Sepuluh tahun berguru di Huangshan, Sima Yi turun gunung mencari kekasihnya, namun Zsu Mei sudah menjadi isteri Jiu Shan dan telah melahirkan Jiu Cien. Tapi Sima Yi tak bisa melupakan kekasihnya. Begitu juga Zsu Mei. Setelah mengetahui latar belakang menghilangnya Sima Yi sepuluh tahun lalu, cinta Zsu Mei bersemi lagi Dia tak bisa melupakan kenangan manis masa lalu. Terlebih-lebih Sima Yi punya banyak kelebihan dibanding suaminya. Maka terjadilah perselingkuhan itu. Sima Yi sangat kasmaran pada kekasihnya. Zsu Mei masih mencintai Sima Yi dan selalu merindukan belaian dan cintanya yang panas. Kepada dirinya, Zsu Mei sering berkata pada dirinya, "Drupadi mencintai lima suaminya, Pandawa Lima, dan tak pernah bisa menjawab siapa yang paling dia cintai, apakah Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula atau Sadewa? Tetapi aku hanya mencintai dua laki-laki."
Goa itu gelap, keduanya berdiri saling pandang. Zsu Mei mengangkat dua tangannya Merapikan tatanan rambutnya. Gerakan itu memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang montok dan indah. Tangan lelaki itu meraba pinggangnya yang ramping, menarik wanita itu merapat. Laki-laki itu merunduk dan mencium bibirnya.
Bulan purnama keluar dari balik awan.Malam semakin larut, dua kekasih itu masih bergumul penuh nafsu. Saat mentari mulai ngiinip dari ufuk Timur, dua anak manusia itu masih berenang di lautan b****i cinta terlarang yang indah dan mempesona.
"Kakak Sima Yi, mengapa kamu tidak mencari perempuan yang bisa mendampingimu sepanjang hari, dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi. Aku tidak bisa mendampingimu seperti itu. Aku harus mengikuti, Jiu Shan. Dia suamiku yang resmi."
"Tidak Zsu Mei, aku tidak bisa melupakanmu. Hanya ajal saja yang bisa membuat aku lupa padamu"
"Sima Yi, tadi malam kamu sudah berjanji padaku, apa pun yang kuminta akan kamu kabulkan, seandainya aku meminta kamu mati, kamu bersedia?"
"Aku rela mati untukmu, asalkan mati dalam pelukanmu, mati dengan mulutmu menempel di mulutku, mati pada saat kamu mencintaiku."
"Kalau aku minta kamu tidak boleh mati, kamu bersedia juga kan?"
"Tentu saja! Selama hidupku aku akan selalu mencintaimu"
"Kak, jika suamiku gugur dalam perang nanti, aku ikut mati bersamanya, itulah puncak darma dan pengabdian seorang isteri. Jika kami berdua mati dalam perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, kembali ke istana dan menolong Jiu Cien. Jadi kamu tak boleh mati. Kamu harus membesarkan dan mendidik Jiu Cien, jangan biarkan dia terbunuh atau menjadi tawanan pasukan Liu Bei. Janji, berjanjilah padaku, kekasihku. Sekarang ini aku akan menemanimu sampai siang hari, aku akan memberimu kepuasan sehingga kamu tak akan pernah melupakan saat-saat ini."
"Zsu Mei, aku sungguh tak berdaya dalam perangkap pesonamu, aku mencintai, kasmaran padamu, mencium kakimu pun aku rela. Aku ingin mati bersamamu, tapi aku tahu itu tak mungkin, Jiu Shan ada di sampingmu Aku janji akan menolong Jiu Cien, tak akan kubiarkan selembar rambutnya diusik orang. Zsu Mei, aku ingin memelukmu seharian penuh bahkan kalau bisa sepanjang hidupku, betapa aku mencintamu"
"Aku juga mencintaimu, Sima Yi. Kamu jantan, kamu memberiku kepuasan yang tak bisa diberikan Jiu Shan. Aku merasa berdosa pada suamiku, tapi aku tak berdaya karena aku tak bisa melupakanmu Sima Yi, ingat janjimu, kamu tak boleh mati di medan perang, kamu harus menyelamatkan Jiu Cien, didik dan besarkan anakku itu. Aku ingin jika nanti dilahirkan kembali, aku menjadi isterimu dan melahirkan banyak anak untukmu, sesuatu yang tak bisa kuberikan padamu sekarang ini."
~~~
Malam itu, Cao Tao meneruskan perintah kakaknya, kaisar Cao Cao. Seluruh pasukan siap untuk berangkat esok pagi, menuju desa Luoyang. Mereka akan mencegat pasukan Kerajaan Shu di hutan dekat Luoyang. Mereka akan menyusun jebakan dan siasat yang akan melumpuhkan dan menghancurkan pasukan Kerajaan Shu.
Di dalam kamar, Jiu Shan menggumuli tubuh isterinya. Dia tergila-gila akan kecantikan wajah dan tubuh isterinya. Dia sudah tahu, istrinya selingkuh dan memadu cinta terlarang dengan Sima Yi. Tapi dia tak sanggup mencegah.
Dia takut, isterinya akan memilih. Dia yakin isterinya pasti akan memilih Sima Yi. Dia tak sanggup berpisah dari Zsu Mei.
Zsu Mei mengelus kepala suaminya. Dia sering merasa iba pada suaminya. Laki-laki itu sangat kasmaran padanya. Dia tahu, suaminya itu lebih tergila-gila pada tubuhnya ketimbang mencintainya. Laki-laki itu menyukai bagian tubuhnya, mengelus dan menjilati b*******a, ketiak, paha dan betis bahkan sering menciumi telapak dan tumit kakinya.
Sulit dipercaya bahwa Jiu Shan yang terkenal sebagai pendekar berilmu tinggi dan jago tarung yang amat tega membunuh lawan serta ditakuti lawan dan disegani kawan, ternyata tidak berdaya menghadapi pesona tubuh dan kecantikan liar seorang perempuan bernama Zsu Mei.
"Zsu Mei aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku," suara Jiu Shan memelas sambil dia menciumi ketiak isterinya. Laki-laki itu sudah tak berdaya lagi. Tiga kali dia mencapai o*****e. Sedangkan Zsu Mei tak sekalipun, namun seperti biasa, perempuan cantik ini berpura-pura merasakan kenikmatan o*****e. Perempuan itu mengumpulkan segenap kekuatan batinnya.
Suaranya agak parau. "Kak, besok kita tarung di medan perang, mungkin kita akan mati, itu sebab aku harus berterus terang padamu tentang aku dan Sima Yi."
"Zsu Mei, aku sudah tahu semuanya, kalian berdua saling menyinta dan kalian sering b******a," sambil mengelus p******a dan mencium leher isterinya, Jiu Shan melanjutkan. "Aku tahu semuanya. Tidak perlu kamu ceritakan padaku."
"Kak, kamu sudah tahu aku selingkuh dan b******a dengan Sima Yi tetapi kamu diam saja, mengapa?"
"Sebab aku yakin kamu akan memilih Sima Yi jika aku mendesakmu, dan itu aku tak mau, aku tak mau berpisah denganmu Zsu Mei, jangan tinggalkan aku!"
Mendadak rasa iba dan kasihan mendorong dirinya untuk memeluk dan menciumi wajah suaminya. "Tidak Kak, aku tak akan meninggalkanmu Besok, kita berdua akan berdampingan melawan musuh. Mati hidup kita bersama-sama. Aku tak akan berpisah darimu, walau sejengkal pun."
~~~