Berkata demikian, ia merobek celana di batas paha, mengisap lukanya. Seperti cara mengobati luka di d**a, setelah menyedot darah beracun, ia melabur dengan obat dedaunan. "Fei Hung, kau mahir dalam ilmu pengobatan dan juga ilmu, tentu gurumu bukan sembarang orang. Dia pasti pendekar bernama besar."
Jiu Cien merasa gugup. Ia masih terpesona setelah memegang paha mulus yang kenyal berotot. Ia berupaya mengendalikan birahinya. "Iya," jawabnya sembarangan.
"Siapa nama gurumu yang hebat, kalau aku boleh tahu." Tanpa sadar Meishin membekap mulutnya. Ia merasa kelepasan bertanya. Pada jaman itu, pergaulan di dunia pendekar tidak terikat norma adat istiadat bahkan juga aturan agama, hubungan intim lelaki dan wanita bisa terjadi begitu saja.
Tetapi menanyakan guru seseorang yang baru dikenal adalah pertanyaan yang janggal dan aneh, bahkan agak tabu "Maaf, tak sengaja," katanya.
"Tidak apa-apa, nona." Mendadak Jiu Cien ingat pesan Yu Jin. "Jangan sembarangan memperkenalkan diri, jangan juga memperlihatkan ilmumu. Ingat Partai Naga Emas banyak diintai musuh gelap, musuh yang kita sendiri tidak tahu."
Tetapi Jiu Cien tak mau mengecewakan si gadis, apalagi si gadis merasa bersalah menanyakan hal yang buat sebagian orang, masih tabu "Ilmuku ini kuperoleh dari seorang pendekar aneh, namanya Cao Pi. Kamu pasti tak pernah tahu nama itu sebab memang guruku tak pernah muncul di muka umum"
Ia memang tidak berbohong. Cao Pi, memang gurunya, seorang tabib ahli pengobatan di istana Kerajaan Wei. Ia mengajar Jiu Cien ilmu pengobatan, meramu dan meminumkan obat padanya sejak bayi. Itu sebab ketika dewasa, darahnya mengandung kekuatan anti racun. Karenanya Jiu Cien tidak merasa takut mengisap darah beracun dari luka Meishin.
Cao Pi memang tidak terkenal. Tetapi apa yang diajarkan belakangan baru diketahui sebagai ilmu pengobatan kelas atas. "Kamu sendiri berasal dari perguruan mana?"
Meishin merasa rikuh. Ia sedang menyembunyikan jati diri. "Seorang kakek pertapa dari desa Henan, ia yang mengajari ilmu padaku." Ia tidak berbohong, ia belajar ilmu dari pertapa itu. Tetapi yang tidak ia ceritakan, adalah bahwa ia murid dari Partai Naga Emas.
Suasana menjadi rikuh dan kaku. Dia menyodorkan ramuan, rumput dan daun-daunan. "Nona, kamu sudah tahu menggunakan obat ini, dua lembar daun bersama satu kumpulan rumput, kamu kunyah, airnya kamu telan dan ampasnya labur ke lukamu Ia akan membersihkan sisa-sisa racun jikalau memang masih ada."
Selesai menolong si gadis, Jiu Cien berpikir untuk pergi. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi langkahnya. Ia tak tahu apa sebabnya. Namun sepertinya ia merasa berat meninggalkan gadis bernama Meishin itu, atau lebih tepatnya ia merasa enggan berpisah.
Tampaknya Meishin merasakan hal yang sama, ada rasa enggan berpisah. "Setelah ini, setelah selesai menolong mengobati aku, apakah dia akan pergi begitu saja?" Pertanyaan ini dijawabnya sendiri. "Ya tentu saja dia harus pergi, mungkin dia punya urusan yang harus ia selesaikan, sedang di sini tak ada lagi yang harus diperbuatnya, dia sudah selesai menolong aku, tetapi kenapa dia harus pergi?" Berpikir begitu wajah Meishin memerah. Ia malu. Dalam hatinya ia berharap, lelaki itu tetap di sini, menemaninya.
Meishin segera sadar dari pengembaraan pikirannya, mendengar suara Jiu Cien. "Nona, seharusnya aku pergi sekarang, tetapi kata guruku, menolong orang itu harus sampai tuntas. Kamu memang sudah sembuh dari keracunan, namun tenaga dalam belum pulih, paling tidak kamu butuh dua hari lagi untuk memulihkan tenagamu Aku khawatir musuhmu akan kembali lagi. Apalagi hari sudah gelap, jadi kupikir aku akan temani kamu sampai besok pagi, asal kamu tidak keberatan dan tidak curiga padaku."
Meishin hampir berteriak saking gembiranya. Untung saja karena hari sudah gelap, air mukanya yang girang tidak terlihat. Namun tetap saja Meishin merasa malu. "Fei Hung aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu Jika kamu tidak datang, entah apa jadinya aku diperlakukan penjahat b***t tadi. Terimakasih kamu telah mengobati lukaku dan juga bersedia menemani aku, tetapi apakah tidak mengganggu perjalananmu?"
"Ah tidak, aku tidak terburu waktu. Tak ada sesuatu yang harus kukerjakan dengan segera. Aku bisa menemanimu sepanjang kamu tidak keberatan. Lagipula pertemuan Wuwei masih lama, masih ada waktu lima atau enam purnama lagi."
Meishin memandang lekat lelaki di hadapannya. "Terus terang saja aku sangat menyukai lelaki ini, apakah aku sudah jatuh cinta? Begitu mudahnya, padahal baru pertama kali jumpa?" Pikiran ini membuat wajahnya memerah. Ia merunduk malu. Tiba-tiba ia melihat baju di bagian dadanya robek, hampir separuh payudaranya nyembul keluar. Ia ingin menutup dengan tangannya. Tetapi batal, biarlah, toh lelaki itu sudah melihatnya. "Apakah ia menyukai aku, jatuh cinta padaku?" Tanpa sadar ia membantah pikirannya tadi, kata-katanya keluar begitu saja, "Gila, mana mungkin!"
Jiu Cien terkejut. "Apanya yang gila?"
Meishin juga terkejut. "Tidak, aku tadi mendengar kamu hendak pergi ke Wuwei, benarkah? Sebab aku juga bertujuan yang sama, ke Wuwei?" Kata-kata itu meluncur begitu saja. Meishin menatap tajam mata lelaki itu.
Jiu Cien kaget melihat sinar mata si gadis yang begitu tajam, berkilat di tengah gelapnya malam "Aku memang mau ke Wuwei, benarkah Meishin, kamu juga mau ke sana?
Mendadak Meishin merasa malu. Itu pertama kali lelaki itu menyebut nama Meishin. Dan nama itu diucapkan dengan lancar, seperti sudah akrab. "Aku memang mau ke Wuwei, apakah kau diundang ke pertemuan itu?"
"Diundang? Aku bukan pendekar yang dikenal orang, siapa yang mau mengundang aku, tetapi Meishin apakah semua yang hadir harus orang yang diundang artinya yang tidak diundang tak boleh hadir. Apakah kamu juga diundang, Meishin?"
Hatinya berbunga-bunga. Dua kali sudah namanya disebut begitu akrabnya. "Tidak. Aku tidak diundang, aku juga bukan pendekar terkenal, kalau aku hebat tentu tidak akan terluka sampai begini. Aku mendengar omongan orang, pertemuan Wuwei boleh dihadiri oleh semua orang, tetapi perguruan itu hanya melayani makan minum dan nginap bagi mereka yang diundang. Artinya bagi yang tidak diundang, ya bawa makanan sendiri."
Jiu Cien diam. Meishin memecah kesunyian "Fei Hung, hari sudah gelap, apakah tidak lebih baik jika kita menyalakan api." Meishin terkejut dengan dirinya sendiri, menyebut nama lelaki itu begitu saja, seperti sudah akrab.
Namun Jiu Cien tidak memerhatikan perubahan sebutan itu. "Kamu benar. Kita memang harus mencari tempat untuk tidur. Di situ di balik air terjun ada sebuah goa, aku sudah menempatinya selama beberapa hari. Kita ke sana saja, ayo."
Meishin berdiri, agak lemas ia melangkah tertatih-tatih. Jiu Cien tersenyum, menggoda. "Kelihatannya kamu sulit melangkah, kamu masih luka dan tenaga belum pulih. Biar aku papah saja." Jiu Cien membawa tangan Meishin ke pundaknya, sedang tangannya memeluk pinggang si gadis. Tiba-tiba Meishin berteriak pelan. Rupanya buah dadanya yang masih belum sembuh menimbulkan rasa sakit ketika bersinggungan dengan tubuh Jiu Cien. Lelaki itu berpindah, kini Meishin di kanan. Tetapi Meishin juga kesakitan ketika pahanya bersinggungan dengan paha Jiu Cien.