Kabar buruk itu berjalan cepat, bahkan sangat cepat. Pada dini hari, Partai Naga Emas porakporanda. Sore harinya, kabar buruk itu sudah sampai di istana Kerajaan Wei. Semua murid Partai Naga Emas yang berada di istana, menangis mendengar berita semua rekan seperguruan mati termasuk ketua Xiahou Dun dan Wei Hu. Hanya sedikit murid yang lolos. Batin mereka terpukul. Apalagi mereka yang masih memiliki hubungan saudara, bahkan isteri atau suami. Mereka tak tahu apakah sanak kerabatnya itu mati atau berhasil meloloskan diri.
Sore itu di pendopo, tampak Lu Xun, Jiu Shan, Lin Wa, Zsu Mei, Sima Yi dan Cao Tao duduk bersama. Wajah-wajah itu tampak murung dan lesu. Mereka terpukul oleh kabar buruk dari Partai Naga Emas.
Tiga dayang silih berganti masuk pendopo sambil membungkuk hormat membawa nampan penuh berisi hidangan. Cao Tao mempersilahkan makan.
"Itu berita buruk, suatu pukulan berat buat kita semua. Tetapi pukulan itu semakin merusak semangat tarung jika kita membiarkan diri larut dalam kesedihan. Ingat tak lama lagi kita sudah masuk ke medan perang. Ayo, makan, biar semangat dan tenaga pulih, kita akan membalas kekalahan di Partai Naga Emas!"
Sambil menyantap ayam bakar, Cao Tao bertanya pada Zsu Mei. "Mana Jiu Cien?"
Wajah Zsu Mei masih murung. "Kakak Cao Tao, Jiu Cien sudah tidur mungkin letih karena seharian berlatih."
Cao Tao menoleh ke Jiu Shan. "Kakak, aku yakin suatu hari nanti, anakmu itu akan jadi pendekar tangguh. Sayang sampai hari ini aku belum sempat mewariskan jurus Nagamurkha padanya."
"Terimakasih Kakak, dia pasti akan lebih digjaya sebab jurus Nagamurkha ciptaanmu itu hebat dan ampuh."
Selesai bersantap, Cao Tao agak gugup berkata, "Maaf, aku ingin bicara dengan Kakak Sima Yi, tidak lama, kalian tunggu di sini" Keduanya melompat dan menghilang di kegelapan malam.
Di suatu tempat di sudut istana mereka jalan berendeng.
"Kakak ceritakan tentang puteriku itu, apakah dia ikut terbunuh di Partai Naga Emas?"
Sima Yi menggeleng kepala. "Tidak! Itu yang pertama-tama kuselidiki, aku bertemu seorang murid yang lolos yang kukenal. Ternyata Xiahou Dun telah memerintahkan beberapa murid yang sudah terkena racun untuk pergi meninggalkan perguruan mencari selamat agar ilmu Partai Naga Emas tetap bisa diajarkan. Dan Jen Ting berada di antara mereka yang lolos."
"Bagaimana keadaannya, ilmunya? Apakah dia cantik? Kapan terakhir kamu ketemu dengannya?"
"Belum lama, sekitar dua purnama lalu. Jen Ting itu hebat, dia muda, cantik jelita persis seperti ibunya, Xiahou Dun sangat menyayanginya."
"Apakah sudah kamu ajarkan jurus Nagamurkha?"
"Belum!"
"Kalau begitu kamu tak boleh ikut ke medan perang, kamu tak boleh mati, sebab kamu masih punya hutang padaku, kamu harus mengajarkan Nagamurkha pada Jen Ting."
Sima Yi membelalak. Dalam hatinya ia tertawa. Dia mau menyabung nyawa di medan perang karena cintanya pada Zsu Mei. Dia akan membela dan melindungi wanita itu, meskipun harus berkorban nyawa.
"Tidak, Kakak. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu, aku sudah ikrar akan tarung di medan perang, tak bisa kamu mengubah pendirianku itu"
Cao Tao menatap mata kawannya. Dia melihat sinar mata yang mantap. Dia menghela napas, keputusan Sima Yi tak bisa berubah. Mendadak dia ingat sesuatu. "Sima Yi, aku pernah menawarkan padamu untuk menyunting Jen Ting jadi isterimu, kau belum menjawab."
"Sejak Jen Ting masih kecil dia sudah mempercayai aku adalah kakak kandungnya. Aku menganggapnya sebagai adik sendiri. Ketika aku titipkan Jen Ting ke Partai Naga Emas, aku berbohong pada Xiahou Dun bahwa aku adalah kakak kandungnya. Kakak, putrimu itu cantik jelita, tetapi aku tidak mungkin memperisterinya."
"Kakak Sima Yi, siapa saja yang mengetahui rahasia bahwa Jen Ting adalah putriku?"
"Hanya dua orang, guruku dan Mei Chu. Tidak ada lain orang lagi"
~~~000~~~
Tengah malam di kebun bagian belakang istana, Sima Yi sedang berlatih, ia duduk semedi di atas pohon. Ia berbaring di dahan kecil, tubuhnya berayun kian kemari dalam kerimbunan daun. Mendadak seorang bertopeng melesat ke atas pohon, menyerang Sima Yi. Keduanya tarung keras. Sima Yi membentak, "Siapa kamu, berani menyatroni istana!"
Dalam beberapa jurus Sima Yi bisa membaca siapa lawannya itu. Jurus Naga Emas cuma bisa dimainkan oleh murid Partai Naga Emas. Dan melihat potongan tubuhnya yang langsing, dia mengenali Zsu Mei. "Zsu Mei berhenti, mau apa kamu?"
Tiba-tiba Zsu Mei limbung, tubuhnya doyong ke samping. Sima Yi cepat meraih pinggangnya. Zsu Mei membuka topengnya, ia mengibas rambutnya yang tadinya diikat. Sima Yi hendak melepas pelukannya, tetapi Zsu Mei justru memeluknya. Lelaki itu tak bisa menguasai diri, ia memeluk, menciumi leher dan mulut wanita yang dia cintai itu.
Terengah-engah, Zsu Mei mendesah. "Partai Naga Emas porak poranda, semua hancur, banyak yang mati, guruku mati, malam ini aku sangat sedih, Jiu Shan tak bisa menghiburku, ia juga sedang berduka. Sima Yi, hibur aku, cintai aku, Kak"
Suara Zsu Mei sendu, ada isak di dalamnya. Sima Yi merasa iba, tetapi suara memelas dan tubuh montok itu telah merangsang nafsu birahinya. "Aku mencintaimu, Zsu Mei, kamu wanita satu-satunya yang kucintai, tak ada wanita lain." Dia melihat sekeliling kemudian membopong perempuan itu ke goa di hutan.
Zsu Mei, pada usia limabelas, berkenalan dengan Sima Yi. Pertama kali dia mengenal lelaki dan kehilangan perawan. Percintaan yang penuh nafsu b****i Mereka b******a dari satu tempat ke tempat lain. Mereka kasmaran satu sama lain. Dua tahun b******a, Sima Yi lupa amanat gurunya, Yue Jin. Suatu waktu sang guru mendampratnya, karena tidak serius berlatih. Yue Jin membawa muridnya kembali ke gunung Huang. Sima Yi pergi tanpa sempat memberitahu kekasihnya. Dia seperti lenyap ditelan bumi.
Sepeninggal Sima Yi, Zsu Mei patah hati. Kakak seperguruannya, Jiu Shan yang sudah lama mencintainya, merayunya. Satu tahun tanpa kabar berita dari Sima Yi, dia yakin kekasihnya itu mati. Dia tak punya pilihan lain, gurunya mendesak agar menerima lamaran Jiu Shan. Dia berusaha mencintai Jiu Shan, tetapi bayangan Sima Yi tetap melekat di hatinya.