Adit menghentikan mobilnya di parkir sekolah, ini hari pertama si kembar sekolah di sekolah milik keluarganya. Adi dan Ari melihat sekeliling area parkir dengan takjub, banyak mobil mewah parkir.
"Ini sekolah kita sekarang, pa?"
"Jangan panggil papa, kitakan sepakat panggil papi. Gak usah ikut-ikutan mereka," tegur Adi ke Ari.
Ari menutup mulut dengan kedua tangan.
Adit tertawa lalu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil penumpang belakang. "Jangan nakal di sekolah."
"Oke, papa!" teriak Adi dan Ari serempak.
Adit tidak sengaja melihat Ed dan Bella jalan melewatinya sambil bercanda, ia segera menegur mereka. "Ed, Bella."
Adi dan Ari menatap tidak suka Ed dan Bella, mereka menggandeng tangan Adit di masing sisi supaya tidak diambil kedua anak itu.
Edward menghibur Bella yang menatap iri mereka. Ed tidak iri dan tidak punya kewajiban menyapa Adit, berbeda dengan Bella.
"Kalian berdua menginap dimana? Papa khawatir," kata Adit.
"Di rumah teman mama," jawab Edward sebelum Bella menjawab jujur.
"Tapi, seragam kalian..."
"Pi, apa mereka gak punya uang buat beli seragam?"
"Papi jangan beli seragam buat mereka, kata mami gak boleh."
Edward melihat kebodohan mereka. "Kalian berdua baru masuk sekolah ini? Hari sabtu bajunya bebas."
Daichi yang usianya sama dengan Edward tertawa kecil sambil menepuk bahunya. "Yuk, masuk."
Adit terdiam melihat reaksi dingin Edward, entah kenapa dia merasa mereka akan menjauh. "Seharusnya jangan terlalu lama merepotkan teman mama kalian, mereka punya kehidupan. Pulanglah ke rumah."
Edward berhenti lalu balik badan menatap Adit. "Rumah yang mana?"
Bella memeluk tangan kakaknya dengan erat, dia mengingat perlakuan papa dan si kembar.
"Apa itu didikan mama kalian?" tanya Adit dengan geram. "Kalian tidak akan bisa hidup dengan nyaman di luar sana."
Edward menunjuk si kembar. "Kalau begitu, anda bisa mengusir mereka dari rumah."
Adit menjadi marah. "Jaga bicara, mereka berdua kakak kamu dan Bella!"
Daichi menaikan salah satu alis, kecerdasannya sama dengan Edward. "Bukankah ada Kenzi juga?"
Adit lupa dengan keberadaan Kenzi, anak itu lama hidup di rumah sakit. "Kenzi juga."
Daichi tertawa. "Om, gak ikhlas banget menyebut Kenzi. Apakah karena dia terlahir spesial? Oh, yaa.. kalau bagi orang semacam om, menyebutnya cacat bukan?"
"Kamu-" Adit hendak mendekati Daichi dan menamparnya tapi ditahan oleh bodyguard di belakangnya. Ia menoleh ke belakang, dua bodyguard bertubuh besar dan tinggi sudah berdiri di masing-masing sisi.
Daichi menggelengkan kepalanya dengan miris lalu menarik tangan Ed dan Bella dengan diikuti adik Daichi yang beda dua tahun. Tadi pagi dia sudah mendengar cerita dari bibinya, Reiko.
Daichi juga tidak menyangka kalau Ed adalah anak dari adik papanya, dia tahu bagaimana satu sekolah, guru-guru bahkan kepala sekolah mengucilkan Ed tapi dirinya tidak mau ikut campur, toh kedua orang tua sudah menasehatinya untuk tidak terlalu bergaul dengan anak-anak di sekolah ini dan sekarang setelah mengetahui Ed adalah sepupunya, ia tidak bisa tinggal diam.
Di parkiran, si kembar berusaha melawan bodyguard yang menahan papinya sekaligus menjadi tontonan gratis orang-orang lewat, Adelio yang melihat dari dalam mobil sambil mengetuk jari di setir, tersenyum puas. Tidak sia-sia membawa bodyguard untuk berjaga-jaga, sekarang tinggal mengamankan ibu Ed.
---
Kepala Kinara bertambah sakit setelah selesai menguras air mati sambil menjadi tontonan kedua orang tuanya yang berusaha menghibur, dia juga melihat kedua orang tua Fumiko duduk di kursi yang sudah diambilkan seseorang. Ah, tindakannya benar-benar memalukan sekarang.
"Nara sudah lebih baik?" tanya Emiko, ibu kandung Fumiko dan Reiko.
Kinara mengangguk kecil sambil memijat kepalanya.
Emiko memegang dadanya dengan khawatir. "Aku mendapat telepon dari mama kamu, rupanya kamu sudah pulang dan mabuk bersama putriku dan suaminya."
"Maafin, Nara." Kinara menundukan kepalanya dengan perasaan bersalah.
Papa Kinara yang duduk di belakang Kinara memukul kepala belakangnya. "Sudah tahu mabuk itu tidak dibolehkan, malah kamu minum! Kalau sakit hati cukup telepon papa sama mama."
Kinara terisak sambil mengusap belakang kepalanya dengan malu, kedua orang tua ini masih saja memperlakukannya seperti anak kecil. "Pa, Narakan sudah punya tiga anak. Bisa ambil keputusan sendiri." Keluhnya.
Mama Kinara yang duduk di depan Kinara menatap tajam suaminya, Kinara yang masih duduk di tempat tidur menyingkir sedikit supaya papanya bisa mendapat tatapan maut.
"Adit sudah mengumumkan rencana ahli waris, si tua bangka itu menyetujuinya." Kata Takeo, papa kandung Fumiko dan Reiko dengan bahasa Indonesia fasih sama seperti istrinya. "Adit juga mengajukan pinjaman ke bank kami."
Papa Kinara, Donny. Bertanya ke Kinara. "Kamu tahu itu?"
Kinara menggeleng lemah. "Nara tidak tahu dan tidak mau tahu."
"Itu suami kamu, Nara. Om takut, orang itu memanfaatkan kamu saat tidak ada disampingnya. Om dengar kamu meninggalkan semuanya di rumah Adit.'
Kinara mengangguk pelan. "Nara hanya bawa kartu identitas dan uang lima ratus ribu, itupun sudah habis buat beli camilan anak-anak semalam."
Donny mengeplak belakang kepala anaknya lagi. "Kamu masih belum berubah, nekat minggat!"
Kinara menatap mamanya dengan tatapan keluhan dan memonyongkan bibirnya dengan manja.
Mama Kinara yang tidak tega, segera memukul tangan yang dibuat memukul Kinara. "Ini anak perempuan, bukan Dimas."
Kinara menangguk lemah sambil memeluk mamanya untuk meminta perlindungan. Ah, sudah dua belas tahun dirinya tidak bermanja-manja seperti ini, syukurlah meskipun tubuh kedua orang tuanya menua tapi masih terlihat segar dan sehat.
"Kapan kamu mau menceraikan Adit?" tanya Emiko. "Nara tinggal saja disini, atau pulang ke rumah. Aku dengar si tua bangka dan pelakornya mau mengadakan pesta penyambutan si kembar dan ibunya."
Kinara dan kedua orang tuanya sontak menoleh ke Emiko.
"Kalian tidak tahu?" tanya Emiko dengan heran.
Takeo menepuk pelan tangan Emiko. "Tentu saja Nara tidak tahu, mereka tidak akan memberitahukannya ke Nara. Mereka mengundang kita karena masih membutuhkan dana pinjaman bank, mereka tidak tahu kalau kita masih punya hubungan dengan Nara."
"Om," Kinara menatap Takeo dengan mata berkaca-kaca. Secara tidak langsung dia memahami arti kalimat Takeo 'selama ini kami membantu mereka karena mengenal Nara.'
Kenapa ia tidak menyadarinya dari dulu? Meskipun bersikeras keluar dari rumah dan putus hubungan. Fumiko dan Dimas mengirim seseorang untuk mengawasi dirinya lalu kedua orang tua Fumiko yang membantu memuluskan proyeknya selama ini.
Takeo berdehem dan mengoreksi. "Om kenal kamu, Nara. Selama ini pengajuan proyek kamu tidak main-main bahkan secara tidak langsung membantu bank milik om."
Kinara mengusap air mata dengan punggung tangan. "Iya, om."
Tok tok tok
"Masuk." Kata mama Kinara sambil membelai kepala putri kesayangannya.
Kenzi masuk bersama Reiko yang mendorong kursi rodanya.
Kinara menjulurkan tangannya untuk memanggil Kenzi. "Anak mama sudah bangun? kenalin, ini kakek dan nenek lalu yang duduk di kursi itu kakek dan nenek dari tante Fumi."
Donny mengerutkan kening. "Tante?"
"Fumiko gak mau dipanggil bude, keliatan tua," jawab Kinara.
Kenzi mencium tangan para tetua lalu menggerakan kursi rodanya di samping tempat tidur Kinara. "Mama sakit? Mama terlihat pucat."
Donny dan istri yang terenyuh melihat kondisi cucunya sontak mengomeli Kinara bersamaab.
"Anak kamu naik kursi roda? Kamy gak bawa ke rumah sakit? Mumpung masih kecil, mungkin bisa disembuhkan tulang kakinya."
"Dengar ya, papa kamu ini dokter! Kok bisa cucu papa kondisinya memprihatinkan seperti ini? Badannya juga kurus sekali."
Kenzi menipiskan bibirnya dan menatap sendu Kinara. Apakah dirinya mengganggu pertemuan keluarga dan mempermalukan mamanya?
Kinara menutup telinga dengan kedua tangan. Kedua orang tuanya sama-sama dokter, hanya saja bedanya Donny fokus mengurus rumah sakit sementara istrinya tetap menjadi dokter sekaligus mengawasi rumah sakit. Jadi, begitu melihat kondisi Kenzi yang duduk di kursi roda dengan kaki kiri dibalut pasti menjadi pertanyaan kedua orang tuanya.
Kinara sendiri tidak mau merepotkan orang tuanya dengan kondisi Kenzi apalagi posisi mereka putus hubungan keluarga.
Emiko bertanya ke Kenzi. "Kamu gak sekolah?"
"Home schooling, saya sejak kecil selalu di rumah sakit jadi tidak sempat sekolah seperti saudara-saudara saya."
Donny mengeplak belakang kepala Kinara.
Kinara mengelus kepala dan menatap sedih papanya sambil mengerang. "Papaaa."
"Sekali lihat saja papa tahu kalau anak kamu itu sehat, hanya kakinya yang bermasalah. Kenapa malah kamu masukan ke rumah sakit?" tanya Donny yang berani karena istri tercinta membela dirinya.
Kinara menatap sedih Kenzi. "Yah, memang ini salah Nara, pa. Waktu itu Nara dan Adit sibuk kerja sementara di rumah tidak ada yang menjaga ketat Kenzi soal latihannya, jadi Nara terpaksa memasukan Kenzi ke rumah sakit."
"Lalu suami kamu bagaimana? Dia setuju?" tanya Donny.
Kinara menggigit bibir bawah dan tidak berani menatap para tetua. "Adit juga sibuk."
Mama Kinara memijat kening. "Artinya dia tidak berkomentar sama sekali dan menyerahkan sepenuhnya ke kamu?"
Kinara mengangguk.
Reiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah, mau bagaimana lagi. Adit saja sibuk punya kembar dan istri baru jadi wajar bagi dia mengabaikan anak berkebutuhan khusus, padahal dulunya dia seperti itu."
"Apa?" tanya Kinara dengan heran.
"Nara, memang kedokteran tidak bisa memastikan penyebab bengkoknya kaki bayi sejak lahir. Kalau salah prosedur melahirkan tidak mungkin, karena kamu pasti mencari dokter terbaik, kemungkinan bisa dari keturunan." Donny menjelaskan ke putrinya.
Emiko mengangguk, membenarkan ucapan Donny. "Seingatku, dulu selingkuhan ayah Adelio adalah mantan pacarnya. Ayah kandung Adit membuang Adit dan kakaknya setelah mengetahui kelahiran Adit. Semenjak itu ayah Adelio menemani mantan pacarnya dan berusaha keras menyembuhkan Adit, dari perasaan kasihan berubah menjadi perasaan sayang melebihi anak kandungnya sendiri. Ibu Adelio tentu saja tidak bisa menerimanya, tapi dia juga tidak berdaya karena sebagian besar harta keluarga diserahkan ke suaminya."
Kenzi yang mendengar itu merasakan sedih.
Kinara mengusap kepala anaknya. Kalau diperhatikan lebih dekat, ibu Adelio jauh lebih cantik dan modis dari ibu Adit, perilakunyapun beda jauh. "Nara tidak pernah mendengar itu."
"Tentu saja dia tidak akan cerita, orang seperti itu lebih mementingkan harga dirinya." Sindir mama Kinara.