Bella menangis di pelukan Adelio, kedua tangan melingkar di lehernya.
Adelio yang tidak memiliki pengalaman dengan gadis kecil, hanya bisa pasrah menggendongnya sementara Ana memeluk kaki Adelio untuk memohon.
"Adelio, tolong jangan libatkan suamiku." Mohon Ana, mengabaikan tatapan orang banyak. Ini masalah masa depan, apa kalian semua tidak ingin kaya sampai mati?
Adelio menendang Ana dengan kuat hingga jatuh terjengkang ke belakang.
"ADELIO!" jerit Ana.
Adelio menatap dingin Ana. "Jangan memanggilku dengan mulut kotormu itu."
Ana diam ketakutan melihat aura menyeramkan di sekitar Adelio.
"Tuan muda, Bella bukan siapa-siapa. Kenapa anda membelanya seperti itu?" tanya kepala sekolah TK.
Adelio salut dengan keberanian kepala sekolah. "Kalau begitu, kamu panggil ayah anak ini sementara saya memanggil ibunya."
"Y- ya?" Kepala sekolah TK gemetaran mendengar tantangan Adelio.
Adelio menatap ibu-ibu. "Jangan lupa menghubungi suami kalian."
Ibu-ibu segera menelepon suami, diiringi rengekan anak mereka.
"Saya jadi ingin tahu bagaimana sikap ayahnya begitu tahu putri satu-satunya diperlakukan seperti ini." Adelio tersenyum ke Bella.
Daichi melirik Edward yang masih diam tidak bereaksi. "Sepertinya masalah ini semakin lebar, perlu aku panggilkan orang tuaku?"
Edward menggeleng.
Satu jam kemudian, Adit dan Cynthia datang bersama-sama dalam keadaan berantakan.
Adelio menaikan sudut bibirnya. Ini sore hari dan belum waktunya pulang tapi kamu sudah pulang ke rumah dan bermesraan dengan istri siri? Hebat!
Ekspresi Adit berubah masam ketika melihat Bella duduk dipangkuan Adelio. "Bella, kemari!" perintahnya dengan tegas.
Sementara Cynthia berjalan ke arah ibu-ibu yang wajahnya pucat, dia membantu menenangkan mereka dan berbicara ke para guru untuk bertanya kronologis lengkapnya.
Bella yang ketakutan, meringkuk di dalam pelukan Adelio. Dia tidak ingjn bertemu papanya sekarang.
Para suami yang sudah berkumpul di gerbang sambil mengomel, segera masuk setelah para bodyguard membukakan pintu gerbang untuk Adit.
"Apa-apaan ini!"
"Kami tidak punya waktu untuk lelucon!"
"Siapa kalian sampai berani menganiaya anak dan istri saya?!"
"Papa!"
"Suamiku!"
Para istri menangis dan memeluk suaminya, anak mereka melakukan hal sama.
"Siapa anda, sampai berani mengancam kami!"
"Tuan Sanjaya!"
Segera, beberapa suami mulai mengenali Adelio.
Adelio menghitung di dalam hati. Kelas Bella berisi dua puluh anak, sementara kelas lain sudah di ijinkan pulang setelah kepala sekolah menghubungi Adit. Jadi saat ini yang hadir hanya orang-orang terkait.
Daichi celingukan. "Om, tante Nara kemana?"
Adelio menatap pias handphonenya. Selama ini, dia memiliki nomor Nara tapi tidak pernah digunakan, sekalinya digunakan malah Dimas yang mengangkat, mengancamnya dan di blok.
Adelio menatap Bella. "Sepertinya mama tidak bisa kesini."
Bibir Bella cemberut mendengarnya. "Kenapa mama tidak bisa kesini?"
"BELLA!" bentak Adit.
Bella menatap tidak suka papanya. "Bella suka disini."
Cynthia berusaha mengambil hati sekaligus menjadi kompor. "Bella, jangan begitu. Papa sudah capek-capek kesini, masa tidak bisa menghargai papa Bella? Apa mama Bella yang mengajari?"
Edward berdiri di samping Adelio lalu menyindir wanita Adit. "Astaga, Bella. Kamu lihat gak baju yang dipakai wanita itu? Bukankah itu gaun mama yang dipilih Bella?"
Bella membulatkan matanya dan melihat gaun bermotif bunga yang dipakai Cynthia lalu mengangguk. "Itu punya mama."
Cynthia tergagap. "Ed, baju ini banyak yang jual jadi-"
Edward menggeleng. "Astaga, tante gak tahu ya? Apa selama ini papa tidak pernah cerita? Waktu itu papa bilang sedang kesulitan uang jadi gak bisa membelikan mama dress cocktail sederhana seharga lima ratus ribu kalau gak salah. Benarkan Bella?"
Bella mengangguk. "Mama nunjuk hape ke papa."
"Jadinya Bella menunjuk salah satu gaun lama mama lalu dirombak, itu mama yang jahit sendiri lho karena mama tidak percaya dengan pekerjaan orang lain dalam waktu singkat."
Adit tidak tahu istrinya bisa menjahit, selama ini dia hanya terima beres. Bukankah istrinya itu gila kerja dan tidak suka mengurus pekerjaan rumah?
Edward menangkap kebingungan di wajah Adit. "Papa pasti gak tahu, soalnya mama belajar diam-diam di luar. Apa papa tidak melihat beberapa baju papa yang dijahit mama karena papa bilang kekurangan uang?"
Adit tidak mampu menjawab.
"Ah, sekarang Ed tahu. Ada pesta amal disana, dibagi dua waktu. Jam delapan malam acara orang-orang kaya yang memberikan barang untuk amal sementara jam sepuluh malam untuk orang-orang kaya yang menghamburkan uang membeli barang-barang itu. Bukankah anda datang di atas jam sepuluh malam?"
"EDWARD SANJAYA!" bentak Adit.
"Kenapa? Apakah perkataan Ed salah, om Adit?" tanya Edward.
"ANAK KURANG AJAR!" Adit mengangkat tangannya, hendak memukul Edward.
"BERANI KAMU PUKUL PUTRAKU?!"
Semua orang menoleh ke arah suara.
Kinara berjalan dengan anggun memakai kaos putih hasil culikan di lemari Dimas, jeans milik Fumiko, jas milik Emiko yang hanya dipajang di lemari Fumiko dan topi milik Reiko. Sesekali ia melihat handphone yang dibelikan Donny secepat kilat dengan bantuan Takeo sementara tasnya dibelikan mama Kinara secepat kilat juga.
Mulut Adelio menganga lebar melihat kecantikan sederhana ibu kandung putranya. Astaga, pantas saja anak-anaknya good looking semua, emaknya dandan sederhana saja sudah buat jantung berdebar.
"Siapa?"
Tanya ibu-ibu yang saling mencolek, dandanannya tidak menor dan memang cocok untuk pertemuan orang tua sementara yang satunya.
Para ibu melirik sinis Cynthia. Apa-apaan pakaian menerawang itu? Mau menggaet para suami disini? Lihat mata para pria, dari tadi gak bisa lepas dari lekuk tubuh Cynthia yang menerawang.
Jika Adelio mengetahui batin para ibu-ibu, dia akan mengomel dan berteriak 'Kecuali aku!'
Adit mengerjapkan matanya dan menggosok untuk memastikan tidak salah lihat. "Kinara?"
Sejak kapan Kinara berubah memakai pakaian sederhana? Bahkan make up tidak semenor biasanya.
Adelio berdehem dan menyapa Kinara. "Hallo."
Kinara yang berjalan melewati dan mengacuhkan Adit, segera berdiri di depan Edward untuk melindunginya. "Orang tua macam apa kamu, sampai tega memukul anak."
"Aku hanya ingin memberikan disiplin," jawab Adit.
Kinara tertawa sinis. "Dengan memukulnya?"
"Kinara, kamu sudah bersikap keterlaluan." Cynthia berusaha menjadi penengah.
"Diam kamu, istri siri!" bentak Kinara.
Adelio bersiul bahagia. Tadinya dia khawatir dengan reaksi Kinara, tapi sepertinya ia tidak perlu khawatir.
Kinara menatap Adit. "Si kembar, apa kamu pernah memukulnya?"
"Tentu saja," bohong Adit.
Kinara memiringkan kepalanya. "Kamu kira aku tuli?"
"Apa?"
"Si kembar selalu bicara kalau orang tua mereka tidak pernah memukul, lantas Ed berbeda?"
"Kinara," Adit hendak memegang tangan istrinya
Kinara menepis dan menatap dingin Adit. "Jangan pernah menyentuhku."
"Mama." Bella menggapai tangan mamanya dengan wajah sedih.
"Apa yang terjadi disini? Kakakku bilang ada masalah."
Adelio berdiri sambil menggendong Bella. "Biar aku saja yang gendong, kamu duduk dulu."
Kinara yang ditarik Adelio duduk, terpaksa menurut. Kepalanya masih pusing.
Adit menunjuk. "Kamu- kamu kenal Adelio?"
Edward langsung bisa tahu kemana arah bicara mereka, hendak membantah. "Bu-"
"Hah? Apa kamu sudah menua jadi pelupa?" ejek Kinara.
Cynthia mencari kesempatan. "Kata Ed, kamu menginap di rumah teman. Jangan-jangan teman kamu itu cowok?"
Kinara memijat keningnya, mengabaikan pertanyaan tidak penting Cynthia.
Adelio angkat bicara. "Ah, aku lupa. Adit, istri sirimu berasal dari keluarga biasa bukan? Jadi bicara tidak memakai otak."
"Jangan menghina! keluarganya itu PNS dan tentara, Cynthia juga seorang artis!" Ana berusaha melindungi Cynthia meski masih berada di belakang punggung suaminya.
Sontak ibu-ibu tertawa.
"Aku ingat, ada ibu-ibu yang menghina orang lain karena keluarganya bukan PNS."
"Benar, kalangan bawah membanggakan jabatan PNS tapi menghina yang bukan PNS."
"Apa mereka juga akan menghina dan memamerkan kekayaan ke kita?"
"Apa yang salah dari PNS? Masa depan mereka dijamin pemerintah!" hardik Ana ke grup ibu-ibu.
Mereka semakin menertawakan Ana.
"Kakak, kamu lebih baik diam," tegur Adit.
"Bagaimana aku bisa diam? Latar belakang Cynthia jauh lebih baik dari Kinara, dia hanya anak yatim piatu yang bahkan hidupnya mengandalkan dirimu, Adit!"
Telinga Adelio bergerak begitu mendengar hinaan Ana.
Daichi dan Edward menatap bengis Ana.
Kinara tertawa jahat. "Apakah kamu tidak punya malu?"
"A-"
"Kamu menghinaku tapi memakai pakaianku? Jangan membantah, karena di bagian ujung kanan rok ada inisial N yang berarti Nara."
Ana yang memakai rok semata kaki, mengangkat ujung kanan dan melihat inisial N di ujungnya.
"Untuk belajar, aku sering eksperimen menggunakan pakaian sendiri. Tidak aku sangka, semalam aku pergi, lemari pakaianku sudah dibuka." Geleng Kinara dengan dramatis.
Para ibu-ibu yang hanya tahu situasi Kinara dari tv dan gosip, mulai memahami situasinya. Kinara memang salah mengganggu pertunangan Adit tapi menjadi pelakor dan mengambil barang-barangnya, lebih salah lagi.
Adit menatap dingin Cynthia dan kakaknya.
Cynthia dan Ana diam, tidak bisa membantah.
"Nara, satu kelas denganmukan?" tanya Adelio ke Adit.
"Kami beda kelas," jawab Adit.
Adelio mengangguk mengerti. Pantas saja, Adit tidak tahu kondisi sebenarnya keluarga Kinara, lagipula waktu itu satu sekolah tidak menyukai Adit yang merupakan anak liar keluarga Sanjaya, hanya Nara yang berani mendekatinya.
"Aku teman sekelas kakak Kinara, jadi wajar aku berada disini karena dimintai tolong."
Adit menatap bingung Kinara. "Kamu punya kakak?"
Kinara tidak menjawab.
"Sekarang kita kembali ke situasi awal, Ed dan Daichi menjemput Bella dan melihat dia dikelilingi para wanita di sekolah dan memakinya."
Kinara memutar kepalanya dengan cepat ke Adelio.
"Itu karena Bella tidak sengaja menyenggol seorang anak yang sedang memegang gelas berisi air panas." Adelio menjelaskan ke Kinara.
"Bagaimana bisa anak kecil memegang gelas berisi air panas? Lalu apa anak itu sudah dibawa ke dokter?" tanya Kinara ke para guru TK.
Guru TK hanya menundukan kepala tanpa bisa menjawab.
"Anakku sudah dibawa ke dokter, tapi tetap saja aku menuntut ke anak kamu, Kinara!" teriak ibu anak itu yang mengenali Kinara dari TV.
Kinara berdiri dan berhadapan dengan ibu gendut itu. "Lalu, bagaimana bisa anak anda membawa gelas berisi air panas? Apa selama ini anda membawa botol minum berisi air panas? Apa kamu sengaja mengabaikan keselamatan anak anda?"
"Itu-"
"Sekarang aku tanya, bagaimana bisa anak kamu membawa gelas berisi air panas?"