Pintu kamar terbuka perlahan. Yu Jin mendorong. Dia menerobos masuk, mendapatkan Xiahou Dun bersandar di dinding dekat pintu.
Yu Jin memeluk Xiahou Dun, "Kakak, oh, untung kamu masih hidup." Dia merasakan tubuh Xiahou Dun dingin. Dari luar tidak terlihat adanya luka.
"Kakak, kau luka dalam? Kakak Wei Hu mati, perguruan hancur, banyak murid mati, perbuatan siapa Kakak, apa benar pasukan Liu Bei?"
Xiahou Dun luka parah, tenaga intinya musnah kena pukulan Takadagawe. Dia tak mungkin pulih bahkan ajalnya sudah merapat. Tetapi ia masih sempat menceritakan kehancuran Partai Naga Emas. Ada pengkhianat dalam perguruan, semua murid dari yang rendah sampai murid utama bahkan Xiahou Dun dan Wei Hu pun terkecoh. Air minum dalam gudang diracun dengan racun pelemas tulang. Itu sebab, para penyerbu tak menemukan perlawanan berarti. Xiahou Dun menyebut nama para penyerbu antara lain pendekar kosen dari Hiimalaya Takadagawe, Mi Fang, Sepasang Chongging, Sempai Chu, Wita Chung, Palot, Ma Chao, Pang Tong.
"Seharusnya aku ikut tarung sampai mati, itulah kehormatan bagi seorang pendekar, tetapi Wei Hu memaksa aku sembunyi di kamar rahasia ini dan sebisa mungkin bertahan hidup untuk menyampaikan tragedi ini kepada kamu dan Guan Xing. Dia yakin kalian akan datang meskipun terlambat. Ternyata harapannya terpenuhi, kau datang tepat saat ajalku sudah dekat."
Xiahou Dun berpesan bahwa Yu Jin harus menjabat ketua Partai Naga Emas sampai menemukan seorang murid yang tepat dan layak sebagai ketua penerus. Dua tugas lain, menemukan ilmu pusaka Inti Naga Emas Pamungkas yang konon rahasianya dipegang keturunan Nyonya Sucilin.
"Kamu harus temukan murid pengkhianat iiu, selanjutnya masa depan perguruan ada di tanganmu"
Sebelum mati, Xiahou Dun sempat memberitahu kunci kamar rahasia.
Yu Jin melangkah lunglai keluar. Dia agak kaget melihat beberapa orang desa menghadang jalannya. Lalu seorang di antaranya membuka caping sambil memberi hormat. "Paman Yu Jin, terimalah hormat kami."
Yu Jin mengenalnya, dia Diaochan, murid langsung kakaknya Wei Hu. Semuanya enam orang. Diaochan dan Siaochan, keduanya murid Wei Hu Dua pemuda murid Jiu Shan yakni Gan Ning dan Gan Nung. Dua lainnya, Satrung, murid Yuan Shao dan Lan Yan, gadis kecil putri tunggal Yuan Shao.
Diaochan menceritakan pada malam menjelang serangan mematikan itu, beberapa murid yang keracunan disuruh pergi oleh guru ketua. Sekarang ini mereka hidup berpencar dan sementara menyamar sebagai orang desa. Mereka memberanikan diri kembali ke perguruan untuk menyelidiki keadaan. "Kami datang berniat mengubur teman-teman," katanya sendu.
Mendadak saja, Yu Jin berbisik, "Cepat sembunyi, ada orang datang!"
Terdengar suara derap kuda masuk pekarangan. Seorang laki-laki melompat turun. Sima Yi dan bocah berusia delapan tahun, Jiu Cien. Yu Jin mengenal Sima Yi, karenanya lantas keluar menemui Pertemuan cukup mengharukan, Sima Yi menceritakan apa yang dilihatnya di Luoyang. Dan mengapa dia bisa lolos dan menyelamatkan putra Jiu Shan.
"Aku sudah berjanji pada kedua orangtua Jiu Cien, bahwa aku harus kembali ke istana menyelamatkan Jiu Cien sebab istana bakal jatuh ke tangan musuh. Jiu Shan dan Zsu Mei tak mau anaknya menjadi tawanan atau dibunuh musuh. Demi persaudaraan aku rela menjadi pengecut hina yang lari dari medan perang. Itu pilihan yang sulit."
Terdengar suara Yu Jin menghibur. "Jangan menyesali apa yang sudah terjadi."
---ooo00ooo---