Pandangan Rainier melembut, membelai wajah Lyssa sayang. “Sebagaimana aku ingin anak-anakku kelak menghormati dan menyayangi ibunya, maka aku yang akan pertama memulai, menyayangi dan menghormatimu sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anakku.” Meski hanya rencana, hati Lyssa tetap menghangat, matanya berkaca-kaca saat ia memeluk pemuda di atasnya. Rainier sabar memeluk gadis di bawahnya, menunggu sampai gadis itu terlihat lebih ceria baru ia menciumi bibir di bawahnya. Pinggulnya pun mulai bergerak, lembut penuh makna. Lyssa lupa belum memotong kuku, kukunya runcing menusuk kulit punggung Rainier, Rainier tak peduli pun, napasnya memburu, tubuhnya berbalur peluh, rajin menggerakkan pinggul. Tangan Lyssa merambat ke depan, menyentuh setiap jengkal tubuh pemuda

