yang diberikan Sima Yi malah menantang Jiu Cien untuk menambah waktu latihannya. Dua bulan Jiu Cien berdiam di kaki gunung t*i. Meskipun tidak sehebat gurunya, tetapi Jiu Cien sudah menguasai ilmu ringan tubuh yang tidak ada duanya di kolong langit Jejak Kilat dan jurus tangan kosong Big Bang.
Ilmu andalan Sima Yi, yang diterimanya dari guru Yue Jin, pendekar dari gunung Huang. Setelah semedi, Jiu Cien bangkit lagi meneruskan latihannya.
Ia tidak melihat kehadiran seorang gadis di tepi sungai.
Gadis itu melangkah santai di tepi sungai. Ia duduk di sebuah batu di pinggir sungai Kakinya dijulurkan ke dalam air. Ia menjerit kecil, dinginnya air terasa nikmat. Ia berdiri sambil merentang tangan, menengadah memandang air terjun dan menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Ia tidak melihat Jiu Cien yang berada di dalam kumpulan uap air yang tebal.
Gadis itu masih berdiri di batu di tepi sungai merasakan sejuknya angin pegunungan. Wajahnya yang cantik basah dielus angin sepoi yang membawa serta uap air. Hidungnya yang bangir kembang kempis menghirup nafas panjang seakan hendak menelan semua udara basah itu ke dalam parunya. Udara itu dihembuskan dari mulutnya yang indah berbentuk gondewa. Lehernya yang jenjang tertutup rambut yang basah yang terjulai sampai di pundaknya. Ia seorang gadis muda usia sekitar duapuluh tahun, jangkung dengan kaki langsing dan agak panjang. Tubuhnya putih mulus, tampak langsing, sintal dan berisi. Ia benar-benar cantik alamiah.
Tak ada suara lain kecuali gemuruh air terjun dan suara binatang dari hutan sekitar. Mendadak terdengar suara tertawa keras diikuti kesiuran angin. Sosok bayangan bergerak pesat. Bagai turun dari langit seorang lelaki sudah berdiri di depan si gadis. Ia kurus, kepalanya botak. Kumis dan cambangnya lebat. Sikapnya kurang ajar. Matanya jelalatan menelusuri sekujur tubuh si gadis.
"Gadis cantik, Gadis cantik, sudah lama kubuntuti kamu Nah sekarang hanya kita berdua di tempat sunyi dan sepi ini. Bagaimana dengan lamaranku tempo hari, kamu jangan malu-malu, apalagi di sini kan tak ada orang, kali ini sudah tak sanggup menahan rindu."
Si gadis terkejut sesaat. Tetapi bagai tersentak ia lantas menyerang gencar. Dua jurus berturutan dilepasnya. "b*****t k*****t busuk, rupanya kamu belum mati waktu itu. Hari ini kubikin kamu menyesali hidupmu, matilah kamu b*****t!" Ia menyerang dengan serentetan pukulan dan tendangan yang mendatangkan angin keras pertanda besarnya tenaga yang digunakan.