MENGEJAR SEORANG WANITA

1540 Kata
"Sudah dibawa pergi sama tantenya?" tanya Adelio ke suster. "Benar, Kinara yang membawanya." Suster mendengus tidak suka begitu mengucapkan nama ini. Edward yang masih di gendong Adelio, menepuk pelan pipi ayah kandungnya. "Mama sudah bawa pulang Kenzi, cepat telepon tante Reiko. Tante teman papa, kan?" Hati Adelio sontak meleleh. Saat Edward bertanya soal Kenzi dan Bella, Adelio tidak mampu menjawab. Menyadari kebimbangan di hati Adelio, Edward menceritakan keseluruhan perbuatan Adit selama Kinara tidak di rumah sekaligus perilaku ke anak-anaknya sampai ke rumah sakit. Adelio tidak bisa menilai apakah Edward sedang berbohong atau tidak, toh suatu saat nanti sekretarisnya akan mencari bukti. Untuk saat ini ia tidak ingin mengecewakan hati putranya. Adelio mengucapkan terima kasih dengan dingin ke suster yang menatap kagum dirinya. Huh, tidak ada yang boleh menghina ibu dari anaknya! Segera dia menghubungi Reiko dan mendapat jawaban yang paling diinginkannya. Kenzi dan Bella sedang di rumah Fumiko. Tunggu dulu! Rumah Fumiko? Kenapa harus ke rumah wanita itu? Adelio memijat pangkal hidungnya dengan lelah. Sepertinya ia harus bersiap menerima omelan dari berbagai pihak. Edward menepuk pelan kepala papanya. Adelio menoleh. "Apakah itu tidak sopan? Maaf." Edward ketakutan. Adelio tertawa geli. "Kamu bisa melakukannya sesuka hati." Edward tersenyum lalu membelai kepala papanya. "Semua orang bilang tidak sopan kalau memegang kepala papa, om Adit pernah marah dan memukul tanganku." Hati Adelio kembali meleleh begitu mendengar kata 'papa', bahagia anaknya sudah mengubah panggilan Adit sekaligus sedih karena anak kandungnya diperlakukan kasar. Di mobil tadi Edward sudah meminta izin untuk mengubah panggilan, meskipun itu terlambat karena di rumah sakit Ed langsung memanggil dirinya papa begitu mengetahui hasil tes, tentu saja Adelio tidak bisa mengabaikan permintaan kecil putranya, minta pesawat jet pun dia bisa belikan dengan mudah tanpa perlu berpikir dua kali. Ah, putraku! Adelio melangkahkan kakinya dengan hati bahagia dan wajah tampannya penuh senyum. --- Dahi Fumiko berkerut begitu melihat siapa yang datang, dia mengenali bocah kecil yang digendong tapi dia lebih malas mengenali orang dewasa yang menggendong si bocah. Adelio tersenyum menyapa Fumiko. "Hai!" Fumiko menatap Adelio dengan penuh kebencian. "Gak punya malu ya, bisa-bisanya datang kesini. Kamu habis nyulik anak Kinara?" Adelio tidak terima. "Enak saja, dia sendiri yang datang ke kantorku." Fumiko menatap tidak percaya Adelio. "Benar, dia sendiri yang datang." Adelio berusaha menyakinkan Fumiko sambil menurunkan Edward, bahaya kalau tiba-tiba dirinya diserang wanita barbar satu ini. Fumiko tersenyum setelah melihat Edward berlari masuk ke dalam rumah dan mengucapkan terima kasih ke Adelio lalu segera menutup pintu untuk mengusir pria yang dibencinya saat ini. Dengan sigap Adelio menghalangi tindakan Fumiko dengan badannya. "Kamu tega sama teman sendiri." "Bagaimana bisa aku menganggapmu teman setelah menyakiti hati Kinara dan kamu bisa lihat sekarang, Kinara memilih mengejar adik tirimu yang gak beres itu!" teriak Fumiko sambil berusaha mati-matian mendorong Adelio keluar dan menutup pintu. Adelio tidak mau mengalah. "Kalian tidak pernah mau mendengar alasanku!" "Alasan apalagi yang mau kamu buat? Tidak percaya diri karena ayahmu lebih memilih wanita lain daripada ibumu? Lalu kami ini apa? Pajangan?" "Aku benar-benar minta maaf, aku kekanak-kanakan waktu itu." "Minta maaflah ke Kinara!" bentak Fumiko. "Nanti aku minta maaf, sekarang biarkan aku masuk." Adelio berusaha masuk, ia heran melihat Fumiko begitu gigih dan kuat mengusir dirinya. Dimas bersiul dan terkekeh. "Sudah aku bilangkan, jangan suka menjahili anak-anak perempuan." Adelio memutar bola matanya. Yang dilawannya sekarang itu monster, pemilik sabuk hitam Aikido dan karate. "Kamu tidak akan kubiarkan masuk sebelum bisa memegang sabuk hitam!" Perkataan Fumiko menusuk luka hatinya. Gara-gara wanita jepang gak masuk akal ini, dia terus-terusan gak lolos naik tingkat, sempat protes ke pemilik dojo, yang ada malah dinasehati harus melapangkan d**a menerima kekalahan. Iya deh, yang atlit aikido dan karate. Dulu Adelio menyerah naik tingkat dan membiarkan dirinya memegang sabuk merah, toh dia bisa bertarung menyelamatkan diri dan memiliki tubuh atletis tapi ini masalah harga diri di depan anaknya. Adelio bisa melihat Edward yang menggendong Bella sedang menonton adegan ini lalu ada seorang anak laki-laki yang duduk di kursi roda di sampingnya. Itukah Kenzi? Adelio memperjuangkan harga diri untuk memaksa masuk rumah orang. "Bagaimana bisa aku naik tingkat sementara kamu terus-terusan menargetkanku menjadi guru ujian!" Fumiko tersenyum licik, masih memperjuangkan hak nya mengusir tamu tak diundang. "Sekali kalah tetap saja kalah, kalau aku mengalah demi ujian kamu, nama dojo bisa tercoreng." "Hah!" Adelio menjadi kesal, "Waktu itu kamu serius menyerangku, bukan serius ujian!" "Belum pernah dengar ujian adalah medan perang yang nyata bagi murid?" "Aku bukan orang jepang! Aku orang Indonesia, ujianku hasil mencontekpun tetap lolos!" Fumiko mendorong jengkel Adelio. "Iyalah, kamu anak pemilik sekolah! Sekarang kamu keluar atau aku panggil polisi?" "Panggil saja, aku gak takut!" Edward yang takut dengan ancaman Fumiko, akhirnya berteriak. "Papa! Sudah, berhenti!" Fumiko yang terkejut, tanpa sadar menyingkir dari pintu. Adelio yang sedari tadi menggunakan seluruh tenaganya sekaligus tidak siap, akhirnya jatuh terjerembab ke lantai marmer dengan tangan kiri dulu secara insting. Wajah tampannya harus diselamatkan. Edward meletakan Bella di pangkuan Kenzi. "Pa- papa?" tanya Fumiko ke Dimas. Dimas menjawab dengan mengangkat bahu, ia tidak tahu apa-apa. Reiko yang menggendong anak bungsu Fumiko, terpana. Gila! Ternyata dugaannya selama ini benar. Fumiko menarik kerah Adelio yang masih duduk di lantai, sementara Adelio refleks menopang tubuh dengan kedua tangan meskipun salah satunya sakit. "Kamu cuci otak Edward?!" teriak Fumiko "Bagaimana bisa aku cuci otak? Kami baru pertama kali bertemu!" jawab Adelio. Fumiko masih tidak percaya dengan penjelasan Adelio. Edward berlari menghampiri Adelio sambil menangis dan berteriak. "Papa! Jangan masukin papa ke penjara!" Fumiko tanpa sadar melepas kerah Adelio, ia benar-benar tidak mempercayai pendengarannya. "Ed, dia bukan papa kamu." Bujuk Dimas. Edward menggeleng lalu memeluk leher Adelio. "Ini papa Ed! Yang di rumah itu bukan papa Ed." "Tapi-" Fumiko hendak mengatakan sesuatu. Sekretaris yang sedari tadi berdiri di belakang, menatap takjub atasannya. Ia tidak pernah melihat atasannya seperti itu, mungkin tidak akan pernah kalau tidak menginjakan kaki di rumah ini. Ia tersadar dari shock ketika mendengar suara tangisan Edward. Sekretaris masuk ke dalam rumah dan berkata. "Saya bisa menjelaskannya, tadi pagi atasan saya dan tuan muda kecil melakukan tes dna. Hasilnya cocok." Dimas, Fumiko dan Reiko terperangah tidak percaya. Kinara yang bucin setengah mati ke Adit punya anak dengan Adelio? Siapapun yang mendengar dan mengenal baik Kinara pasti tidak akan percaya. "Pa- pasti itu palsu." Dimas tertawa canggung. Adelio memeluk Edward dengan sayang untuk menenangkan putra kandungnya tanpa malu lalu tersenyum mengejek ke Fumiko. "Jangan nangis sayang, papa gak akan kemana-mana." Rasanya Fumiko ingin mengeplak kepala Adelio yang bersikap sombong di rumah orang. Kenzi dan Bella hanya diam tanpa paham. Kakak mereka memanggil orang lain papa dan menangis, apa mama mau menikah lagi? SRAK! Semua orang menoleh, kecuali Edward yang masih terisak di pelukan Adelio. Mereka melihat Kinara berdiri di depan pintu, kedua tangan menutup mulut dan camilan berserakan keluar dari tas belanja di sekitar kakinya. --- Adit keluar dari kamar si kembar bersama Cynthia, ia menghela napas lega melihat si kembar sudah jatuh terlelap. Cynthia memeluk lengan Adit penuh cinta sementara Adit mengerutkan kening begitu melihat suasana hening di rumahnya yang besar. Harusnya ia mendengar suara tangisan Bella dan Kinara yang sibuk menelepon. Adit melepas belitan tangan Cynthia dengan panik, berlari menuju kamar dirinya dan Kirana. Kosong. Adit menghela napas lega begitu melihat dompet, handphone, buku tabungan dan alat-alat make upnya ada di meja rias. Ia menyalakan handphone Kinara dan terkejut, tidak ada isi di dalam handphone, sudah direset ke pabrikan, lalu ia membuka handphone Kinara dan ipad. Sama, semuanya sudah direset. Adit menjadi panik, ia membuka lemari pakaian yang masih ada lalu membuka brankas pribadi Kinara. Kosong! "Cynthia!" Bentak Adit. Cynthia yang sedari tadi duduk nyaman di sofa sambil membuka i********:, terburu-buru menghampiri suami sirinya. Ia hapal suara kemarahan Adit. "Kamu belum mengembalikan perhiasan Kinara?" Cynthia menelan ludah lalu merajuk. "Dia bisa beli yang baru." Adit berjalan mendekati Cynthia dengan mata marah. "Ulangi lagi." Cynthia berjalan mundur. "Dia bisa beli yang baru, kan? Toh itu dibeli dengan uangmu juga." Adit menaikan sudut bibirnya dengan kecewa. "Aku selalu mengatakan berulang kali, perhiasan itu peninggalan ibu Kinara." Cynthia melipat kedua tangannya. "Kamu pikir aku akan percaya? Dia hanya anak yatim piatu, bagaimana bisa menyimpan perhiasan semewah itu?" "Cynthia, apa kamu kekurangan uang selama ini?" "Aku-" Cynthia terdiam begitu melihat ekspresi marah Adit. "Aku memberikan semua penghasilanku ke kamu dan kedua anak kita, Kinara tidak kuberikan sepeserpun sehingga dia memutuskan bekerja. Semua kebohonganku ke dia, dengan mudahnya dia percaya tapi kamu? Aku berkata jujur dan kamu tidak mempercayainya?" "Bukan begitu, sayang. Aku-" Adit menepis tangan Cynthia dengan jijik. "Kembalikan perhiasan Kinara sekarang juga atau aku akan mengusirmu dari sini!" Cynthia menjadi panik. Ia tidak mungkin mengembalikan keseluruhan perhiasan secara utuh, sebagian besar ia jual untuk modal penampilan artisnya. "CYNTHIA!" Cynthia memegang perutnya lalu menjatuhkan diri ke lantai. "Aduh!" Adit menatap Cynthia dengan dingin. "Kamu pikir meskipun aku mencintaimu lebih dari istriku sendiri, bisa menipuku dengan trik murahan itu? Harusnya kamu belajar menjadi pengusaha supaya bisa mendapat trik lebih pintar." Tubuh Cynthia gemetaran mendengar suara Adit yang berubah dingin. "Kamu bilang meminjamnya sebentar." Cynthia memang mengatakan itu supaya bisa memakai perhiasan mahal dan merk terkenal itu, meskipun model lama tetap saja itu sangat mahal dan bisa dipamerkan sebagai turun temurun leluhur atau dijual mahal. Dulu Cynthia mengira Adit akan selalu luluh dengan permintaannya. Tapi sekarang, Adit malah menyuruhnya mengambalikan semua perhiasan Kinara? Bagaimana ia bisa mengembalikannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN