Asmara 2 Insan

744 Kata
Keesokan pagi, Jiu Cien terbangun. Ia tak melihat Meishin di tempatnya. Matanya mencari-cari ketika telinganya mendengar suara. Di antara gemuruh air terjun, ada suara lain. Ia mendengar kecipak air dan lantunan syair wanita. Suaranya merdu, suara Meishin. Diam-diam ia menuju pintu goa. Di mulut goa, di balik air terjun, terdapat kolam. Air kolam beriak dan berkecipak. Pagi itu kolam terselimuti kabut dan uap air. Jiu Cien melihat samar-samar tubuh t*******g Meishin yang berenang kian kemari. "Oh, kemarin itu, ia pura-pura tidak bisa berenang, supaya aku menggendongnya. Nyatanya dia mahir berenang." Jiu Cien mengintip dan melahap sepuasnya tubuh molek Meishin Kulit putih mulus yang begitu indahnya. "Fei Hung, kalau sudah puas ngintip, tolong kamu ambilkan kain sarung milikmu itu," katanya dengan suara cekikikan. Jiu Cien ikut tertawa. "Meishin, kamu cantik dan tubuhmu indah." Keduanya duduk di mulut goa sambil melahap ikan marong. Pagi itu matahari bersinar garang. Sinarnya memantul menembus tirai air terjun menerangi goa. Goa itu terasa hangat. Meishin menyukai goa tersembunyi ini. "Eh Fei Hung, kalau kita hendak keluar goa, bagaimana caranya supaya pakaian tidak basah?" "Tidak ada jalan lain kecuali berenang. Kamu harus berenang dengan berpakaian, kemudian mengeringkan pakaianmu di panas matahari. Bisa juga kau berenang t*******g, membungkus pakaianmu supaya tidak basah." Meishin termenung. Jiu Cien memandang wajah cantik itu. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, pertemuan Wuwei "Meishin, dalam percakapan kita yang lalu, tampaknya kau banyak mengetahui tentang pertemuan Wuwei. Aku tidak tahu maksud pertemuan itu, tetapi aku mendengar omongan orang, pertemuan itu akan dihadiri banyak pendekar dengan ilmu yang tinggi. Apa tujuan dan maksud pertemuan itu?" Belum lama berselang tersiar berita ke semua penjuru dunia kependekaran dataran tengah, bahwa akan ada pertemuan besar di perguruan Wuwei pada hari pertama bulan depan. Undangan sudah disebar ke semua pendekar kelas utama dataran tengah. Semua diundang, tidak peduli apakah dari golongan putih atau golongan hitam. Pertemuan itu untuk menentukan dan memilih lima pendekar paling jago di dataran tengah yang akan mewakili dataran tengah menghadapi tantangan para pendekar Himalaya. Lima pendekar dataran tengah lawan lima jagoan Himalaya, pada tengah bulan, empatpuluh lima hari setelah pertemuan di Wuwei. Asal muasal tantangan itu menurut cerita dari mulut ke mulut, lantaran orang-orang Himalaya menuduh para pendekar dataran tengah bertanggungjawab membunuh dan merampok sekelompok pedagang Himalaya. Rombongan pedagang Himalaya dirampok, tujuhbelas orang Himalaya dibunuh, hanya empat orang yang lolos. Mereka yang lolos pulang membawa berita ke Himalaya. Di antara yang mati, salah seorangnya adalah pendekar muda, putra tunggal pendekar yang paling dihormati dan disegani di Himalaya, India. Ladalinu. Sampai sekarang ini, para pelaku perampokan dan pembunuhan itu belum ketahuan, siapa dan dari kelompok mana. Lantaran tidak tahu kepada siapa harus menuntut tanggngjawab dan membalas dendam, maka orang-orang Himalaya melayangkan surat tantangan. Perjanjian yang disertakan cukup sederhana, jika para pendekar Himalaya kalah, maka urusan selesai sampai di situ. Jika Himalaya menang, maka semua pendekar dataran tengah harus mencari dan menemukan pelakunya kemudian menyerahkan kepada pihak Himalaya untuk diadili. Selama gadis itu bercerita, Jiu Cien tak sesaat pun melepas pandangan dari kecantikan yang terpampang di depan matanya. Cara gadis itu bertutur melalui gerak mulutnya yang indah membuat Jiu Cien semakin terpesona. Meishin selesai bertutur, ia menegur Jiu Cien. "Hei, kenapa kamu memandangi aku terus-terusan?" "Kamu cantik Meishin, aku menyukaimu, aku, aku mencintaimu" Meishin terkejut. Tidak menduga kalimat itu keluar dari mulut Jiu Cien. Ia terpana memandang lelaki di hadapannya itu. Ia tidak bisa berkata-kata, mulutnya seakan terkunci. Ia diam saja, ketika tangan Jiu Cien yang kekar memeluknya. "Meishin, kenapa kau diam?" Jiu Cien memegang dagunya, menatap matanya. Meishin memejam mata, malu. Jiu Cien mengecup bibirnya. Gadis itu diam tak bereaksi, saat berikut Meishin bernafsu. Ia memegang kepala dan menjakak rambut Jiu Cien. Mulutnya yang tadinya diam, berubah liar. Nafas kedua insan itu semakin panas. Keduanya bergumul bergulingan di lantai goa. Tangan Jiu Cien merambah ke seluruh tubuhnya. Meishin terengah-engah, mendadak ia mendorong tubuh Jiu Cien, melepaskan diri dari pelukan. Jiu Cien terengah-engah menahan b****i, bertanya, "Kenapa, kamu tidak suka ?" Masih terengah-engah, Meishin tertawa. "Kamu bodoh, apakah barusan tadi itu tandanya aku tidak suka atau tandanya aku suka?" Jiu Cien memeluk Meishin, menciumnya lagi. Meishin merapatkan tubuhnya, balas mencium dengan bernafsu. Sesaat kemudian ia melepaskan diri. "Fei Hung, jangan sekarang, lukaku masih sakit. Terutama luka di bagian d**a. Lukanya belum kering." Ia tertawa sambil mendorong tubuh Jiu Cien. Lelaki ini memegang tangannya, sekali lagi ia menggumuli tubuh si gadis. "Jangan sekarang," kata Meishin. Ia berbisik di telinga Jiu Cien. "Tunggu tiga malam lagi, saat itu lukaku pasti sudah kering, tidak perih lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN