Syair Penakluk Langit

866 Kata
Berbarengan tangan kanannya digentak dengan tarikan dahsyat ke dadanya. Kuda-kuda Takadagawe gempur dan tubuhnya bergetar, terombang ambing didorong dan ditarik tenaga si jubah putih. Sesaat kemudian si jubah putih berkata lirih. "Ah tidak ada gunanya membunuh kamu, pulanglah ke negerimu, jangan pernah kembali lagi ke dataran tengah!" Dua tangannya seperti mengusir ayam, tetapi angin pukulannya membuat Takadagawe terpental ke belakang. Pendekar Himalaya itu muntah darah. Matanya melotot, dia sungguh tak percaya bahwa dia bisa kalah dan terluka sampai muntah darah. Dia berkata lirih dalam bahasa dataran tengah yang fasih, "Terimakasih, tuan sudah mengampuni jiwaku. Aku akan pulang ke Himalaya, tak akan datang lagi ke dataran tengah." Pendekar jubah putih tanpa menoleh meneruskan geraknya, melayang pergi begitu saja. Geraknya ringan seperti terbang. Hebatnya lagi, seluruh gerakan sejak awal sampai akhir, semua dalam satu gerak sinambungan yang harmonis dan mulus. Seperu tak ada paksaan dalam geraknya. Bagai terbang ia menuju ke bagian di mana Kaisar Cao Cao sedang dalam kepungan. Sepak terjangnya membuat para pengepung pontang- panting, ia membelah kumpulan manusia semudah menyibak air dalam kolam. Ia menggandeng lengan Kaisar kemudian berdua menerobos keluar, meloloskan diri. Semudah itu, bagaikan tak menemukan perlawanan. Ia masuk kepungan, menggandeng lengan Kaisar, menerobos keluar dengan mendendangkan Syair Penakluk Langit, syair yang kemudian menjadi populer dan dibincangkan orang di dunia kependekaran. "Aku datang dari balik kabut hitam Aku mengarungi samudera darah Akulah sang pengelana Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Kan kupecahkan wajah rembulan Dengan Syair Penakluk Langit, Tak ada lawan, Tak ada tandingan, Ilmu dari segala ilmu...!" Lu Xun dan Sima Yi terpesona oleh sepak terjang pendekar jubah putih itu. Siapa dia? Pada saat bersamaan, telinga Lu Xun mendengar kesiuran angin. Dia merunduk. Tongkat itu lewat di atas kepalanya, dia melihat Mi Fang dan beberapa pendekar lain meluruk ke arahnya. Sima Yi tak tinggal diam, dia bergerak cepat bagai siluman. Itulah Jejak Kilat tingkat paling tinggi. Tidak cuma bergerak dia juga menampar ke kanan kiri. Terdengar teriak kesakitan, tiga pendekar lawan memegang kepala kemudian roboh, mati, tanpa suara. Tapi satu mati, datang lima, mati dua muncul duapuluh. Sepertinya pasukan Kerajaan Shu tak pernah habis. Di pihak Kerajaan Wei, hanya beberapa gelintir yang masih bertahan. Jiu Shan dan Zsu Mei sudah bersimbah darah, keduanya masih melawan dan membunuh beberapa lawan. Ma Chao tertawa s***s seperti ringkik kuda, membuat sepasang suami isteri makin terdesak hebat. Sima Yi melayang hendak menolong. Tapi Zsu Mei justru berteriak keras padanya, "Sima Yi pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu" Pada saat itu juga sebatang tongkat nancap di d**a Zsu Mei. Mata Sima Yi membelalak. Perempuan itu berteriak lagi. "Pergi Kak Sima Yi, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah." Sima Yi melesat pergi, amarahnya meluap. Dia bagaikan terbang, menghajar siapa saja lawan yang menghadangnya. Dia melewati banyak mayat musuh, tapi dia juga menyaksikan teman-temannya mati satu per satu Cao Tao, Lu Xun, Lin Wa, Jiu Shan dan perempuan yang dicintainya. Dia meloloskan diri menuju istana, memenuhi janji dan ikrarnya untuk menyelamatkan putra kecintaan Zsu Mei. Sima Yi berlari sambil menangis. Tangis seorang pendekar tangguh. ---ooo00ooo--- Tanah Partai Naga Emas yang tadinya selalu ramai dengan latihan ilmu serta kegiatan bercocok tanam dan aktifitas lain, hari itu tampak porak poranda. Di sana sini mayat bergelimpangan. Tak ada sisa makhluk hidup. Kerbau, sapi, ayam, babi dan semua binatang ternak, mati Yang ada hanya burung pemakan bangkai, terbang melayang dan hinggap di sana-sini. Bau busuk mayat manusia dan bangkai binatang tercium di mana-mana. Yu Jin, adik seperguruan Xiahou Dun menerobos masuk pekarangan. Dia mendengar berita hancurnya Partai Naga Emas serta kekalahan pasukan Kerajaan Wei dalam perang Luoyang. Dia bergegas menuju Partai Naga Emas. Dia tiba di Partai Naga Emas tiga hari setelah serangan yang membumihanguskan perguruannya. Dia melihat berkeliling. Amarahnya meluap kesedihannya memuncak. "Hancur, semua hancur, tidak ada sisa," desisnya. Dia berlari ke sana kemari, berteriak memanggil orang. Suasana sepi, lengang, hanya terdengar gema suaranya memantul. Tak ada orang yang menjawab panggilannya. Ia memeriksa mayat-mayat. Banyak yang dikenalnya, banyak juga yang tak dikenalnya, pasti para penyerang. Semua murid mati dalam pertarungan, bekas darah kering tercecer di mana-mana. Dia tak merasakan sengatan terik mentari. Ia lari menuju kamar Xiahou Dun. Tertutup rapat. Tak mungkin bisa dibongkar atau dibuka dari luar. Selamanya hanya satu orang saja yang bisa membuka pintu rahasia itu dari luar, yakni ketua Partai Naga Emas, tak ada orang lain. Tiba-tiba matanya melihat mayat tertelungkup agak jauh dari pintu kamar. Ia menghampiri dengan jantung berdegup kencang. Ia membalik mayatnya. Yu Jin berteriak, "Kakak, Kakak Wei Hu!" Dia juga menemukan mayat Yuan Shao. Dua mayat itu sudah dingin, kaku dan berbau busuk. Yu Jin memeriksa di sekitarnya. Ia tak menemukan kakaknya, Xiahou Dun. "Kakak pasti ada di sini, aku tahu dia tidak ikut berperang di Luoyang. Ia masih di sini!" Tiba-tiba terlintas di benaknya, mungkin Xiahou Dun masih hidup dan berada di dalam kamar rahasia. Dia mengetuk pintu dengan pengerahan tenaga dalam, mengetuk dengan isyarat rahasia, "Kakak, Kakak, ini aku Yu Jin." Sesaat kemudian terdengar balasan dari dalam, ketukan yang tidak keras namun cukup jelas. Yu Jin gembira, pasti orang yang di dalam itu Xiahou Dun, tidak mungkin lain orang. Dia mengetuk lebih keras. "Kakak, buka pintunya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN