Donny mengambil keputusan tegas. "Hari ini papa menghubungi pengacara supaya kamu bisa bercerai dengan cepat, masalah anak-anak itu urusan mudah. Toh, suami kamu itu tidak akan mempermasalahkannya."
"Tapi Bella pasti akan diambil." Potong Kinara.
"Lho, kok cuma Bella?" tanya Emiko.
Reiko menggaruk kepalanya lagi. "Kenzi itu dibenci ayah kandungnya sementara Ed itu-"
Kinara menyadari lirikan Reiko lalu melanjutkan dengan jujur, daripada para tetua mendengar cerita dari Fumiko dan Dimas, lebih baik dirinya yang cerita. "Edward anak kandung Adelio."
Tidak ada reaksi dari para tetua, mereka terlalu shock mendengarnya.
Tiba-tiba mama Kinara menggoyang-goyang tubuh Kinara dengan cepat. "Kamu selingkuh dengan mantan tunanganku?!"
Kinara yang masih pusing karena mabuk menjadi mual.
Mama Kinara terbelalak ngeri. "Ka- kamu ternyata hamil juga?"
Donny mengeplak kepala Kinara. "Papa bangga melihat kamu begitu setia dengan pujaan hati, tapi papa tidak menyangka kamu bisa selingkuh di belakang suami kamu?! Anak macam apa kamu!"
Reiko menarik mundur kursi roda Kenzi. Ia sudah hapal dengan sifat barbar kedua orang tua Kinara.
Emiko berusaha memisahkan dan melindungi Kinara. "Sudah, sudah. Kalian bisa mendengarnya nanti, Nara masih sakit."
"Sakit apa? Dia habis mabuk gitu!" bentak Donny lalu menunjuk Kinara dengan marah. "Papa memang sakit hati karena kamu meninggalkan rumah demi Adit, tapi papa tidak menyangka kamu berani selingkuh sampai punya anak!"
Kenzi menatap Reiko yang berdiri di sampingnya. "Kakak Ed, bukan anak papa Adit?"
Reiko menepuk jidatnya. Para orang dewasa sudah melupakan keberadaan Kenzi.
"Jadi, kakak Ed bukan kakak kandung Kenzi?" tanya Kenzi ke Reiko.
Semua orang dewasa di dalam kamar berhenti lalu memutar badan untuk menatap Kenzi yang sudah di depan pintu tertutup.
Kinara berlari ke Kenzi dan berlutut. "Tidak sayang, kakak Ed itu kakak kamu. Jangan berpikiran seperti itu."
Kenzi menatap sedih Kinara. "Kenzi sudah terbiasa berbeda."
"Kamu gak berbeda sayang, kamu spesial. Mama sayang kamu." Isak Kinara.
Kenzi tidak tega melihat Kinara menangis. "Mama jangan menangis, Kenzi juga sayang mama."
Mata Kinara berkaca-kaca mendengar pernyataan anaknya. Selama ini kehidupannya selalu berputar di Adit, sekarang anak-anaklah kehidupannya. "Maafin mama sayang, selama ini mama mengabaikanmu."
Air mata Kenzi mengalir. "Mama."
Reiko terharu melihat momen ini. Kasih sayang ibu memang tidak digantikan.
---
Setelah menyuruh salah satu bodyguard mengembalikan mobil Reiko, sopir yang membuntuti Adelio tidak jauh dari sekolah, segera mengantar bosnya ke kantor.
Langkah kakinya terasa ringan seperti hatinya yang bahagia mengetahui sudah memiliki anak bersama Kinara, bagaimana proses membuatnya di masa lalu itu menjadi urusan belakang.
Senyum Adelio menghilang begitu melihat dua musuh bebuyutannya berani masuk ke dalam hotel dan berbincang dengan bahagia.
"Bagaimana kalian bisa masuk?" tanya Adelio. Dia sudah memberikan peringatan ke para pegawai untuk melarang makhluk-makhluk ini masuk ke lantai khusus kantornya.
"Apakah ini cara ibumu mendidik?"
"Setidaknya ibu kandungku punya waktu mendidik, berbeda dengan seseorang yang lebih peduli pada makhluk liar." Adelio melirik Adit. Hebat juga orang ini bisa datang ke hotel mendahuluiku. Ah, yah kalau dipikir kembali, aku harus mencari tempat untuk menukar mobil tanpa sepengetahuan orang jadi tanpa sadar membutuhkan waktu.
"Adelio!" bentak ayah Adelio.
Adelio mengangkat kedua bahunya.
Adit seperti biasa, berusaha menjilat ayahnya. "Kakak bicara benar, jangan tersinggung ayah."
"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Meskipun kamu bukan darah dagingku, tetap saja kamu sudah aku anggap sebagai anakku. Apa kamu lupa perjuangan ayahmu ini untuk menyembuhkanmu?"
Adit tidak ingin mengingat kenangan buruk itu. "Ayah."
Adelio yang melihat drama itu dengan muak, segera berjalan melewati mereka diikuti sekretaris dan bodyguard.
"ADELIO!" bentak ayah Adelio.
Adelio menghela napas untuk meluapkan emosinya lalu balik badan dan tersenyum. "Ada apa?"
"Setidaknya kamu harus bersyukur ada Adit yang bisa memecahkan masalah pewaris. Adit sukarela menyerahkan anaknya untuk menjadi penerus."
Adelio menatap tidak percaya ayahnya. "Apa ayah sudah gila?"
"ADELIO!" teriak ayah Adelio.
Adelio menaikan dagunya. "Ayah, apakah ayah tahu nama lengkapku? Seingatku dari dulu ayah membentakku 'Adelio', tidak pernah nama lengkap. Apakah ayah sudah melupakan nama lengkapku?"
Ayah Adelio terdiam.
"Apakah karena ayah yang memberikan nama itu sementara ibu sisanya sehingga ayah hanya mengingat nama pemberian ayah saja?"
"Ad-"
"Adit bukan anak kandung keluarga Sanjaya, bagaimana dia dan anak-anaknya bisa menjadi pewaris? Oh ya, satu lagi. Dokter mendiagnosa ku tidak punya anak, lalu kenapa ayah sebahagia itu? Apakah ayah dalang dibalik kecelakaanku?"
"Kakak, bagaimana bisa bicara begitu ke ayah?"
Adelio menaikan sudut bibir. "Aku masih bisa menerima anak haram memanggilku kakak, setidaknya kami sedarah. Tapi aku benci, anak yang melupakan asal usulnya melunjak."
Ayah Adelio memukul pipi kiri Adelio dengan marah. Karena terlalu cepat, tidak ada yang sempat bereaksi menolong dan bahkan ada yang ketakutan.
Adelio menyentuh sudut bibirnya dan melihat darah di tangannya dengan diam.
"Jangan hanya karena kakek membela kamu, jadi ngelunjak sebagai anak. Aku adalah ayah kandung kamu, semua harta ayahku adalah milikku! Dan aku bebas memberikannya ke siapapun."
Adelio geram mendengarnya, harta kakek memang diturunkan ke dirinya tapi harta ibunya justru diwariskan ke ayahnya. Inilah yang membuat Adelio bertahan selama ini, andai saja kakeknya hanya mengembalikan harta ibunya, Adelio bisa hidup bahagia bersama ibunya dan ibunya pun tidak dihantui perasaan bersalah seumur hidup.
Bisa saja Adelio menukar harta, tapi Adelio mengenal kelicikan ayahnya sejak kecil. Jika aku mengembalikan hotel dan cabangnya, ayah pasti tidak akan mengembalikan sekolah dan harta tidak bergerak lainnya milik ibu.
Contoh yang paling dekat saja, tanah milik ibu dijual dan dibeli oleh Nara lalu Adit membangunnya. Benar-benar licik!
Ibunya juga tidak bisa menuntut karena sertifikat tanah di mereka sementara Nara karena terlalu bucin, pasti menyerahkan semua kesuaminya.
Adelio harus memutar otak untuk menjatuhkan mereka sekaligus dengan cara menyakitkan. "Ayah begitu bangga menjadi putra kakek lalu merasa berhak dengan harta beliau, lalu bagaimana denganku? Apakah aku tidak boleh memiliki sifat yang sama?"
Adit menatap benci Adelio. "Apakah kakak menyindirku?"
"Apakah aku terlihat menyindirku?"
"Adelio." Ayah Adelio menunjuk Adelio. "Bersikap baiklah terhadap adikmu."
Adelio menatap ayahnya dengan tatapan terluka lalu balik badan. "Antarkan mereka berdua ke luar."
Para bodyguard mengangguk lalu mengusir ayah dan anak dengan sopan. Mereka tidak bisa bersikap kasar.
"AKU AYAH KANDUNG ADELIO! KALIAN TIDAK BISA MENGUSIRKU!"
"Ayah, kita pergi dari sini." Adit berusaha merayu ayahnya.
"DIA TIDAK BISA MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI! AKU ORANG TUANYA! HARTA MILIKNYA ADALAH MILIKKU!"
"Ayah."
"ADELIO MENJADI GILA GARA-GARA IBUNYA! HARUSNYA DIA TIDAK MENJADI CEO!" teriak ayah Adelio.
"Ayah."
Adelio membanting pintu dengan kesal. Milikmu? Benar, semua harta ini milikmu, lalu bagaimana dengan ibuku? b******k! Kenapa dia bisa menjadi ayahku?!
Tring
Adelio segera duduk di kursi kerjanya dan membuka handphone, i********: lebih tepatnya.
Adelio tersenyum melihat foto bayi lama dengan tulisan Ed. Putranya. Benar, dia sekarang sudah memiliki putra, tinggal merayu ibu anaknya dan menjadi miliknya.
Dulu Adelio selalu menyesal melepas Nara, sekarang Tuhan memberinya kesempatan jadi dia tidak akan melepas Nara. Aku mencintaimu, Nara.
Ed, ini si Edward itukan?
Ah, lucunya.
Bayi tidak berdosa terlahir dari wanita yang jahat, memang kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita.
Aku benci Kinara tapi aku tidak bisa membenci anak-anaknya yang lucu.
Adelio tersenyum membaca komentar netizen. Yah, setidaknya mereka tidak akan membully bayi apalagi ini bayinya.
Adelio menutup handphone dan segera bekerja dengan semangat untuk anak-anaknya dan istri masa depan.
Di dalam mobil, ayah Adelio mengomel ke Adit.
"Kamu terlalu baik ke Adelio, dia sudah menghina kamu! Mentang-mentang dilahirkan normal malah bersikap sombong."
"Ayah, kakak benar. Adit bukan siapa-siapa."
"Apanya yang bukan siapa-siapa? Kamu bagian dari keluarga Sanjaya, lahir dari wanita yang aku cintai. Ibumu terpaksa menikah dengan orang lain karena aku tidak bisa tegas, sama seperti kamu sekarang. Gara-gara kejahatan Kinara, kamu jadi berpisah dan si kembar hidup di luar."
Adit tersenyum sedih. "Waktu itu Kinara juga tidak salah, aku memilih Kinara di depan umum."
Ayah Adelio menatap sedih Adit. Andaikan saja sifat putranya menurun seperti Adit. "Jangan terlalu baik ke orang lain, kamu bisa dimanfaatkan."
"Ayah, dia istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Wajar aku membelanya."
"Aku jadi merindukan si kembar. Sepulang sekolah, bawa si kembar ke rumah ayahmu ini."
Adit mengangguk senang. "Tentu saja ayah. Mereka pasti bahagia bertemu kakeknya."
Ayah Adelio mendengus kasar. "Langkah kamu sudah benar, untung saja si kembar sudah lahir duluan jadi anak Kinara tidak bisa menggantikan posisi kamu. Ayah tidak rela anak-anak Kinara menjadi pewaris."
Adit lega mendengar perkataan ayah tirinya, sebelumnya ia sempat takut si kembar tidak diterima didalam keluarga. Tinggal berusaha merayu Kinara kembali untuk membantunya mengurus perusahaan, Cynthia hanya tahu cara menjadi artis bukan pengusaha. Jadi untuk menutupi kekurangan ini, Kinaralah yang hanya bisa.
Kinara harus kembali tidak, dia tidak punya tempat selain pulang ke rumah. Selama ini Adit tidak pernah bertemu keluarga Kinara dan orang-orang suruhannya pun sudah memastikan kalau Kinara hanya anak yatim piatu, yayasan yang menaunginya pun sudah memberikan bukti.
Adit tersenyum puas. Memiliki Cynthia dan Kinara merupakan anugerah untuk dirinya sementara Adelio yang merupakan anak kandung, tidak ada apa-apanya. Kaya tanpa memiliki istri dan anak? Itu merupakan kerugian seorang pria.
Adelio memiliki kelebihan tapi Adit juga tidak kalah dari Adelio, tinggal menunjukan kemampuan di hadapan para investor dan lainnya.
Lihat saja Adelio, seluruh harta keluarga Sanjaya akan jatuh ke tanganku. Kamu bukan apa-apa bagiku dan tidak ada lagi yang bisa menginjak keluargaku!