AYAH & ANAK

1503 Kata
Kinara terbangun dengan kepala pusing, sayangnya tebakan Adelio salah. Karena menangis tanpa henti, akhirnya Dimas dan Fumiko mengalah menemaninya minum setelah melapor tidak masuk kerja. Fumiko yang sudah punya firasat buruk, Kinara akan minum banyak akhirnya pasrah bersama Dimas memesan botol wine dan pesta sebagai penghiburan. "Sudah bangun?" Kinara melihat gelas disodorkan dan segera meminumnya dengan cepat. "Pelan-pelan minumnya." Kinara membuka matanya perlahan dan hendak mengatakan terima kasih lalu terdiam. Papa berdiri di samping tempat tidur dan mamanya duduk sambil melihat dirinya yang berantakan. Kinara yang terkejut, merasakan sesuatu yang melonjak di perutnya. Papa segera menggendong Kinara dan membawanya ke kamar mandi sambil mengomel. "Kamu kurus sekali." Kinara segera mengeluarkan semua isi perut di kloset. Papa menepuk punggung Kinara sambil mengomel. "Kamu masih berani mabuk, gak ingat punya anak tiga? Bahkan buat kakak dan kakak ipar kamu mabuk juga! Anak macam apa kamu ini!" Papa tanpa sadar memukul keras punggung Kinara. Kinara meringis kesakitan. "Sakiiiit, pa." Papa segera meminta maaf lalu mengusap punggung anaknya. Kinara terisak sambil mengeluarkan isi perut. "Kalau mamamu gak nekat kesini, papa sama mama gak akan tahu kalau kamu kabur kesini dan bawa ketiga anak kamu!" Omel papa sambil menyalakan flush toilet. "Adit mengusirmu?" Kinara menghapus air matanya lalu menggeleng. Sial sekali rasanya dipergoki kedua orang tua dalam keadaaan kacau. "Kalau begitu kenapa kamu di rumah Dimas?" tanya papa. Mata Kinara berkaca-kaca lalu menangis seperti anak kecil. "Papa gak suka melihat Nara lagi? Papa pengen Nara pergi lagi?" Mama yang mendengarnya segera memukul punggung suami dan memeluk putri semata wayangnya. "Astaga putri kecil kesayangan mama, gak boleh bilang begitu. Mama sama papa justru kangen sama Nara." Kinara memeluk mamanya dan menangis. "Maafin, Nara. Nara gak tahu kalau perasaan mama dan papa sesakit ini, maafin Nara." Papa segera mengalihkan pandangannya dan keluar dari kamar mandi, dia tidak ingin putri semata wayang melihatnya menangis. Mama berusaha menenangkan Kinara. "Iya, mama sudah maafkan. Yang penting Nara sudah tahu kesalahan Nara dimana, tidak ada kata terlambat." Sementara itu di luar kamar. Adelio sudah berdiri di depan pintu, berhadapan dengan Reiko yang memimpin para keponakan minus Kenzi yang masih tidur di kamarnya. Adelio melipat kedua tangan dan bersikap galak. "Apa? Kamu akan menghalangiku?" Reiko mendecak kesal. "Aku tidak sekuat Fumi tapi aku juga tidak takut denganmu, kamu mau antar Ed ke sekolah?" "Ya." Angguk Adelio. Kedua mata Edward berbinar bahagia, sudah lama ia mendambakan berangkat sekolah dengan kedua orang tua atau salah satunya. "Tidak boleh." Adelio hendak mengatakan sesuatu, lalu terdiam mengingat nasehat Dimas semalam. "Kalau begitu, aku pinjam mobil kamu dan antar anak-anak ke sekolah tanpa keluar rumah." Bella mengedipkan mata lalu mengangkat kedua tangannya ke arah Adelio. "Gendong." Adelio tersenyum penuh kemenangan sambil menggendong Bella. "Hallo, nama kamu Bella?" Bella mengangguk semangat. "Saya Adelio, ay... hmmm." Reiko dengan sigap menutup mulut Adelio. "Ini bukan waktunya, tunggu sampai Nara dan orang itu berpisah." Adelio mengangguk dengan tangan Reiko menutup mulutnya. Edward melepas tangan Reiko lalu memegang tangan Adelio yang bebas. "Ayo berangkat." Reiko menyerahkan kunci mobilnya ke Edward lalu mendorong pelan kedua anak adiknya. "Jangan lupa antar kedua keponakanku juga." Adelio menghela napas pasrah, ini demi Ed. --- Di pagi hari, Adit membuka kamar Kinara yang kosong setelahnya melihat CCTV rumah. Kinara meninggalkan rumah tanpa membawa barang apapun, Edward dari pagi sudah meninggalkan rumah terlebih dulu, disusul Kenzi dan Bella yang pergi bersama baby sitter. Apakah dari awal ini sudah niat Kinara? Tapi kenapa juga meninggalkan tabungan serta uang dua milyar untuk mengganti kamar anak-anak? Cynthia yang khawatir melihat suaminya mondar mandir di depan Kinara, mengharapkan ibu mertuanya segera datang. Mungkin dengan ibu mertua datang, Adit bisa melupakan Kinara dan anak-anak sialannya itu. Tak lama suara mobil datang, Cynthia yang gembira bergegas menyambut ibu mertuanya sementara si kembar sudah bersiap akan sekolah. "Bu." Sambut Cynthia. Maya, ibu Adit gembira melihat menantu artisnya yang cantik dan ramah menyambut dirinya. "Kak." Sapa Cynthia ke kakak perempuan Adit yang berdiri di belakang ibunya. "Aduh, hamilpun kamu tetap cantik." Puji Maya. Cynthia tersenyum bangga. Kakak perempuan Adit, Ana. mendecak kesal. "Aku sudah melihat i********: kamu semalam, banyak sekali koleksi perhiasannya." Cynthia menyembunyikan kekesalannya. "Aduh kak, itu semua perhiasan Kinara. Aku hanya pinjam buat acara pesta." Ana dan Maya terbelalak. Bagaimana bisa anak yatim piatu punya perhiasan sebanyak itu? Apakah Adit memanjakannya? Maya dan Ana yang kesal, bergegas menemui Adit. Cynthia tersenyum puas penuh kemenangan, kalau dirinya tidak bisa memiliki perhiasan itu, biarkan ibu mertua dan kakak ipar yang bertindak. Toh netizen sudah tahu dirinya disayang Adit lebih dari Kinara. "ADIT!" Bentak Maya. Adit yang sedari tadi cemas melihat handphone, sontak berdiri ketika melihat ibu dan kakak berjalan mendekatinya. "Bagaimana bisa anak yatim itu punya perhiasan sebegitu banyak dan mahal?" tanya Ana. Adit melirik Cynthia yang bersikap polos, dua sudah hafal dengan perilaku kekasih hatinya. "Itu peninggalan ibunya." "Aku tidak percaya! Kamu pasti diam-diam memberikannya ke Kinara. Dengar Adit, surga anak itu di telapak kaki ibunya, ibu yang melahirkan kamu berdarah-darah tapi istri kamu itu hanya orang lain." Maya menepuk dadanya dengan keras dan mengeluarkan ekspresi sedih. "Bu, Adit gak bohong. Itu semua punya Kinara." Adit berusaha menenangkan ibunya. Cynthia ikut menenangkan ibu mertuanya. "Mas Adit benar, itu semua punya Kinara. Kita harus mengembalikannya." "Panggil Kinara, sekarang!" bentak Maya. "Bu." Adit panik. Ana masuk ke dalam kamar Kinara dan mencari wanita sialan itu. "Dimana anak yatim piatu itu?" Maya bergegas mengikuti Ana. Kamar kosong. "Dimana wanita itu?" "Dia pergi bersama anak-anak, Adit juga tidak tahu kapan dia kembali," jawab Adit. "Kamu ayah kandung mereka dan suami Kinara, bagaimana bisa tidak tahu?" tanya Maya. Ana melihat berbagai macam merk mewah parfum dan make up. "Ini barang-barang mahal, sayang sekali aku tidak bisa memilikinya karena diberi batas limit." Cynthia maju dan menjilat kakak iparnya. "Kakak boleh memilih, Kinara pasti tidak akan keberatan." "Cynthia!" bentak Adit. Cynthia mendengus lalu menaikan dagunya dengan sombong. "Ini hanya benda, toh juga pasti akan habis. Kinara pasti mampu membeli yang baru." Adit terdiam begitu mendengar perkataan Cynthia. Benar, saat ini semua orang berbalik arah menjilat dirinya daripada Adelio. Anak tidak tahu diri yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai anak kandung ayahnya. Anak dari wanita yang menghancurkan hubungan ibu dan ayahnya yang sekarang. Kalau saja dulu ibunya menikah dengan ayah tiri yang sekarang, masa kecil Adit dan kakak perempuannya tidak perlu susah. Adit mendiamkan ibu, kakak perempuan serta istri sirinya menjarah barang-barang Kinara. Toh ini semua bisa dibeli yang baru. "Wah, ada dompet dan handphone mahal ini-" Adit bergegas mengambil tas mahal Kinara sembarangan dari lemari tas dan mengambil semua dompet, buku tabungan dan kartu ATM dari tangan Cynthia. Cynthia yang tidak terima, mulai mengeluh. "Mas." "Kamu bisa ambil barang-barangnya tapi tidak dengan yang ada di dalam tas ini," ujar Adit. "Adit, kamu bisa membelikan Kinara yang baru. Buat apa kamu menyimpannya?" tegur Ana. "Benar, Cynthia juga akan melahirkan jadi dia harus mendapat perawatan yang bagus," sambung Maya. Cynthi menggoyang tangan Adit dengan manja. "Mas, ini semua demi kebaikan bayi kita." Wajah Adit mengeras begitu melihat keserakahan di wajah ketiga wanita yang dicintainya. Cynthia, Maya dan Ana terdiam begitu melihat wajah dingin Adit. "Nak, ibumu ini hanya bercanda." Maya menepuk pelan lengan Adit. "Baik, kami tidak akan mengambilnya. Tapi, Kinara kemana? Apa boleh kami mengambilnya?" Ana mengangguk dari belakang Maya, Cynthia menatap cemas suaminya. "Kinara pergi ke luar kota bersama anak-anak dan baby sitter, barang-barang di kamar bisa kalian ambil, Kinara juga pasti tidak akan keberatan." Adit terlalu lelah untuk berdebat, lebih baik dia berbohong mengenai kepergian Kinara. Toh jika wanita itu kembali, dia akan membelikannya yang baru dan akan mendidiknya supaya tidak ada yang menghinanya lagi. Semalam Cynthia menangis dan berlutut untuk meminta maaf karena sudah menjual sebagian perhiasan Kinara, Adit mau tidak mau memaafkannya. Dengan senang, Cynthia mengunggah semua koleksi itu ke i********:. "Tunggu, bagaimana dengan perhiasan Kinara?" tanya Ana. Adit melirik Cynthia yang sudah menunduk dengan gugup. "Kalian tidak boleh mengambilnya, hanya itu peninggalan keluarga Kinara. Tidak ada yang bisa membantahnya." Cynthia, Ana dan Maya terdiam. Mereka bertiga tidak berani melawan Adit yang sedang marah. Adit meletakan tas berisi dompet dan barang-barang lainnya ke dalam brankas lalu mengubah password brankas supaya tidak bisa dibuka sembarang orang. Hanya dirinya dan Kinara yang tahu nantinya, itupun kalau Kinara kembali. Setelah selesai, Adit berdiri dan pamit ke kantor serta mengajak si kembar ke sekolah. "Kamu tidak ikut?" tanya Adit. Cynthia yang masih memilah pakaian bermerk Kinara, menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kamu yang muncul, saat ini citraku sebagai orang ketiga melekat." "Tapi semua orang juga tahu kalau kamulah yang aku cintai," kata Adit. Cynthia menggeleng pelan sambil melipat gaun Kinara di tangannya. "Aku tidak mau merusak reputasimu." Adit tersenyum. Inilah yang membuatnya tidak bisa lepas dari Cynthia, berbeda dengan Kinara. Jika Kinara bisa membangun citra dan perusahaan di mata keluarga maka Cynthia bisa membangun citra di mata orang luar. Harusnya dia bisa memiliki kedua istri ini, mereka berdua harus berdamai, toh ada ungkapan 'surga untuk istri yang mengizinkan suaminya menikah lagi.' Cynthia mencium pipi si kembar lalu melambaikan tangan ke mereka bertiga. Setelah Adit menutup pintu, ia kembali melanjutkan aksinya sebelum direbut ibu mertua dan kakak iparnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN