SUMPAH ADELIO

1701 Kata
Adelio menggenggam kedua tangan Kinara dengan erat dan bersumpah. "Jika di masa depan aku melakukan hal yang sama dengan Adit, kamu bisa membunuhku." "Jangan seperti itu." Tolak Kinara. "Ya, aku sendiri juga gak mati, Nara. Itu cuma umpama saja. Tapi aku juga gak tahu bagaimana caranya kamu bisa percaya sama aku." Kinara menggeleng. "Tidak perlu bukti, aku juga malas meminta apapun ke orang lain. Sekarang aku ingin mengurus ketiga anakku." Bahu Adelio menurun lesu. "Lalu bagaimana caranya kamu bisa percaya?" "Aku-" Kinara menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu." "Kalau begitu tinggallah bersamaku." Kinara menatap ngeri Adelio. Nih orang gak dikasih jawaban malah semakin ngelunjak! "Anak-anak bisa ditemani ibuku sementara kamu bekerja, kalau disini tidak akan aman. Orang tua kamu pasti datang kesini, dan kamu juga belum siap menemui mereka, bukan?" "Tapi, aku belum resmi bercerai dan kamu juga ada tunangan bukan? Kalau mereka semua tahu, pasti mereka akan melakukan sesuatu." "Gampang, menikahlah denganku jadi semuanya pasti beres." Senyum Adelio. Kinara ingin mengeplak kepala error Adelio. Dari tadi ternyata dirinya diajak muter-muter tapi ujung pembahasan tetap sama yaitu menikah. Adelio tersenyum penuh dosa meskipun Kinara sudah menyadari rencananya. "Sekarang ada Edward, aku tidak ingin anak itu hidup tanpa ayah kandungnya apalagi diejek." Kinara memejamkan matanya dan menjadi bingung. Entah kenapa di saat dirinya jatuh seperti sekarang, Ed malah bukan anak kandung Adit? Kenapa selama ini ia tidak tahu? "Aku juga akan menyayangi Kenzi dan Bella." "Tidak." Kinara bangkit dari kursi dan bergegas menuju kamar tamu, ia sudah tidak mau mendengarkan omong kosong apapun. Adelio ikut berdiri dan tidak meghalangi kepergian Kinara. Dimas yang melihat itu, segera mendekati Adelio sementara Fumiko menuju kamar tamu. "Sudah ada hasilnya?" tanya Dimas sambil menepuk bahu Adelio. Adelio menggeleng. Dimas menghela napas panjang. "Sebaiknya kamu pulang saja, masalah adikku biar aku urus." Adelio hendak menolak tapi dimas segera berbisik di telinganya. "Kalau kamu tidak pergi, aku akan mengambil surat-surat cinta yang kamu buat dan disimpan di dalam brankas lalu menunjukannya ke Kinara." Ancam Dimas. Adelio menatap tidak percaya Dimas atas pengkhianatannya. "Kamu-" Dimas nyengir. "Kamu pikir aku gak tahu?" Adelio mendecak kesal. "Kamu masih belum membakar atau membuang surat-surat itu?" tanya Dimas yang terkejut dengan reaksi Adelio. Tadinya dia hanya menipu sahabatnya. "Jadi itu hanya ancaman kosong?" Dimas merenung sebentar lalu berkata. "Kinara sudah pernah menyakiti hati kamu karena meninggalkan pertunangan kalian, tapi kamu masih- tunggu! Selama ini kamu tidak pernah menikah karena menunggu Kinara?" Adelio menepis tangan Dimas yang masih bertengger di bahunya. "Itu bukan urusanmu!" Dimas melihat punggung Adelio bersama sekretaris di belakangnya, meninggalkan rumah. Dia menggeleng miris, tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghibur temannya. Pengkhianatan ayah, bunuh diri ibu bahkan Kinara meninggalkannya disaat rentan. Entah kenapa Adelio masih mempercayai mereka bertiga meskipun tidak pernah mengucapkannya. --- "Kinara." Fumiko masuk ke dalam Kinara dan melihat punggung sahabat baiknya yang gemetar. Ia segera duduk di samping tempat tidur. "Nara." Kinara yang terlihat kuat di mata Fumiko, dikenal angkuh di depan umum saat ini menangis dengan memeluk guling. Fumiko membelai kepala Kinara. "Nara." Kinara tidak menjawab. "Nara, kamu sudah makan? Kamu sudah mandi? Yuk, bersihkan badan dulu." Khawatir Fumiko. Kinara menggeleng. "Aku lihat kamu tidak bawa apapun, jadi kamu bisa memakai bajuku untuk sementara." Kinara duduk dan menghapus air mata serta ingusnya. "Aku meninggalkannya di rumah." "Kalau begitu aku telepon rumah kamu supaya bisa mengambil barang-barang." Kinara menggeleng. "Aku tidak bisa." Fumiko menatap sedih Kinara. "Kamu diusir?" Kinara menggeleng. Fumiko terpana. "Kamu- kamu pergi dari rumah?" Kinara mengangguk pelan. "Astaga." Fumiko teringat bagaimana Kinara keluar dari rumah demi Adit dan sekarang dia melakukan hal yang sama ke Adit. Apakah ini karma? "Disana sudah bukan tempatku lagi. Semuanya aku tinggalkan termasuk handphone dan uang, aku sedih... Adit mengambil semua perhiasan yang ditinggalkan mama untuk Cynthia bahkan kamar anak-anakku diganti buat anak-anak Cynthia, Kenzi yang membutuhkan cahaya paling banyak untuk tulangnya diganti dengan kamar bayi." Fumiko terkejut. "Aku disuruh mengalah tapi dia bahkan selalu membela Cynthia, beritahu aku, Fumi. Apakah keputusanku selama ini salah karena mengejar Adit? Apa ini karma karena tidak mendapat restu orang tua?" tanya Kinara sambil menggoyang badan Fumiko. "Aku mencintai Adit dengan tulus, aku tidak pernah mengkhianatinya, aku juga tidak tahu kalau Ed itu anak kandung Adelio." "Nara." "Aku rela semua orang mengatakan aku jahat, merebut Adit dari Cynthia tapi kenapa semuanya malah tetap menyalahkanku?" "Nara." "Aku mengejar Adit dengan susah payah bahkan begitu aku tahu Cynthia selingkuh, aku berusaha melindungi dia dan keluarganya. Aku rela dianggap jahat." Fumiko melepas kedua tangan Kinara dan gantian menggoyang badan temannya. "Apa kamu tahu bagaimana perasaan kedua orang tua kamu, kakak kamu bahkan tunangan kamu ketika kamu mengumumkan di malam pertemuan bahwa kamu akan mengejar Adit?" Kinara terdiam. "Itulah perasaannya sekarang ke kamu, merasa dikhianati. Kamu tahu sendirikan kalau Adit itu adik tiri Adelio yang ibu kandungnya menghancurkan rumah tangga keluarga tunangan kamu sendiri?" Kinara diam membeku. Benar, waktu itu dia masih muda dan mengejar mimpi, tidak peduli ada perasaan yang ia sakiti. "Adit tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Sanjaya tapi berhasil mendepak tunangan kamu waktu itu, ayah kandung tunanganmu juga mengatakan di depan umum kalau Adit adalah anaknya, jadi hanya orang tertentu saja yang tahu kalau Adit bukan bagian dari keluarga Sanjaya." "Fumi." "Sekarang apa? Kamu mau bilang apa? Kamu sudah menyakiti banyak orang di masa lalu dan sekarang kamu menangis karena merasa sakit? Bagaimana dengan keluarga dan tunanganmu? Lalu bagaimana denganku?" tanya Fumiko sambil menepuk dadanya dengan keras dan mata memerah menahan tangis. "Aku menangis dan sedih selama setahun karena kamu memutuskan meninggalkan semuanya termasuk aku, untung saja Dimas selalu disampingku meskipun perasaannya gak karuan." Tanpa sadar air mata Kinara mengalir. "Karma? Ya, ini karma. Ini karma karena kamu menyakiti kami!" Kinara memegang tangan Fumiko dan menangis lepas. "Maaf, maafkan aku-" Fumiko ikut menangis, dia melepas semua perasaan yang ditahannya. "Tapi kamu tahu, Nara. Waktu itu aku ingin membalas semua perlakuan kamu lalu aku sadar kamu sudah bahagia dan tidak peduli dengan perasaan kami, jadi untuk balas dendam... aku melamar kakakmu." Kinara menangis lalu tertawa lalu menangis lagi. "Kamu nekat." "Aku ketularan kamu." Fumiko tertawa kecil sambil menangis. "Aku benar-benar terkejut waktu mendengar kenekatanmu itu, aku kira itu hanya bercanda tapi ternyata benar. Padahal waktu itu kamu penurut, kamu berubah setelah diculik." "Benarkah?" "Ya. Dulu kamu tidak peduli segalanya bahkan Adelio dulu kamu cuekin tapi setelah kamu diculik malah mengejar Adit." "Itu karena aku bertemu dia saat diculik." "Apa?!" "Waktu itu aku dan Adit diculik tapi berbeda ruang, aku juga dilarang mengatakannya karena tidak mau muncul trauma, kami berdua juga sepakat tidak membicarakannya." "Dari situ kamu jatuh cinta dengannya?" tanya Fumiko yang tidak percaya. Kinara mengangguk. "Meskipun kami berbeda ruang, dia selalu menghiburku." "Yah, itu masa lalu. Jadi tidak perlu diingat lagi." "Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Ada lagi." "Apa?" "Dia melindungiku, ada bekas luka di punggungnya." "Bagaimana dia bisa melindungi kamu dan mendapat luka saat kalian berdua berada di ruang terpisah?" "Aku menangis keras waktu itu, panggil papa, mama dan kakak. Penculiknya tidak tahan sehingga hampir mencambukku, Adit melarangnya sehingga menerima cambukan itu." "Jadi sampai sekarang luka di punggung itu ada?" "Tentu saja tidak, keluarga Sanjayakan punya uang banyak jadi Adit melakukan operasi plastik di punggung untuk menutup luka. Kamu lupa kalau Adit itu dulunya model?" "Tapi, Nara. Adelio juga punya bekas luka di punggungnya, banyak malah." Kinara terkejut. "Bagaimana kamu tahu?" "Kita berdua memang berbeda 3 tahun dengan Adelio dan Dimas tapi kabar itu sampai ke kelas kita, kan? Bersamaan dengan kabar kamu diculik, Adelio menghilang dan punya bekas luka di punggung." "Tapi aku gak mungkin salah mendengar suara Adit dan Adelio." "Aku juga bingung." Kinara dan Fumiko terdiam sekaligus merinding. "Bukan hantu kan?" tanya Kinara dengan takut. "Tapi aku benar-benar dengar suara cambukan." Fumiko menggeleng ngeri. Tok tok tok. Fumiko dan Kinara menjerit bersamaan lalu saling memeluk. Dimas yang mendengar itu dari luar, segera membuka pintu. "Ada apa? Ada kecoak?" tanya Dimas dengan panik. Fumiko dan Kinara menghela napas bersamaan. --- Di dalam mobil, Adelio melihat jalanan di luar. Banyak keluarga pergi bersama membawa sepeda motor, ia menjadi iri. Dulu ayah kandungnya terlalu sibuk bekerja sehingga tidak pernah mengajaknya keluar tapi sekalinya keluar malah memperkenalkannya dengan Adit, kakak perempuan Adit dan ibu Adit. Awalnya Adelio kecil tidak begitu paham, tapi begitu melihat ibunya menangis. Ia hanya paham kalau ayah kandungnya jahat. Lalu setelah dewasa, dirinya divonis susah memiliki anak setelah kecelakaan bahkan ayah kandungnya menjual dirinya ke anak pejabat. Cobaan apalagi yang diberikan Tuhan? Di saat dirinya terguncang dan hampir jatuh, lalu Edward datang dan Kinara bertengkar dengan Adit. Apakah ini hadiah dari Tuhan atas kesabarannya? Hah! Di saat Kinara memikirkan masalah yang menimpanya adalah karma, Adelio malah berpikiran ini adalah anugerah yang tidak bisa disia-siakan. Bukankah aku bisa dibilang jahat? Tring. Adelio mengambil handphone di saku dalam jasnya lalu melihat notif i********:. Cherrs. Adelio tersenyum. Tiga tangan yang dikenalnya muncul di dalam foto sambil memamerkan minuman di gelas wine mereka. Adelio berani bertaruh kalau itu adalah jus, bukan minuman keras. Fumiko sangat religius, Dimas seorang dokter sementara Kinara berada diantara mereka. Tak lama muncul komen di foto unggahan Kinara yang terbaru. Apa faedahnya sih pamer minuman haram? Frustasi karena ditinggalkan Adit hahahaha... Kalian sudah lihat i********: Cynthia? Koleksi perhiasannya banyak sekali, berbeda dengan wanita ini. Ternyata Adit benar-benar menyayangi Cynthia. Benar, karma Tuhan tidak pernah lari. Oalah, netizen maha benar. Meskipun Kinara menghancurkan pertunangan Cynthia dan Adit tetap saja Adit salah karena sudah memiliki anak dan menikah dengan Kinara. Kamu pasti orang baru datang, kami penggemar Adit dan Cynthia sejak lama. Gara-gara wanita ini, Cynthia terpuruk dan kariernya redup. Lalu apa hubungannya dengan Kinara? Cynthia masih belum melupakan Adit, dan terbukti kan... aslinya Adit dan Cynthia sudah memiliki anak, gara-gara Kinara, anak mereka berdua menjadi anak tidak sah. Yang benar? Omg! Jahat banget Kinara. Yang aku dengar, Kinara datang ke lokasi syuting lalu memaki dan mendorong Cynthia yang sedang hamil. Kinara benar-benar keterlaluan, dia sempat jadi artis tapi gak laku kan? Akhirnya banting setir pekerjaan lain. Ah, aku tahu! Keluar masuk hotel bersama om-om. Yang benar? Hati-hati uu ite. Mana mungkin aku bohong, banyak saksinya kok. Adelio merasa muak lalu membuang handphone ke kursi sebelahnya. Sekarang banyak gosip buruk menimpa Kinara, sebagai pria ia tidak bisa melindunginya tapi sebagai ayah kandung Edward, ia merasa berhak ikut campur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN