PERTEMUAN KELUARGA

1752 Kata
Setelah semua kekacauan tadi, akhirnya Dimas duduk di sofa yang berhadapan dengan Adelio lalu Kinara dan Fumiko duduk di sofa panjang tengah yang memisahkan sofa Adelio - Dimas berhadapan dengan tv ukuran besar. Di tengah-tengah mereka ada meja kaca panjang dan di atasnya berserakan camilan yang dibeli Kinara setelah Fumiko berhasil menyuap anak-anak untuk mengikuti Reiko dengan camilan, termasuk menyuap Reiko tentunya. Sekretaris berdiri tegang di belakang sofa Adelio. Setelah diperhatikan, ia mulai mengingat siapa Dimas dan Fumiko, mereka bukan pasangan sembarangan lalu nyonya Kinara yang memakai riasan tebal seperti biasa, yang tidak biasa adalah sorot matanya yang layu. Dimas mulai angkat bicara. "Kalian berdua selingkuh?" "Tidak," jawab Kinara dan Adelio bersamaan. "Terus bagaimana caranya Edward menjadi anak kandung Adelio?" tanya Fumiko ke Kinara. Adelio juga penasaran. "Kamu curi spermaku?" Dimas menggulung koran di atas meja dan dengan cepat mendekati Adelio lalu mengeplak belakang kepala Ceo yang terkenal kaku dan dingin itu. "Kamu kira s****a kamu berharga?" Adelio yang tidak siap menghindar, menjadi pasrah. Gak suami, gak istri sama-sama suka pukul orang. Keluhnya di dalam hati. Fumiko menggenggam kedua tangan Kinara dengan lembut. "Pasti ada yang salah dengan tes dna-nya, kita bisa tes ulang." Sekretaris berdehem lalu meletakan hasil tes di atas meja. Dimas, Fumiko dan Kinara menatap ngeri map biru begitu mengenali logo rumah sakit. Dimas menunjuk Adelio dengan marah. "Kamu gila! Melakukan tes dna di rumah sakit keluargaku!" Fumiko menatap keji Adelio sementara Kinara menutup wajah dengan kedua tangan. Adelio mengkerut di sofa. Benarkan, pasti diomeli. "Hanya rumah sakit itu yang aku percayai dan fasilitasnya lengkap." "Kamu bisa membuat identitas palsu, sekretarismu kek yang pura-pura jadi ayah kandungnya." Omel Fumiko. Sekretaris hanya bisa menunduk sedih dan menabahkan dirinya yang hanya seorang karyawan biasa. Adelio menghela napas pasrah. Kinara melirik curiga Adelio lalu berdiri. "Kamu... jangan-jangan pernah menjebakku." Adelio melotot marah lalu berdiri. "Kamu pikir aku bisa melakukan hal serendah itu ke perempuan yang aku sukai?" "Hah! Kamu pernah melakukannya dulu, menjebakku untuk bertemu teman-temanmu!" "Mana mungkin aku melakukan hal itu, aku selalu merahasiakan keberadaanmu! Ini gara-gara adik tiri sialan itu yang merebut perempuan yang aku sukai!" "Siapa, mana perempuan yang kamu sukai itu sampai bisa berpikiran bodoh seperti itu?" tantang Kinara. "Kamu!" tunjuk Adelio tanpa sadar. Suasana mendadak hening ketika Kinara dan Adelio sama-sama menyadari ada yang salah. Fumiko menarik Kinara untuk duduk sementara Dimas yang masih berdiri mendorong mundur Adelio untuk duduk. Adelio menjadi salah tingkah. "Aku- anggap saja kamu tidak mendengarnya." Kinara mengipasi dirinya dengan kedua tangan, tidak mungkin Adelio yang dikenalnya menyatakan cinta. "Sepakat." Fumiko pindah tempat duduk sehingga menghalangi Adelio dan Kinara. "Mama sama papa pasti sudah tahu soal ini." Dimas mengangguk. "Setidaknya hanya keluarga kita yang tahu, keluarga Adelio tidak boleh mengetahuinya." Adelio mengangkat kepala dan menatap (calon) kakak iparnya. "Kenapa?" "Kamu mau bunuh adikku dan keponakanku? Dengar, Edward adalah anak kandungmu yang kamu dan Kinara saja tidak tahu, lalu bagaimana dengan Kenzi dan Bella? Tidak mungkin kalian melakukan kesalahan yang sama kan?" Kinara dan Adelio bertukar tatapan. "Untuk menyakinkan diri, lebih baik kita juga tes dna Kenzi dan Bella," kata Fumiko. Kinara menolak dengan tegas. "Kenzi dan Bella anak-anak Adit." "Kamu yakin mereka berdua anak-anak Adit sama seperti Edward, faktanya Edward anak kandung aku." Adelio menunjuk dirinya dengan bangga. Kinara menatap Adelio dengan tegas. "Bagaimana kalau Kenzi dan Bella benar-benar bukan anak kamu? Kamu hanya senang dengan satu fakta. Anak-anakku satu paket dan tidak bisa dipisahkan." "Aku bisa menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri," balas Adelio. Kinara menggeleng. "Tidak, kamu tidak pernah melakukan hal itu. Suatu hari nanti kamu akan bosan dan hanya peduli pada Edward saja." Adelio tidak terima dituduh sebelum mencoba. "Aku bukan Adit!" Fumiko berteriak untuk menengahi mereka. "SUDAH CUKUP!" Dimas semakin pusing mendengar argumen Adelio dan Kinara yang sama-sama keras kepala. "Kita bahas itu besok pagi." "Aku mau selesaikan sekarang!" Dimas, Fumiko dan Kinara menatap Adelio. "Kalian semua tahu, apa yang terjadi padaku bukan? Aku ingin bawa Edward pulang," kata Adelio. Sebagian orang tahu bagaimana dokter mevonis Adelio susah punya anak, tapi kabar semakin kencang dan melenceng sehingga berubah menjadi tidak bisa punya anak. "Ibuku hampir bunuh diri karena ulah ayahku, kesedihannya bertambah karena gosip aku tidak bisa memiliki keturunan." Adelio menatap Fumiko dan Dimas bergantian. "Hentikan omong kosong ini." Kinara memijat kening. Adelio bersandar di sofa dan duduk dengan sikap sombong. "Faktanya kita sudah memiliki anak, apakah kamu tega membiarkan dia menjadi anak di luar nikah?" Fumiko paham maksud Adelio. "Kamu- kinara belum bercerai dari Adit." "Akan!" "Apa?" tanya Dimas yang tidak paham. Adelio menaikan sudut bibir dan berkata dengan percaya diri. "Kinara akan bercerai dengan Adit." Kinara tidak bisa membantah sementara Fumiko dan Dimas menatap dirinya, menuntut jawaban. "Kalau tidak, buat apa kamu datang dengan tangan kosong kesini? Oh, apakah semua camilan ini dibeli dengan uang cash terakhirmu?" tantang Adelio ke Kinara. Dimas menjadi tidak tahan. "Adelio, sudah! Jangan menyakiti Kinara." Adelio melihat Kinara sudah menundukan kepalanya, berusaha menahan tangis. Ia merasa bersalah. Adelio bangkit dari kursi lalu berlutut di depan Kinara sambil menggenggam kedua tangannya. Kinara dengan mata berkaca-kaca dan hidung merah, mengangkat kepalanya. "Aku tahu posisi kamu sekarang, ingin bangkit tapi tidak tahu harus mulai darimana, ingin bertahan tapi terlalu sakit, ingin pulang tapi harga diri menahannya." Kinara menghapus air mata yang akan mengalir. Adelio mengeratkan genggamannya tanpa sadar. Mungkin malam ini kesempatannya untuk mengambil harta berharga miliknya. "Apakah bersandar itu sulit?" "Adel!" teriak Fumiko. Dimas menarik Fumiko untuk menjauh. Fumiko memberontak. "Lepasin!" "Biarkan mereka berdua bicara." "Tapi-" Fumiko terdiam begitu melihat wajah serius suaminya. "Adelio bukan orang jahat." Tegur Dimas. Fumiko tahu itu, hanya saja obsesi Adelio terhadap Kinara itu sangat menjijikan baginya. Apakah Kinara akan bahagia bersama pria seperti Adelio? Dimas menarik Fumiko dan sekretaris ke ruang makan, setidaknya mereka bisa mengawasi dari jauh sekaligus sambil makan. "Kamu bisa memanfaatkanku." "Memanfaatkanmu?" tanya Kinara yang tidak mengerti. Adelio mengangguk. "Apa kamu tidak ingin membalas dendam?" Kinara menarik tangannya dari genggaman Adelio. "Dia masih suamiku." "Tapi dia menyakiti kamu." "Aku istrinya, sebaiknya jangan ikut campur." "Aku tidak bisa." Kinara menatap Adelio dengan aneh. "Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini, kalau kamu ingin balas dendam sebaiknya kamu bisa memanfaatkanku." "Sebentar, kita hanya kenalan dan-" "Aku sudah mengenal kamu sejak kecil." "Itu karena kamu teman kakakku." "Dan juga mantan tunangan kamu." "Itu hanya candaan orang tua." "Tapi, aku serius." "Apa?" Adelio menarik tangan Kinara dan meletakannya tepat di jantung. "Apakah kamu bisa merasakannya?" Kinara tidak bisa menjawab. "Jantungku sekarang berdebar karena kamu." "Aku-" "Aku mencintaimu." Kinara menarik tangannya tapi ditahan Adelio. "Aku mencintaimu dan inilah kesempatanku, kamu melakukan hal yang sama dengan Adit dan Cynthia kan? Sekarang aku juga melakukan hal yang sama dengan masa lalu kamu. Ini adalah karma." Air mata Kinara menetes tanpa sadar. "Tapi waktu itu aku tulus." "Aku juga tulus sekarang." "Mereka bilang aku jahat karena merenggut Adit dari Cynthia." "Dan sekarang aku juga jahat karena merebut kamu dari Adit." Kinara tertawa masam di sela isakannya. Adelio mencium kedua tangan Kinara sambil memejamkan kedua matanya. Sudah berapa lama ia memimpikan mencium tangan lembut ini? "Aku mencintai kamu, Kinara." "Aku mencintai kamu, Adit." "Saat ini Adit sudah memiliki kekasih lain, aku berjanji tidak akan menyakiti hati kamu." "Saat ini Cynthia sudah memiliki kekasih lain, aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama dengannya." "Aku akan membantu keluarga kecilmu di masa depan." "Aku akan membantu keluarga kamu di masa depan." "Kamu tidak punya pilihan lain karena hanya aku yang bisa membuka balas dendam." "Kamu tidak punya pilihan lain karena hanya aku yang bisa menanggung masalahmu." Ucapan Adelio bercampur dengan ucapan Kinara di masa lalu. Adelio yang tidak tega melihat kesedihan Kinara, menghapus air matanya. "Sekarang tidak apa kamu tidak mencintaiku, tapi sekarang aku hanya ingin menunjukan kepadamu betapa tulusnya diriku." Kinara mengangguk lemah. "Jangan bunuh diri dan menangis demi pria seperti itu, kamu harus kuat demi anak-anak kita dan aku." Adelio tanpa malu mengubah anak-anak Adit menjadi anak-anaknya. "Bukannya kamu benci Adit? Lalu anak-anak..." "Jujur saja aku memang benci Adit dan anak-anak kecil, tapi aku tidak benci kamu dan anak-anak yang kamu lahirkan." Entah kenapa Kinara merasa bersalah ke Adelio. "Berikan aku waktu." "Tidak." Tegas Adelio. "Saat ini aku tidak bisa melupakan Adit." "Apakah itu berarti ada harapan untukku?" Kinara mengalihkan wajahnya. Adelio yang sudah tahu jawabannya hanya bisa tersenyum sedih. "Bagaimana kalau begini, hotel yang selama ini aku pegang. Kamu yang pegang?" Kinara memutar kepalanya. "Itu milik keluarga ayahmu." "Aku tahu, karena itu aku tidak terlalu terikat dengan hotel itu. Aku hanya bertahan demi ibuku, apa kamu tahu cerita masa kecilku yang menyedihkan?" Kinara mengangguk kecil. Ia sering mendengar keluhan kakaknya tentang keluarga Adelio semenjak kakek Adelio meninggal. "Alasan kenapa kakekku menyayangi ibuku karena sekolah milik ibuku mampu membantu hotel mewah tetap berdiri di masa krisis, hanya saja keluarga Sanjaya lainnya telah lupa asal-usul keberadaan sekolah itu sehingga mereka dengan mudahnya mengklaim sekolah sebagai milik keluarga Sanjaya." Kinara baru mengetahui cerita itu. "Kenapa aku tetap mempertahankan posisi pewaris, bertengkar dengan ayahku dan membenci anak haramnya, itu karena sekolah milik ibuku. Sebenarnya ibuku bunuh diri bukan karena cinta dengan ayahku tapi mengancam supaya mereka mengembalikannya." Kinara hampir lupa bernapas, ternyata ada cerita kelam di belakang keluarga Sanjaya. "Karena harga diri, ayahku dan selingkuhannya menyebar kisah palsu. Tentu saja ibuku marah, dia jatuh sakit karena merasa dikhianati orang yang dicintainya." "Jadi sebenarnya, tante masih cinta?" Adelio mengangguk. "Ibuku mencintai ayahku dengan tulus, tapi pengkhianatan cinta itu tidak membuat beliau sampai bunuh diri. Yang membuatnya bunuh diri karena mereka dengan seenaknya mengubah kepemilikan tanpa izin dan yang membuatnya sakit karena pengkhianatan." Kinara tidak pernah tahu cerita itu. "Apakah kakakku tahu soal ini?" Adelio tersenyum sedih lalu menggeleng. "Hanya mama kandung putraku yang tahu." Hati Kinara meleleh mendengarnya. Sementara itu di ruang makan, bukannya mengawasi Kinara dan Adelio seperti rencana semula. Justru mereka bertiga makan kebab buatan bibi di rumah lalu mendiskusikan sesuatu. "Kalau tuan Adelio pulang ke rumah utama keluarga Sanjaya bersama tuan muda Edward, pasti akan menjadi boomerang untuk nyonya Kinara. Karena itu sebaiknya kita merahasiakan soal ini." Fumiko mengangguk setuju lalu menatap suaminya. "Si tua bangka tukang selingkuh itu toh gak akan pernah peduli pada Adelio, kalau tidak salah dia pernah mengusir kamu karena dikira tidak selevel." Dimas mengingatnya. "Itu karena aku pakai seragam sekolah negeri." Sekretaris tidak bisa membayangkan tuan besar berani mengusir seorang anak dari orang yang berpengaruh, untung saja anak itu tidak terlalu mempermasalahkannya. "Rasanya aku ingin menghancurkan hotel mereka," kata Fumiko sambil mengunyah makanannya dengan ganas. "Tidak sekarang." Geleng Dimas. Sekretaris berusaha menelan makanannya dengan susah payah. Benar kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Ucapan mereka berdua pasti tidak main-main.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN