Edward yang sudah duduk di kelas, menerima tatapan tidak suka seisi kelas. Sebagian dari mereka sudah melihat interaksi Edward dan papanya, tapi mereka tidak menyangka si Daichi yang pendiam dan tidak bisa didekati, bersama anak yang mereka bully.
Daichi merupakan putra dari pemilik rumah sakit terkenal di Indonesia, cabangnya pun dimana-mana tapi di Jakarta paling terbaik karena fasilitasnya yang lengkap, orang-orang kaya pun tidak perlu ke luar negeri untuk pengobatan. Ibu Daichi juga anak dari pemilik bank dari Jepang di Indonesia yang terkenal dengan investasi untuk pengusaha lokal yang kebanyakan sukses. Makanya banyak yang berusaha menjilat Daichi atau orang tua mereka memaksa untuk berteman dengan Daichi bagaimanapun caranya.
Edward mengabaikan tatapan menusuk, memilih membuka buku dan memeriksa pr-nya.
"Bagaimana kamu bisa dekat dengan Daichi?" tanya anak laki-laki yang duduk di seberang kursi.
Edward tidak menjawab.
"Hei, aku bertanya padamu!"
Edward mengabaikannya.
Anak laki-laki itu berdiri dan hendak memukul Edward.
"Apakah ini perilaku anak-anak kaya Indonesia?"
Seisi kelas menoleh ke pintu. Daichi berdiri dan bersandar di daun pintu sambil menatap dingin mereka, kedua tangannya dilipat di depan d**a, berusaha menahan balasan untuk sepupunya.
"Daichi."
"Daichi."
Seisi kelas Edward menjadi heboh.
Daichi masuk ke dalam kelas Edward dan meletakan tasnya di samping kursi Edward. Bangku kelas ini satu meja untuk dua siswa, semua sudah diisi, hanya Edward yang duduk sendirian.
"Kamu ngapain disini?" tanya Edward.
Daichi menunjukan handphone. "Ada telepon masuk yang menyuruhku menemanimu. Apakah ini ayah kandung kamu semalam?"
Edward melihat foto di handphone, jam tangan dan tangan yang sama seperti di i********:. Ia tersenyum. "Terima kasih."
"Tidak perlu sungkan, kitakan sepupu." Bisik Daichi, "Identitasmu belum boleh diungkap, kan?"
Edward mengangguk. "Ya."
"Oke." Daichi melirik Edward yang sudah membuka buku. "Apakah ada pr?"
"Ya."
Daichi menarik buku LKS di meja Ed lalu terbelalak. "Kamu sudah mengerjakan semua isinya? Wah, membosankan sekali hidupmu."
Ed menatap Daichi. "Mengerjakan itu bisa membosankan?"
"Kamu tidak bosan?"
Edward menggeleng.
Daichi mengusap hidung dengan jari. "Sebenarnya kita sama."
"Ya?"
"Aku juga sudah mengerjakan semuanya bahkan setelah mendapat LKS, aku mengerjakan semuanya."
Edward tertawa geli.
"Aku melakukan itu karena malas, malas terburu-buru dan berpikir. Mottoku bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Cengir Daichi, "Aku juga senang bermain, kapan-kapan aku ajak ke tempat bermainku."
Edward menatap takjub. Taman bermain? Aku belum kesana.
"Tidak mau?"
"Tentu saja aku mau, selama ini aku tidak punya teman jadi aku tidak pernah kemanapun."
"Apa? Kamu tidak pernah keluar rumah?"
Edward mengangguk.
"Bahkan ke mall?"
Edward mengangguk lagi lalu koreksi. "Kedua orang tuaku sibuk dan aku tidak mau mengganggu mereka, aku juga gak punya uang dan gak tahu harus bagaimana buat kesana."
"Ternyata kehidupanmu jauh lebih parah."
"Benarkah?" Edward tidak pernah tahu bahwa kehidupannya tidak senormal anak-anak lain.
"Ke luar negeri juga belum pernah?"
"Belum."
"Kamu ini beneran anak orang kaya? Anak dari keluarga sederhana saja bisa lho jalan-jalan keluar, masa kamu enggak."
"Kedua orang tuaku si-"
"Kamu tidak punya inisiatif?"
Edward terdiam.
Sekarang Daichi jadi memahami karakter sepupunya. Kedua orang tua Ed sibuk dengan urusan masing-masing, mendapat bullyan dari sekolah dan orang-orang rumah maupun keluarga dekat tidak ada yang peduli sehingga membuat anak berusia sebelas tahun yang sudah SMP takut akan dunia luar. Ini tidak bisa dibiarkan.
Daichi menepuk punggung Edward dengan keras dan mengepalkan tangan di udara. "Semangat!"
Edward tersenyum canggung.
Sepulang sekolah, Edward bernapas lega. Hari ini tidak ada yang mengganggunya, bahkan para guru terang-terangan menghindar. Ini berkat Daichi.
Edward berhenti ketika melihat Adi dan Ari yang berbeda satu tahun dengan dirinya sedang bermain basket dan dilihat beberapa siswa sambil bersorak mendukung.
Daichi yang sedari tadi main psp menabrak Edward. "Aduh, maaf."
Edward masih memandangi pemandangan itu di lapangan.
Daichi mengikuti arah pandang Edward. "Itu kembar yang tadikan? Kamu kenal?"
"Mereka anak om Adit."
"Hah?"
Edward melihat Adi mengacak kepala Ari yang berhasil memasukan bola ke ring, tidak susah membedakan si kembar. Adi tidak memiliki tahi lalat di sudut mata sementara Ari ada, lalu Adi agak kalem sementara Ari belingsatan dan manja, meskipun terkadang sifat mereka berdua tertukar.
"Wah, mereka sedang bersenang-senang. Aku heran, kamukan anak om Adit waktu itu tapi kenapa perlakuannya berbeda?"
Edward meninggalkan tempat tanpa menjawab pertanyaan Daichi.
"Hei," panggil Daichi sambil menyusul Edward. "Kenapa kamu tidak menjawab?"
"Ibu mereka artis terkenal sementara mamaku dikenal sebagai wanita jahat." Jawab Edward.
Daichi menjadi bingung dengan jawaban Edward. "Kalau mama kamu jahat, tidak mungkin mamaku membawa masuk ke rumah."
Edward berhenti dan balik badan. "Kamu tidak mendengar gosip sekolah? Berita mamaku aja dipasang di mading sekolah."
"Hah? Aku gak tahu, aku gak pernah baca yang gitu-gitu, lagipula buat apa mading jadi acara gosip?"
"Sekolah ini milik kakek dan kakek membenci aku, mama dan adik-adikku. Jadi mereka bebas melakukan apa saja ke aku dan Bella."
"Kamu tahu dari mana kalau kakek kamu yang bully?"
"Karena aku pernah menguping. Waktu itu aku bertengkar dengan salah seorang teman kelas, dia memukulku duluan jadi aku membalasnya. Tapi saat kepala sekolah telepon, kakek malah marah dan tidak mau tahu lalu kakek kelepasan soal tidak becus mengusirku."
"Jadi, tujuan mereka melakukan itu hanya untuk mengusirku?"
Ed mengangguk. "Katanya sekolah ini tidak boleh dimasuki anak-anak dari wanita jahat."
Daichi menipiskan bibirnya. "Kenapa kamu tidak pernah bilang itu ke mama atau papa kamu?"
"Dulu hubunganku dengan mama tidak terlalu dekat, mama selalu sibuk di luar sementara om Adit lebih fokus mengurus wanita dan anak-anak lain."
"Ed."
Edward menggeleng. "Itu hanya masa lalu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Oh ya, mungkin aku akan pindah sekolah."
"Pindah sekolah?"
"Kedepannya mungkin mama tidak sanggup membayar sekolah yang mahal."
"Tapikan ada papa kandung kamu."
Edward terdiam lalu berkata, "Aku ingin masuk sekolah negeri."
"Kalau begitu aku ikut."
"Eh?"
"Tidak menarik kalau sendirian di sekolah, meskipun sebelumnya aku selalu sendirian. Tapi sekarang aku punya teman jadi tidak mungkin sendiriankan?"
Edward menjadi linglung. Teman?
"Kamu tidak menganggapku sebagai teman meskipun kita sepupu?"
"Te- tentu saja, kita berteman!"
"Syukurlah, yuk kita jemlut Bella." Daichi tertawa bahagia.
Teman, ya.
Begitu sampai di TK Bella, Edward dan Daichi melihat pemandangan mengenaskan.
Bella dikepung kawanan ibu-ibu sambil menggandeng anak mereka, Bella hanya menundukan kepala sambil memeluk tas koper mini barbie kesayangannya.
"Memang ya, sifat anak menurun dari ibunya. Kamu lihat anak aku, merah tangannya gara-gara kamu!"
"Ta- tapi Bella gak sengaja," isak Bella.
Edward ingin masuk ke dalam kerumunan tapi dilarang Daichi.
"Bella-"
Daichi mengambil handphone di saku jaket dan menghubungi seseorang.
"BELLA TIDAK TAHU!" teriak Bella sambil menangis dan memeluk tasnya. "Mamaaaaa-"
Edward melihat kakak perempuan om Adit menggendong anaknya terburu-buru keluar dari gerbang sekolah. Apakah ini ulah anaknya lagi setelah memukul Bella dengan balok kayu?
"Papa kamu saja sudah malu sama mama kamu, anaknya saja diperkenalkan di depan umum. Bagaimana dengan kamu, hah!"
"Anak kecil sudah berani menyiksa temannya!"
Bella menangis.
"Argh!"
Semua orang menoleh ke sumber suara, mereka melihat seorang wanita sambil menggendong anak dijambak rambutnya oleh seorang pria tampan, bertubuh tinggi dan memakai kacamata mata hitam bermerk, disekelilingi body guard.
Bella hendak berlari menuju Adelio, didorong salah satu ibu yang sudah dari tadi menahan amarah, dia tersungkur di tanah.
"BELLA!"
Adelio yang marah melihat kejadian itu, menjatuhkan kakak tirinya ke tanah, mengabaikan anak dipelukannya.
"Adelio, kamu sudah gila!" jerit Ana.
"Anakmu yang berulah, kenapa harus Bella yang menanggungnya?"
"Apa maksudmu?"
"Perlu aku tunjukan cctv?"
Ana memeluk erat putrinya. "Dia sedang bermain dengan teman, tidak sengaja kena Bella. Lagipula ini hanya permainan anak ke-"
PLAK!
Salah satu bodyguard menampar pipi Ana.
Adelio melepas kaca mata hitam dan menatap geng ibu-ibu yang membully Bella. "Apakah anda semua tidak malu memarahi anak kecil?"
Salah satu ibu tidak terima. "Dia sudah melukai anak ini."
"Apa anda tuli? Wanita ini-" Adelio menunjuk Ana, "Bilang tidak sengaja menyenggol Bella, lantas kenapa Bella dimarahi?"
"Tetap saja kalau dia berhati-hati-"
"Kenapa? Apa kalian takut karena ibu pelaku kenalan pemilik sekolah ini?" tanya Adelio.
"Kamu sendiri siapa?"
"Orang yang tidak ada hubungannya, tidak perlu ikut campur."
Adelio melepas kacamatanya. "Saya? Saya anak sah pemilik sekolah ini."
Ibu-ibu tidak mempercayainya, mereka justru mengomel dan mengancam.
"Tunjukan kartu namamu! Suamiku akan memastikan kamu dikeluarkan dari tempat kerja!"
"Atau usahamu bangkrut!"
"Benar itu."
Adelio mengabaikan teriakan ibu-ibu dan berjongkok. "Bella, sudah tidak apa-apa."
Bella mengusap air mata lalu berlari menuju Adelio.
Edward menghela napas lega.
Bodyguard menyebar, menutup akses gerbang. Para guru dan kepala sekolah TK yang bersembunyi di ruang guru, diseret keluar.
"Tuan muda Sanjaya." Sapa kepala sekolah.
Ibu-ibu yang tadinya berani menjadi lemas di kaki, jadi orang ini benar-benar tuan muda dari keluarga Sanjaya?
Adelio menegakan badannya sambil menggendong Bella, Edward memanfaatkan momen itu dengan mengambil tas adik perempuannya.
"Tidak ada yang boleh keluar sampai suami kalian tiba kesini dan menghadapi saya."
Ibu-ibu mulai lemas begitu mendengar ancaman Adelio. Mereka berani karena mendengar tidak ada yang membela Bella, memaksa Kinara keluar dan memaki ibu-anak sekaligus. Tapi sekarang, sepertinya mereka akan mendapat amarah dari suaminya.
Daichi mengangkat terbalik jempol tangan kanannya.
Ana cemas suaminya akan dipanggil, suaminya pengusaha di bawah naungan nama Sanjaya, adiknya. Kalau Adelio mengetahui hal itu, bisa-bisa bisnisnya ditarik, ia menyesal tidak kabur lebih awal hanya karena ingin mengabadikan momen Bella dimarahi sehingga adiknya bisa memenangkan sidang perceraian dan hak asuh anak sekaligus, jika mereka benar-benar bercerai.