Racun Asmara

1023 Kata
Gadis itu merasa tenaga yang hangat menerobos tangannya. Tenaga itu berputar dan menyelusur seluruh tubuhnya. Tadi agak pusing kini ia merasa lebih baik. Tadi dia sangat berkeinginan untuk tidur, kini rasa kantuknya perlahan-lahan lenyap. Ia melihat darahnya yang warnanya hitam merembes keluar dari lukanya. Tidak lama kemudian s*****a semacam paku meloncat keluar dari luka di dadanya. Agak lama kemudian satu paku lagi terlempar keluar dari luka di pahanya. Diam-diam dia memuji hebatnya tenaga dalam laki- laki penolong ini. Gadis itu meneliti pemuda di hadapannya. Lelaki itu basah kuyup. Ia bertelanjang d**a, tampak bulu dadanya yang lebat. Wajahnya penuh keringat bercampur air sungai. Hidung besar agak bangir. Mulutnya lebar, bibirnya tipis. Tanda ia punya semangat tinggi dan agak kejam. Rambut setengah keriting, gondrong sampai leher. Alisnya tebal. Secara keseluruhan ia tidak tergolong tampan, tetapi punya daya tarik. Dan dengan tubuhnya yang kekar atletis, justru lebih nampak jantan. Jiu Cien membuka mata, si gadis menangkap seberkas sinar tajam. Ada kilatan yang membuat si gadis bergidik. "Orang ini kejam," pikirnya. Sesaat kemudian sinar mata itu kembali ramah dan penuh kedamaian. Ia mengubah penilaian dalam hatinya tadi, "Pemuda ini baik dan luhur budi". Tanpa terasa gadis itu merasa suka, "Terimakasih, pendekar, kamu telah menolong aku," katanya. "Tunggu dulu, nona, kau belum sembuh Racun masih mengeram dalam tubuhmu, berbahaya. Racun segera mengganas lagi jika tidak cepat ditolong, tetapi... bagaimana ya." "Kenapa? Katakan saja, aku tidak takut mati, tadi memang aku takut, aku takut diperkosa lelaki b***t itu. Kalau mati, aku tidak takut mati" "Bukan mati, tetapi kamu bisa lumpuh. Racun itu ganas, harus dikeluarkan dari tubuhmu, setelah itu kamu minum obat untuk membersihkan darahmu" "Bagaimana mengobatinya, apakah kamu bisa? Apakah kamu punya obatnya?" Saat itu si gadis merasa perutnya mual, "Aku mual, rasanya mau muntah." Saat berikutnya ia muntah. Lendir mengandung sedikit darah. Jiu Cien merasa serba salah. "Racun mulai mengganas. Aku bisa menolongmu, aku murid seorang ahli pengobatan, tetapi..." Gadis itu semakin bingung. "Katakan, apakah ada syarat untuk pertolonganmu? Katakan!" Wajah Jiu Cien memerah, agak tersinggung. "Kamu salah, nona. Aku menolongmu karena kebetulan ingin menolong, itu saja. Aku tidak minta apa-apa sebagai imbalan, tetapi aku khawatir kamu salah sangka. Soalnya aku harus mengisap darah dari luka kamu, dan luka itu ada di paha dan d**a" Waktu menyebut paha dan d**a, suara Jiu Cien rnenjadi lirih. "Tetapi kalau tidak ditolong, kamu bisa lumpuh atau mati." Wajah gadis ini memerah. Malu. Ia baru tahu mengapa pemuda itu kikuk. Lukanya tepat di perbatasan p******a dan bahu, untuk mengisap luka artinya pemuda itu harus meraba dan melihat buah dadanya. Luka di paha tempatnya sejengkal di atas lutut. Ini juga daerah tersembunyi dari kaum wanita. Ia berpikir, "Jika lelaki ini tidak datang menolong tentu aku sudah diperkosa Tangchi, dan sudah tentu harganya jauh lebih mahal dibanding harus mati. Tetapi memperlihatkan bagian tubuh, itu juga perkara besar, aku bisa malu setiap ketemu dia." Mendadak suara Jiu Cien terdengar tegas. "Cepat ambil keputusan nona, terlambat sedikit saja, akan semakin sulit menolongmu" "Keputusan apa?" "Mau ditolong atau tidak?" "Mau, aku mau ditolong." "Tetapi aku harus mengisap lukamu, tidak ada jalan lain." "Kalau begitu kerjakan cepat." Gadis itu menutup mata. Jiu Cien berkata, "Maaf, aku harus membopongmu ke bawah pohon." Ia menyambar tubuh si gadis, melarikan ke tepi hutan. Senja sudah mulai beralih ke malam. Gadis itu bersandar di pangkal pohon, tangannya meraba baju di bagian d**a, merobeknya sedikit, Ia menunjuk tempat luka di dadanya, "Lakukan, tepat di sini lukanya." Jiu Cien menoreh luka dengan belati milik si gadis. Tangannya gemetar memegang bagian dekat b*******a, menempelkan mulutnya ke bagian yang terluka kemudian mengisap darahnya. Aroma keringat tubuh gadis itu dan bentuk buah dadanya yang montok kencang membuat perasaan Jiu Cien menjadi tidak karuan. Jiu Cien memantapkan pikirannya, mengisap dan menyemburkan darah warna hitam dan bau racun. Dia lakukan itu berulang kali sampai darah beracun itu lenyap berganti darah merah normal. Jiu Cien memegang tangan si gadis, "Kau pijat dan urut di bagian ini, supaya sisa-sisa racun keluar semuanya." Gadis itu memejam mata. "Lakukan sendiri, kamu lebih tahu caranya, toh kamu sudah melihat semuanya, buat apa aku harus malu-malu lagi. Lakukan saja, eh siapa namamu pendekar." Jiu Cien tanpa sadar menjawab, "Fei Hung." Jiu Cien saat itu sedang menahan gelora birahinya. Ia menyebut asal sebut. Fei Hung. "Aku sedang melayang di angkasa, memegang dan mengurut luka di bagian b*******a yang kenyal ini," katanya dalam hati. Gadis itu sedang memejam mata. "Namaku Meishin." Ia berdiam Nafasnya mulai terasa panas. Meishin mulai terangsang b****i Ia berusaha memikirkan hal lain untuk mengalihkan pikiran. Tiba-tiba Jiu Cien berbisik, "Sudah selesai, kamu tunggu di sini, aku mencari rumput obat, sebelum hari gelap." Meishin melihat lelaki itu pergi. Hari memang sudah hampir gelap. Tak lama lagi malam akan tiba. Meishin memejamkan mata. Bagian paling sulit telah dilaluinya. Ia masih merasa mukanya panas, nafasnya juga panas. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang. Ia masih membayangkan wajah pemuda penolong itu. "Namanya Fei Hung, orangnya lugu, tidak tampan, tetapi kelihatan jantan, perkasa." Tanpa sadar Meishin meraba lukanya, seakan mulut yang panas itu masih menempel di situ dan tangan itu masih menekan buah dadanya. Dia mencoba mengusir wajah Fei Hung dengan menghadirkan wajah pria lain, wajah seorang lelaki berusia limapuluhan. "Kakak Xun Yu, di mana kamu sekarang, apakah kamu tidak rindu kepada adikmu ini?" bisiknya dalam hati. Tetapi sia-sia, sesaat kemudian wajah Jiu Cien hadir kembali mengusir wajah lelaki tadi. Meishin menggumam "Untung saja tadi aku belum nyebur mandi, kalau tidak, wuah apa jadinya." Tiba-tiba saja ia teringat seseorang, muncul wajah lelaki botak, brewok dan berkumis lebat. Tangchi! Tanpa sadar ia berseru "Laki-laki b***t, aku akan mencarimu, kamu harus membayar perbuatanmu Tak ada ampun, aku akan menggunakan segala macam cara untuk membunuhmu" Ia bicara sendiri untuk mengusir bayangan Jiu Cien. Tak sampai sepenanakan nasi, saat malam sudah mulai gelap, Jiu Cien muncul. "Aku agak sulit menemukan rumput yang dua jenis, tetapi untunglah masih bisa kutemukan. Ini kamu kunyah, airnya kautelan, ampasnya kamu balur di luka. Sekarang aku akan mengisap luka di pahamu" Tanpa disengaja dua pasang mata saling menatap. Hutan sudah mulai gelap namun keduanya merasa rikuh, jantung berdegup kencang. Ada perasaan tersembunyi yang dirasakan keduanya. Jiu Cien mengalihkan bicara, "Aku akan mengobati luka di pahamu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN