Pertemuan Pertama

1052 Kata
Lelaki brewok itu tertawa. "Ajal belum mau mencabut nyawaku, Gadis cantik. Dewa maut itu berkata, ia baru akan mencabut nyawaku setelah aku mengawini kamu yang cantik dan montok. Sekarang saatnya aku mengawini dan menikmati tubuhmu, Gadis cantik" Gadis itu tidak meladeni omongan lawan. Ia terus mencecer dengan serangan dahsyat. Tetapi lelaki brewok itu berkelit lincah meskipun batu besar tempat ia berpijak, licin dan berlumut. Lelaki itu juga tak bisa berbuat banyak. Tampak ilmu keduanya imbang. Si gadis lebih unggul dalam ringan tubuh, namun masih kalah dalam tenaga pukulan. "Tak usah heran Gadis cantik, sekarang ilmu Kakak-mu ini, Tangchi, makin maju. Sengaja aku memperdalam ilmu dari Guru besar, supaya sebagai suami aku bisa meladeni kemauanmu tiap malam, iya kan Gadis cantik" Tigapuluh jurus berlalu. Perkelahian berlanjut ke dekat air terjun, namun masih di tepi sungai Keduanya basah kuyup, kecipratan uap air. Baju si gadis basah nempel ketat di tubuh memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Lelaki itu semakin terangsang. "Hai Gadis cantik, setahun kita berpisah, ternyata kamu semakin montok, setahun aku kasmaran memikirkan kamu, sekarang aku harus memiliki kamu Harus! Oh Gadis cantik, aku makin kasmaran." Dua kali tamparan menerpa bahu dan pundak Tangchi membuatnya meringis kesakitan. Mendadak ia mengubah jurus silatnya, "Gadis cantik, sudah cukup kita main-main." Berkata demikian ia menyambut pukulan si gadis dengan kepalan. Kalah tenaga dalam, si gadis tak mau adu pukulan. Ia mengubah jurus, kepalan berubah menjadi telapak tangan terbuka. Ia niat menampar pergelangan tangan lawan. Tiba-tiba si gadis melihat sinar gemerlap di tangan Tangchi Paku yang berkilat oleh matahari senja. Jarak sudah terlampau dekat, ia sulit menghindar. Si gadis dengan cerdik dan sebat menggerakkan pergelangan tangan ke bawah lalu ke atas, niat menyampok tangan lawan. Tangchi licik, ia sudah memikirkan perangkap ini. Ia membiarkan gerakan si gadis. Saat yang tepat ia menggentak telapak tangannya, dua paku melayang secepat kilat. Gadis itu tak pernah mengira lawan akan menyambit dengan paku. Ia mengelak, tetapi terlambat. Satu paku lolos, satu lainnya nancap di d**a dekat pundak. Tangchi berteriak girang, "Kena kamu Gadis cantik, dan ini paku berikutnya supaya kamu tak bisa lari. "Tiga paku melayang ke arah kaki. Si gadis mengelak dengan gerak tubuh limbung. Dua lolos, satu lainnya nancap di paha. "Tak usah takut Gadis cantik, itu memang paku racun laba-laba, tapi Kakak punya pemunahnya. Tanpa obat pemunah kamu akan mati dalam waktu satu hari. Sekarang, menyerah saja. Memang tidak enak mengawini orang pingsan, tetapi apa boleh buat daripada membiarkan kamu lolos lagi." Gadis itu merasa gerak kakinya agak kaku, rupanya racun sudali mulai bekerja. Sungguh cepat sekali proses kerja racun itu. Gadis berpikir lebih baik mati daripada diperkosa. "Aku adu jiwa denganmu, lebih baik aku mati, kamu b*****t biadab." Sambil berkata ia melancarkan dua jurus menyerang tanpa mempedulikan pertahanan lagi. Tujuannya cuma satu, membunuh lelaki bernama Tangchi itu. "Lebih baik mati daripada ternoda," gumamnya. Meski ilmunya setingkat, mau tak mau Tangchi terdesak hebat. Ia cuma bisa menangkis. Dua pukulan menghantam telak dadanya Terasa gejolak darah, rasanya mual. Ia tahu ia terluka dalam. Sebenarnya tak semudah itu ia terluka Keduanya imbang, si gadis sudah terluka kena paku beracun namun dengan serangan nekad justru kekuatannya berlipat. Di lain pihak Tangchi tarung setengah hati, tak mau menurunkan tangan maut. Lelaki brewok ini terhuyung limbung. Dadanya sakit, nafas sesak. Tapi ia tersenyum, dilihatnya si gadis ikut terhuyung sempoyongan. Racun sudah bekerja. "Ia segera akan jatuh tak berdaya," gumam Tangchi dengan menahan sakit di dadanya. Racun sudah bekerja. Gadis itu merasa pusing. Pandangannya berputar dan kabur. Ia menggigit bibirnya, "Aku tak boleh pingsan, aku harus tetap sadar." Pada saat kritis bagi si gadis, mendadak sebuah bayangan masuk pertarungan. "Laki-laki pengecut. Tidak pantas bertarung dengan perempuan, menggunakan cara membokong." Tanpa basa-basi Jiu Cien melancarkan jurus Banteng Besar dari Big Bang yang sudah sempurna ia kuasai. Hebat! Tangchi yang sudah terluka, kaget setengah mati, dia berupaya menangkis serangan Jiu Cien. Tetapi sia-sia, pukulan Jiu Cien menerpa bahunya. Ia kaget. Belum sempat ia bebenah diri, jurus susulan Jiu Cien Gorila Besar dari Big Bang telak menghajar perut dan lengannya. Tangchi muntah darah! Seketika nyalinya terbang. Gila! Hanya dalam dua jurus ia dihajar tanpa sempat membela diri. Lawan ini bisa membunuhnya. Ia tak berpikir dua kali lagi, ia kabur secepatnya. Ada alasan mengapa Jiu Cien begitu cepat memetik hasil, hanya dua jurus, Tangchi langsung terluka dan kabur. Pertama, Tangchi sudah terluka oleh pukulan si gadis. Kedua, Jiu Cien menyerang ganas tanpa memberi kesempatan. Ketiga, hebatnya jurus Big Bang yang baru selesai ia kuasai. Jiu Cien terpesona akan ilmunya tadi. Ia baru pertama kali menggunakan jurus ciptaan pendekar Huangshan dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari gerakannya bisa diukur bahwa lawannya tadi bukan sembarang orang namun toh bisa ia lukai dalam dua jurus. Saat itu Jiu Cien melihat si gadis sempoyongan. Sebelum terjungkal ke dalam sungai, Jiu Cien sigap menangkap lengannya. Mendadak gadis itu menyerangnya dengan pukulan ganas, mengarah mata. Jiu Cien terkesiap, sama sekali tak menduga akan diserang. Untung saja keracunan membuat pukulan si gadis tak bertenaga. Jiu Cien menangkis dengan tenaga ringan, takut si gadis terluka. Si gadis sempoyongan. Pingsan. Jiu Cien meraih pinggangnya, mendudukkannya di atas batu dengan hati-hati Ia menotok beberapa titik jalan darah di punggung dan leher. Gadis itu sadar. Ia berontak. Jiu Cien berkata lirih. "Nona, kamu tenang, aku bukan musuhmu, musuhmu yang tadi sudah kuusir pergi." Gadis itu masih mengigau, "Aku tak mau pingsan." Jiu Cien menjawab sambil menyalurkan tenaga dalam ke punggungnya. "Iya, kamu tak boleh pingsan, aku akan membantumu dengan tenaga dalam" Kesadaran si gadis mulai pulih. Ia mengerti bahwa orang yang berada di belakangnya sedang menolongnya. Tangchi sudah pergi. Mendadak ia merasa perutnya mual, pusingnya makin memabukkan. Ia ingat terkena serangan paku Tangchi "Aku, aku kena s*****a rahasia paku beracun, katanya racun laba-laba." Jiu Cien terkejut. Ia melompat ke depan si gadis. "Di mana ?" Gadis itu melihat samar-samar seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Ia menunjuk d**a dan pahanya. Ia sudah setengah sadar. Bibirnya pucat agak membiru Di bawah pelupuk matanya, agak gelap. Memegang nadi dan memandang mata si gadis, sekejap saja, Jiu Cien mengenal racun yang menyerang si gadis adalah racun ganas. "Ulurkan dua tanganmu" Katanya dalam nada memerintah. Gadis itu mengikuti perintahnya. Tanpa membuang waktu lagi Jiu Cien segera mengempos tenaga dalamnya. Tangannya bergetar penuh tenaga menempel tangan si gadis. Mereka duduk berhadapan di atas batu besar dekat air terjun. Keduanya saling menatap. Lalu Jiu Cien memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN