Perang Luoyang melibatkan ribuan serdadu di kedua pihak, Kerajaan Wei dan Kerajaan Shu. Adu strategi dan siasat. Pihak Kerajaan Wei mempersiapkan jebakan yang jika terlaksana akan menghancurkan pasukan Kerajaan Shu. Sayang ada pengkhianat yang membocorkan rahasia ini. Jebakan Kerajaan Wei itu akhirnya menjadi kuburan bagi pasukan Kerajaan Wei.
Semula diperkirakan jumlah pasukan Kerajaan Wei lebih banyak dan menggentarkan lawan. Kenyataan sebaliknya jumlah pasukan Kerajaan Shu lebih banyak karena pada saat-saat terakhir sebagian pasukan istana membelot dan bergabung dengan Kerajaan Shu. Tak heran dalam perang bubat itu, satu per satu prajurit dan Prajurit Kerajaan Wei gugur bersimbah darah. Tapi mereka pantang menyerah terutama orang-orang Partai Naga Emas. Para pendekar Partai Naga Emas itu merasa kematian sudah di ujung rambut, namun tak seorang pun yang melarikan diri. Lebih baik mati ketimbang lari dari medan perang.
"Kami boleh mati tapi tidak boleh terhina. Jika harus mati, kami akan menyeret banyak korban dari pihak lawan."
Di tengah arena perang Cao Tao dan para pendekar kepercayaan istana, bertarung mendampingi Kaisar Cao Cao. Seratus lebih prajurit dan Prajurit Kerajaan Shu mengepung raja Kerajaan Wei itu. Di antara kelompok pengepung itu, beberapa pendekar berilmu tinggi seperti Pang Tong, Palotai, Sempai Chu, Wita Chung, dan Baichan telah menutup ruang bagi Kaisar Cao Cao untuk lolos.
Tidak jauh dari tempat itu, Jiu Shan berdua isterinya bahu membahu bersama Lin Wa adu jiwa menghadapi Ma Chao, Iblis Chengdu, yang dibantu Sepasang Iblis Chongging dan belasan pendekar tangguh lainnya.
Di satu sudut medan Sima Yi dan Lu Xun terdesak oleh Takadagawe, pendekar Himalaya yang kosen itu. Jurus-jurus silat Takadagawe sangat aneh. Ditambah lagi dengan tenaga dalamnya yang begitu besar, tak heran jika Sima Yi dan Lu Xun terdesak hebat. Padahal dua pendekar itu tergolong pendekar kelas utama dataran tengah.
Sima Yi, murid tunggal Yue Jin, dari gunung Huang. Ia memiliki ilmu ringan tubuh Jejak Kilat yang kesohor kehebatannya serta jurus Big Bang.
Sedangkan Lu Xun, murid pertama Xiahou Dun yang sudah mewarisi seluruh ilmu gurunya, ketua Partai Naga Emas, mumpuni dalam jurus-jurus Naga Emas yang kondang.
Namun dua jago kerajaan ini terdesak hebat bahkan nyawa mereka sudah di ujung rambut. Saat itu Lu Xun berteriak keras mengerahkan segenap tenaga lewat dua jurus Naga Emas yang saling susul Balaraksha (Seribu Raksasa) dan Balasasra (Seribu Prajurit). Sehebat-hebatnya Takadagawe gebrakannya tertahan juga. Dua jurus Naga Emas itu diumbar pada saat yang tepat. Saat di mana nyawa terancam. Keampuhannya menjadi berlipat ganda.
Sementara Sima Yi memanfaatkan kesempatan dengan menggelar dua jurus dahsyat dari Big Bang "Kak Lu Xun, ayo kita adu jiwa dengan siluman ini," teriak Sima Yi.
Lu Xun menggeram, Sima Yi tak kalah bengisnya. Tetapi Takadagawe bukan pendekar biasa, dia sudah terbiasa dalam pertarungan tingkat tinggi Karenanya dia bukannya gentar malah merangsek maju. Dua tangannya berputar dalam lingkaran yang berbeda. Tangan kanan membuat lingkaran besar ke kanan, tangan kiri membuat lingkaran kecil ke kiri.
Tenaga dua pendekar dataran tengah itu tersedot diseret arus tenaga lingkaran. Keadaan kritis. Sebab begitu Takadagawe menyibak dua tangannya disusul tenaga mendorong maka tulang d**a dua pendekar dataran tengah itu terancam berantakan. Benar saja!
Tampak jari-jari tangan Takadagawe lurus merapat, dua tangannya mengubah lingkaran menjadi gerakan seperti menyibak air. Tenaga dua pendekar dataran tengah terpental ke kiri dan kanan. Dua siku Takadagawe ditekuk. Keadaan kritis. Maut mengancam dua pendekar dataran tengah.
Sekonyong-konyong datang menyeruak bayangan serba putih, seorang pendekar usia enampuluh, rambut, jenggot, kumis dan alis semua serba putih. Kakinya tidak terlihat karena tertutup jubah pulihnya. Jubah itu menjuntai sampai ke tanah berkibar ditiup angin.
Persis dewa yang turun dan kahyangan ke bumi. Ia bagai terbang, ringan bagai kapas, sungguh ilmu ringan tubuh yang sulit diuari bandingannya. Masih dalam keadaan melayang, pendekar itu melonjor dua tangan dalam gerak berputar. Siku dibengkokkan. Jari tangan seperti meraup, kemudian tapak tangannya dihadapkan ke arah dua pendekar dataran tengah. "Jangan gunakan tenaga, kosongkan tubuhmu !" Suara pendekar jubah putih itu merdu dan akrab di telinga Sima Yi dan Lu Xun.
Pada saat Takadagawe meluruskan dua tangannya, memukul dahsyat ke d**a dua pendekar dataran tengah, pada saat yang sama angin pukulan si jubah putih menerpa Lu Xun dan Sima Yi.
Dua pendekar dataran tengah ini tanpa rasa curiga sedikit pun mengikuti bisikan si jubah putih. Keduanya mengosongkan tubuh dan tidak menggunakan tenaga Pukulan pendekar itu mengangkat dua pendekar dataran tengah seperti terbang melayang beberapa depa dari sasaran pukulan Takadagawe. Pukulan Takadagawe menerpa tanah kosong. Debu berterbangan Ada semacam bebauan tanah terbakar.
Takadagawe murka melihat pukulannya mengena tempat kosong. "Siapa orang yang berani mati mencampuri urusanku ?"
Pendekar jubah putih tertawa. "Karena menyangkut gengsi dan kehormatan dataran tengah, aku terpaksa ikut campur. Ilmu seberang tak boleh tepuk d**a di dataran tengah. Orang asing tak boleh temberang di negeri ini."
Dua pendekar itu kemudian terlibat pertarungan dahsyat Si jubah putih bertarung seperti orang tidak bertenaga Gerakannya aneh. Semua anggota tubuhnya bergerak namun aneh kakinya tidak bergerak. Memang kakinya tertutup jubah, namun bisa dilihat bahwa kakinya tidak memijak bumi Ia melayang, ujung jubahnya pun tak menyentuh tanah.
Mengetahui lawan berilmu tinggi, Takadagawe memukul dengan jurus mematikan. Semua pukulan tertuju ke titik kematian. Si jubah putih mengelak dan balas menyerang.
Limapuluh jurus berlalu. Takadagawe mulai terdesak, ia memutuskan menyerang dengan jurus paling mematikan Teri sanson Mein Jevati Mein Sirf teri kusbu hai (Dalam Hidup dan Nafasku Hanya Terdapat Harum Dirimu), jurus adu jiwa Takadagawe selama ini belum menemukan tandingan yang membuatnya kelewat sombong. Tapi kehebatan si jubah putih telah mengusik harga dirinya, itu sebab ia melancarkan jurus adu jiwa.
Pendekar jubah putih tersenyum, seperti main-main, ia menepuk dua tangannya. Benturan tenaga terdengar. "Desss.". Tepukan itu telah membuat pukulan Takadagawe melenceng jatuh di ruang kosong. Si jubah pulih menjulurkan satu tangan ke depan bagai hendak mencengkram. Takadagawe terdesak, surut dua langkah sambil melontarkan pukulan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang).
Tapi si jubah putih tak berhenti. Tangan kiri seperti menggaruk belakang kepala. Tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi. Pinggul dihentak ke kiri dan kanan. Tangan kirinya mendorong menangkis pukulan dua tangan Takadagawe. Tangan kanannya menjulur dan menyusup ke depan menggaruk d**a Takadagawe.
Takadagawe terkesiap. Ia terpental surut dua langkah.
Wajahnya pucat. Ia tak berdaya ketika si jubah putih bergerak maju. Takadagawe memasang kuda-kuda, berdiri dengan wajah pucat tetapi mata bersinar penuh amarah. Ia menggeram dan menghimpun segenap tenaga, dua tangannya membuat lingkaran besar dan kecil. Ia mengulang jurus andalan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang) dalam sikap sama-sama mati.
Mendadak pendekar jubah putih seperti menangis, lengan kiri disapukan ke matanya, tangan kanan membuat lingkaran kecil mengarah ke depan, tangan kiri menjulur ke depan.