AYAH KANDUNG EDWARD

1499 Kata
Suasana menjadi kaku setelah Adit pergi dengan diiringi tangisan Bella dan rengekan si kembar, Kenzi masih belum berani bertanya. Reiko berjongkok di depan kursi roda Kenzi dan memperkenalkan dirinya. "Hallo, saya baby sitter baru disini. Nama kamu siapa?" "Kenzi," jawab Kenzi. Reiko menatap takjub Kenzi. "Wah, nama yang bagus. Kamu tahu apa arti nama itu?" Kenzi menggeleng pelan. "Artinya anak kedua yang sehat dan pintar, diambil dari nama Jepang." Kata Reiko sambil mengacak gemas rambut Kenzi. Untung saja anak ini wajahnya ikut Kinara jadi ganteng banget. Kenzi terpana lalu menatap takjub mamanya. Benarkah itu? Namaku sebagus itu? Kinara menghindari tatapan anak keduanya dan meminta tolong ke Reiko. "Tolong bawa Kenzi ke rumah kakakku." Reiko terkejut. "Pak Adit gimana?" Kinara tidak menyembunyikan kesedihannya. "Kamu lihat sendirikan bagaimana Adit mengabaikan Kenzi, melihatnya saja tidak mau." Kenzi sudah paham itu dari kecil, karena terlahir dengan kaki kiri bengkok, ia harus menghabiskan hari-harinya di rumah sakit karena kesibukan orang tua bahkan keluarga papa menatap jijik dirinya, kakak papa setuju menjadi wali hanya sebatas prosedur dokumen di rumah sakit dan disuap rumah mewah dari mamanya. Kenzi kecil tahu itu setelah kakak papanya marah hanya karena disuruh menunggu satu jam untuk informasi cek prosedur operasi kaki bahkan memanggil beliau bude ataupun tante saja gak boleh. Anak cacat tidak akan diterima dimanapun. "Apa Kenzi sudah tidak diterima lagi disini?" tanya Kenzi dengan nada sedih. Kinara merasa bersalah, sulit menjelaskan situasi ini ke putranya. "Kenzi sayang mama?" Kenzi mengangkat kepala dan menatap Kinara dengan mata berkaca-kaca. "Tentu saja!" "Kalau Kenzi sayang mama, Kenzi mematuhi mama kan?" Kenzi tidak menjawab. "Mama hanya ingin Kenzi hidup aman dan nyaman, tapi mama juga tidak bisa membiarkan Kenzi kembali ke rumah sakit." Kenzi mengangguk kecil. "Kakak mau kemana? Bella ikut." Kata Bella sambil menggenggam erat baju kakaknya. Kinara mengacak rambut Bella. "Nanti papa cariin Bella." Bella menyentuh bagian kepala yang dilempar mainan lalu terisak. "Papa gak akan cari bella, kepala Bella juga sakiiiit." Kinara mengingat kejadian tadi, Adit bahkan tidak menegur si kembar bahkan menenangkan Bella. Hanya karena ibu kandung Bella dianggap arogan makanya dia berpikir anaknya juga ikut arogan? Siapa yang membuat aku arogan seperti ini? Kinara akhirnya mengambil keputusan. "Baik, bawa Bella juga." Reiko bertanya dengan hati-hati, ia dan Fumiko suka merawat anak kecil, toh di rumah juga ada dua anak adiknya tapi mereka tidak punya pengalaman merawat anak berkebutuhan khusus. "Sebenarnya kaki Kenzi kenapa?" Kinara menoleh ke Reiko dan tersenyum sedih. "Kaki kirinya terlahir bengkok, kata dokter itu kelainan fisik bukan kesalahan prosedur atau apa namanya itu, jadi sejak bayi aku terpaksa melepas Kenzi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih baik." Mulut Reiko menganga lebar. Itu hanya kelainan fisik di kaki, tapi harus sampai tinggal di rumah sakit seperti kena penyakit berat? Bukankah itu berlebihan? Kinara bisa melihat tatapan tidak percaya Reiko. "Ya, ini kesalahanku. Aku tidak bisa melindungi putraku, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Waktu itu aku tidak mau Adit meninggalkanku, keluarga Adit bahkan mengejek bayi Kenzi jadi aku tidak punya pilihan lain." Reiko berusaha menahan diri memeluk Kinara yang terlihat kesepian. Sudah berapa lama kamu bertahan seperti ini? Dulu meskipun terlihat mandiri, kamu mengandalkan keluarga. ------ Di rumah sakit, Adelio dan Edward duduk berdampingan menunggu hasil tes dna. Adelio mengintip ipad miliknya yang dipegang Edward. Apa yang dia baca? Dongeng? Adelio hampir kena serangan jantung melihat isi artikel yang dibaca Edward, tanpa sadar ia menyuarakan pertanyaannya. "Kamu mengerti isi artikel itu?" Edward menjawab tanpa menoleh. "Tentu saja." Adelio mengerutkan dahi. "Tapi itu tentang-" "Untuk mencari data dan kebutuhan masyarakat zaman sekarang, tidak perlu baca bahan-bahan sulit apalagi saya masih kecil." Potong Edward. Adelio tidak tahu harus berkomentar apa, untungnya sang sekretaris datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah dokumen lalu menyerahkannya ke Adelio. Yah, uang dan kekuasaan bisa memudahkan segalanya. Adelio yang masih penasaran, segera membuka dan membacanya sementara Edward masih serius membaca artikel. Setelah selesai membaca hasil, jantung Adelio berdetak keras, keringat dingin muncul di dahi dan kedua tangannya gemetar tidak percaya. Edward adalah anak kandungnya! Bagaimana ini bisa terjadi? Sekretaris yang hendak menghibur atasannya sontak terkejut melihat Adelio duduk berlutut. Edward mengangkat kepala lalu melompat turun dari tempat duduk dan menyerahkan ipad ke sekretaris. "Hasilnya sudah keluar?" Adelio menatap takjub Edward. Kenapa ia tidak menyadarinya kemarin? Sekarang begitu diperhatikan, wajah Edward mirip sekali dengan ibu Adelio. "Aku-" Edward mengembalikan ipad Adelio ke sekretaris. "Saya benar-benar anak kandung anda?" Adelio menelan saliva lalu mengangguk singkat. Sekretaris hampir menjatuhkan ipad begitu melihat jawaban atasannya. Astaga! Edward tersenyum puas lalu memeluk Adelio. "Papa!" Adelio terkejut. Sekretaris berjalan mundur untuk menjaga jarak, ia ingin memberi waktu untuk ayah dan anak. "Kamu, kamu- menerimanya?" Adelio bertanya dengan linglung. "Bagaimana Ed bisa tidak menerimanya?" "Ada papa yang merawat kamu selama ini, kan?" Raut wajah Edward berubah murung. Adelio merasa ada yang tidak beres. "Apa? Apakah dia memperlakukanmu kasar?" Edward menggeleng lalu mengangguk. "Mana yang benar?" Edward melirik Adelio lalu menundukan kepalanya. "Orang itu tidak pernah menyayangi kami." "Bagaimana bisa?" "Ceritanya panjang, tapi bagaimana dengan kedua adikku?" "Dua adik?" Edward mengangguk. Adelio menjadi bingung. Selama ini ia hanya tahu Kinara memiliki dua anak, adapun satu dikabarkan keguguran... tunggu! Apakah sebenarnya bayi itu masih ada? "Ed punya dua adik. Yang satu namanya Kenzi, dia lebih sering di rumah sakit karena pemulihan lalu ada Bella." Adelio mengerutkan kening. "Apakah si Kenzi ini sakit?" Edward mengangguk. "Iya, kaki kirinya bengkok sejak lahir, untuk mengembalikan tulangnya ke semula, dia dititipkan di rumah sakit dengan nama kakak papa." Adelio menggendong Edward. "Papa?" tanya Edward yang kebingungan. "Kamu tahu rumah sakitnya dimana?" "Ya," jawab Edward. Adelio segera mendekati sekretarisnya dan mengatakan sesuatu yang tidak di mengerti Edward. --- Kinara duduk di kaki tempat tidur dan menatap sekeliling. Ia mengingat kali pertamanya mengisi ruangan ini, semua ruangan diisi warna hangat dengan harapan menggunakan kamar ini sampai tua bersama Adit. Tapi sekarang harapan itu hancur, di tempat ini juga dia berusaha bunuh diri. Harapan dan putus asa bertarung, hingga akhirnya putus asalah yang menang. Kinara menangis dalam diam. Sudah berapa banyak ia berkorban untuk Adit dan semuanya sia-sia? Anak-anakpun ia abaikan selama ini. Bahkan ia sempat tergoda rayuan keluarga ipar nya untuk meletakan Kenzi di panti asuhan demi Adit, tapi ia tidak tega. Bagaimanapun dia darah dagingnya dan Adit. Sejahat apapun dirinya, dia tidak akan pernah meninggalkan anak-anak. Untungnya keputusan ini tepat. Kinara menghela napas berat lalu berdiri dan berlutut untuk membuka brankas, ia tertawa miris begitu melihat brankas yang masih kosong. Adit benar-benar mengabaikan ancamannya, suaminya sudah tidak peduli dengan perasaannya lagi. Kinara menatap kosong isi brankas yang tidak ada isinya. Jika brankas ini masih ada isinya, apakah aku yang dulu masih bisa memaafkan Adit? Tanpa perlu berpikir dua kali, jawabannya sudah pasti. Ia akan memaafkan Adit. Aku benar-benar bodoh di masa lalu. Kinara menutup brankas dengan hati-hati lalu berdiri dan memandang sekali lagi kamarnya. Dia menginjakan kaki disini kali pertama tanpa membawa apapun dan sekarang pun juga sama, dia akan pergi tanpa membawa apapun. Kinara mengeluarkan handphone, dompet dan semua buku tabungannya, termasuk tabungan yang ada uang dua milyar dari tas bermerk musim lama. Tas inilah yang menemani perjuangannya di awal, hadiah dari Fumiko saat Kinara lulus kuliah. Di rumah ini dan di luar, aku sudah kalah. Tapi sebelum kamu mengusirku, aku pergi duluan. Yang aku miliki sekarang jauh lebih berharga yaitu anak-anak dan harga diriku. Baru tadi pagi Kinara berpikir untuk bertahan di rumah ini sekali lagi, tapi begitu melihat perlakuan Adit ke Kenzi dan Bella, ia menjadi tidak tahan lagi. Jika ia terus bertahan demi cinta, mungkin dirinya yang akan mati. Tapi, jika ia terus bertahan demi anak-anak, mungkin anak-anaknyalah yang akan menjadi korban perasaan. Kinara tidak mau itu terjadi. Entah kenapa Kinara merasa sedikit lega disamping sedih dan kecewa setelah melihat perilaku Adit. Itu berarti dia bisa melepaskannya tanpa ragu dan membalas perilakunya. Aku akan bertahan demi anak-anak. Tok tok Kinara menghapus air mata lalu memastikan sebentar riasannya. "Masuk." Salah satu art masuk ke kamar Kinara dengan sedikit takut, tadi pagi dia yang dimarahi habis-habisan karena kamar Kenzi. Lagi pula anak cacat itu tidak pernah pulang ke rumah, lebih baik kamarnya diisi hal lain daripada dibiarkan kosong. Bisa-bisa dihuni makhluk lain hiiii... "Ibu panggil taxi?" Kinara merogoh saku mantelnya. Masih ada sisa uang lima ratus ribu, kalau dibuat ongkos perjalanan dan dihabiskan buat camilan anak-anak mungkin perasaannya menjadi lebih baik, toh dirinya akan menumpang di rumah kakak dan kakak ipar sampai bisa mendapat proyek dan bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lalu meminta maaf. Kinara melihat art masih menunggu dirinya. "Ya." Art segera keluar dari kamar dengan cepat, ia tidak mau berlama-lama dengan wanita jahat. Lebih baik bersama nyonya Cynthia, sudah cantik, baik pula bahkan ramah sesuai karakter pas jadi artis. Nasi gorengnya yang dikasih buat sarapan juga enak, bukan sisa pula sementara nyonya Kinara? Beuh, dingin puol dan gak pernah bicara banyak. Memang sih gak terlalu menuntut banyak karena apa-apa dikerjakan sendiri daripada nyonya Cynthia yang paling sering minta tolong. Tapi- Art balik badan lalu melihat punggung Kinara yang sudah berjalan menjauh. Entah kenapa ia merasa suatu hari nanti akan menyesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN