Kecantikan yang mempesona

975 Kata
Jiu Cien mengeluh, "Meishin, kamu tak bisa dipapah, dadamu luka di bagian kanan, pahamu luka di bagian kiri, bagaimanapun juga akan tetap bersinggungan dan akan sakit. Kalau kamu jalan pelan begini, mungkin besok pagi baru sampai di goa, aku bopong saja, mau?" Godaan Jiu Cien memperoleh sambutan. Gadis itu tertawa senang. "Kalau mau membopong aku, bopong saja, tidak perlu pura-pura bertanya?" Tidak menunggu lagi, Jiu Cien menyambar tubuh Meishin. Membopongnya ke air terjun Keduanya sama merasakan adanya kesenangan dalam persinggungan tubuh. Tanpa sadar Meishin merapat tubuhnya ke d**a Jiu Cien. Lelaki ini memeluk erat. Ada perasaan bahagia nyelip di hati dua insan itu. Tanpa sadar Meishin memeluk d**a Jiu Cien, berbisik, "Aku tak bisa berenang." Jiu Cien memindahkan Meishin di punggungnya. Ia merasakan d**a Meishin yang lunak menghimpit punggungnya. Meishin merasa luka dadanya sakit, tetapi kini ia diam. Tangannya melingkar erat di leher Jiu Cien. "Tahan napasmu, kita akan menyelam," teriak Jiu Cien di antara gemuruh suara air terjun. Goa itu cukup besar. Selama dua bulan berlatih di air terjun, Jiu Cien telah membersihkan goa itu. Tadinya basah, lembab dan kumuh, Jiu Cien menjadikannya tempat tinggal yang bersih dan nyaman. Ada tumpukan kayu kering untuk menghangatkan tubuh. Ada obor damar untuk penerangan. Ada tumpukan jerami di atas papan dirancang untuk tempat tidur. Ia menyalakan obor. Cahaya obor menerangi goa, samar- samar. Jiu Cien menatap Meishin. Lekuk dan liuk tubuh gadis itu tampak jelas, pinggangnya yang kecil ramping, buah dadanya yang montok dan pinggulnya yang semok, membentuk bayangan indah. Jiu Cien tadinya sudah tahu Meishin seorang gadis muda yang cantik. Namun di goa ini, segalanya makin jelas. Meishin ibarat seorang dewi dengan kecantikan yang membuat lelaki mana pun bisa mabuk kepayang. Mendadak saja Meishin berseru "Fei Hung, bajuku basah kuyup, tadi gara-gara lelaki k*****t itu, buntalan pakaianku jatuh dan hilang di sungai. Sekarang aku perlu api unggun untuk mengeringkan baju ini." Jiu Cien tersadar dari lamunan dan perhatiannya pada tubuh molek Meishin. "Aku punya beberapa baju di sini, kamu boleh pakai salah satunya, sedang kepunyaanmu bisa dikeringkan. Kau mau?" Gadis itu mengangguk. Jiu Cien menuju pojokan goa, membuka buntalan dan mengeluarkan celana panjang sebatas lutut dan baju dari kain kasar. Meishin mencium pakaian itu, teruar bebauan lelaki seperti bau yang diciumnya waktu Jiu Cien mengisap darah dari luka di dadanya. "Kamu balik badan, jangan lihat, aku mau ganti baju." Jiu Cien memalingkan tubuh, ia tidak melihat namun pikirannya seakan bisa melihat tubuh Meishin. Ia membayangkan tubuh molek gadis itu. Untuk menghilangkan pikiran liarnya, Jiu Cien berkata, "Meishin, kamu pasti sudah lapar, aku juga lapar, kamu tunggu di sini, aku akan cari makanan untuk santap malam" "Hei, kamu pergi ke mana, aku tak mau sendirian di sini." "Aku tidak jauh dan tidak lama. Mau menangkap ikan, diluar." Tak lama kemudian Jiu Cien kembali ke dalam goa membawa enam ekor ikan yang besarnya setelapak tangan. "Kamu makan ikan ini, bagus untuk memulihkan tenagamu" Jiu Cien memerhatikan. Meishin sudah ganti baju. Ia mengenakan baju milik Jiu Cien. Tubuhnya lebih kecil, maka pakaian itu nampak besar dan kedodoran. Meishin tertawa melihat Jiu Cien memerhatikan pakaiannya. "Pakaianmu besar, lihat, aku kelihatan kecil." Meishin meraut sepotong ranting dengan pisau kecilnya. Jiu Cien memerhatikan. "Mau kau panggang ikannya?" Meishin mengangguk. "Jangan, Meishin. Maksudku tadi, kamu makan mentah-mentah saja, rasanya enak, manis dan segar." Meishin memandang Jiu Cien dengan perasaan geli. "Aku belum pernah makan ikan mentah, amis." "Namanya, ikan marong. Khasiatnya merangsang tubuh memperbanyak darah. Kamu banyak kehilangan darah, itu sebab kamu lemas dan untuk memulihkan tenagamu biasanya perlu waktu cukup lama. Kalau ikan itu kau masak, khasiat ikan marong itu akan hilang. Coba dulu, enak dan segar!" Jiu Cien memberi contoh. Ia mencomot seekor, melahapnya dengan enak. Darah ikan meleleh dari mulutnya. Sudah dua bulan berlatih di air terjun, setiap hari Jiu Cien melahap ikan marong. Meishin nyengir melihat Jiu Cien melahap ikan. Hati-hati dia membawa ikan itu ke mulutnya. Digigitnya dengan enggan. Rasanya enak. Manis dan hangat. Meishin tertawa, Jiu Cien pun tertawa. Ia merasa perutnya hangat Tanpa malu-malu, saking laparnya, ia tertawa lepas sambil melahap tiga ekor ikan. Jiu Cien terpesona memandang wajah Meishin yang tampak cantik saat tertawa tadi. Cahaya api unggun yang agak redup, sudah cukup untuk menonjolkan kecantikan alamiah itu. Tanpa sadar Jiu Cien menghela nafas. "Kenapa kamu ?" tanya Meishin. Jiu Cien terkejut. Seakan ia takut isi pikirannya terbaca Meishin. Ia menggeleng kepala. "Tidak ada apa-apa. Tidurlah. Aku akan menjagamu." Meishin merebahkan diri di tumpukan jerami dekat api unggun. Baju Jiu Cien yang dikenakannya terlalu besar, menyembunyikan semua keindahan tubuhnya. Tak lama kemudian ia tertidur. Nafasnya teratur. Lama Jiu Cien meneliti wajah cantik itu. Bulu matanya lentik, sepasang matanya agak sipit, alis mata yang juga tipis. Hidungnya bangir dan mungil. Mulutnya berukuran sedang berbentuk busur gendewa dengan bibir penuh dan tebal. Cantik, sangat cantik. "Ia jujur dan polos, buktinya ia percaya kepadaku, orang yang baru dikenalnya. Ia masih muda dan cantik, alangkah bahagianya aku seandainya bisa menyuntingnya menjadi isteri," bisiknya dalam hati. Tiba-tiba saja sepasang mata Meishin terbuka, menatap Jiu Cien dengan sinar yang teduh. Ia tersenyum kemudian merapatkan mata lagi. "Kamu suka memandangi aku," katanya. Jiu Cien tidak tahu apakah gadis itu sedang bermimpi atau dalam keadaan sadar. "Iya Meishin, aku suka menikmati kecantikanmu" Sambil menjawab, Jiu Cien melompat ke ayunan yang membentang tegang dari dinding ke dinding lain. Ayunan itu terbuat dari kulit pohon yang keras dan kasar. Ia biasa tidur di ayunan. Pada mulanya ia hampir tak bisa bergerak, sebab begitu bergerak, ia langsung jatuh. Lama kelamaan ia bahkan bisa tidur lelap. Itu memang cara melatih ilmu ringan tubuh Jejak Kilat. Sejak mewarisi ilmu itu Jiu Cien selalu tidur di atas ayunan atau dahan pohon. Untuk menguasai Jejak Kilat seseorang harus bisa menyatukan antara syaraf otak, batin dan jasad kasar. Karenanya keseimbangan tubuh harus tetap terpelihara meskipun saat tidur, misalnya. Itu sebab siapa yang sedang memperdalam Jejak Kilat harus tidur di atas pohon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN