Si ibu itu tidak bisa menjawab.
Kinara mengalihkan tatapannya ke anak kecil yang menjadi korban, ia berjongkok dan tersenyum. "Siapa namanya?"
"Shella," jawab anak itu.
Si ibu memegang erat pundak anaknya.
"Kenapa membawa gelas berisi air panas, itukan bahaya." Kinara memegang kedua tangan Shella, "Apakah tidak ada guru disamping Shella?"
Kepala Shella menunduk. "Tidak."
"Terus kenapa Shella bawa gelas berisi air panas?"
Shella menunjuk anak di dalam pelukan Ana. "Dia yang menyuruhku."
Kinara mengangkat kepala dan melihat Ana belingsatan berusaha menutupi putrinya.
"Ah!" Reiko yang tiba-tiba muncul di belakang Kinara menunjuk anak itu. "Dia yang melempar Bella dengan balok kayu sampai berdarah, guru-guru tidak langsung mengobati Bella tapi malah sibuk menjauhkan anak itu dari Bella."
Kinara menatap tidak percaya suaminya. "Kamu dengar itu?"
Adit mengusap wajah dengan kedua tangan. "Kinara, ini hanya masalah anak kecil."
Kinara terpana begitu mendengar jawaban Adit. "Apa kamu tidak pernah menganggap Bella sebagai darah dagingmu?"
"KINARA!" bentak Adit.
"Kamu lihat Adit, lihat sekarang!" Kinara balas membentak suaminya. "Bella menangis sekarang, dan siapa yang menggendongnya?! Bukan ayah kandungnya, justru kamu berdiri disini membela kakak dan keponakanmu!"
"Kinara, jangan memperbesar masalah kecil seperti ini!" bentak Adit yang tidak mau kalah.
"WALI MURID DISINI MENGEPUNG PUTRIMU DAN KAMU BILANG AKU MEMPERBESAR MASALAH?!" Kinara menunjuk wali murid yang dimaksud.
Adit menjadi frustasi. "Kita selesaikan ini di rumah."
"Rumah yang mana?" tantang Kinara.
"Kinara, jangan macam-macam!" Adit memperingatkan Kinara.
Adelio dengan sigap berdiri di depan Kinara dan melindunginya bersama Bella di dalam gendongan. "Apa ini cara ayah membesarkanmu?"
Adit menatap tidak percaya Adelio. "Apa?"
"Kamu ingat, ayah membuangku demi kamu yang bukan darah dagingnya dan sekarang kamu melakukan hal sama ke Bella? Aku rasa kamu sudah mulai ketularan ayah."
Adelio menusuk titik sakit Adit. Bukan anak kandung dari keluarga Sanjaya, hanya anak tiri yang disayang melebihi anak kandung tapi tidak bisa mewarisi harta secara resmi.
Adit menyerang titik sakit Adelio dan mulai melontarkan omong kosong. "Kakak, seharusnya bersyukur memiliki aku. Aku punya dua anak kembar sehat, dan mereka calon pewaris yang bisa dibanggakan karena aku melatihnya sejak mereka di dalam kandungan."
Sontak semua orang menjadi gempar. Itu berarti selama ini Adit hanya mengakui anak dari istri sirinya daripada istri sah.
Daichi menepuk punggung Ed. "Tidak apa, setidaknya kamu sudah tahu kalau dia bukan ayah kandung kamu."
Edward tersenyum sedih.
Sayangnya, Adelio tidak merasakan apapun. Jika dulu dia akan marah, sekarang dia tidak akan marah.
"Sudah?"
Adit bingung melihat ketenangan Adelio.
"Meskipun, ayah mengharapkan kamu menjadi pewaris. Aku tidak akan memberikannya sukarela, karena kamu tidak becus mengurus hotel."
"Adelio! Kamu tega sekali mengatakan itu ke saudara kamu!" hardik Ana.
Adelio mengalihkan tatapannya ke Ana. "Aku anak tunggal, ayahku hanya memiliki anak satu yaitu aku. Sejak kapan kalian berdua menjadi saudaraku?"
"Kakak, ini masalah keluargaku. Kakak tidak bisa ikut campur!" kata Adit sambil berusaha menggapai Kinara yang ditutupi Adelio.
Cynthia yang tidak tahan melihat itu, berkomentar. "Kinara, ada hubungan apa kamu dengan kakak mas Adit? Apakah kamu selingkuh?"
Kinara menatap dingin Adit dan mengabaikan Cynthia. "Sudah jelas ini ulah keponakan kamu, kenapa Bella harus bertanggung jawab?"
"Kita bicarakan ini secara kekeluargaan," kata Adit.
"Adit, anak kamu ketakutan dan kamu tidak khawatir sama sekali?" tanya Kinara.
Cynthia menjawab, "Kamu bicara apa Kinara, inilah sebabnya kamu terlalu memanjakan anak makanya anak kamu-"
"DIAM!" bentak Edward yang sudah berdiri di depan mamanya. "Diam kamu!"
Cynthia mencibir, "Lihat, bahkan anak kamu bersikap tidak sopan ke yang lebih tua."
Kinara menatap kosong Adit. Jadi ini pria yang dia perjuangkan sampai rela berkorban? Benar kata kakak, memperjuangkan cinta itu tidak harus berkorban.
Kinara mengalihkan tatapan ke ibu anak yang terluka. "Jika ingin meminta ganti rugi, minta mereka jangan putriku. Putriku tidak tahu apa-apa."
Ana tidak terima. "Tunggu! Jangan bersikap seenaknya, anakmu-"
"Aku sudah menyimpan rekaman cctv, anakmu melempar balok kayu ke kepala anakku. Aku bisa menuntut para guru disini atas kelalaian."
Para guru tk dan kepala sekolah menjadi gelisah begitu mendengar ancaman Kinara.
"Dengan begitu, aku bisa menemukan pelaku sebenarnya."
Adelio dengan bahagia mengajukan diri. "Aku akan membantumu."
"Kinara," panggil Adit.
Kinara menggandeng tangan Daichi dan Edward. "Aku serahkan sisanya ke kamu, oh ya... bukankah pemilik yayasan ini adalah ibu kamu?"
Adelio mengangguk.
Ana menggeleng. "BUKAN! Yayasan sekolah ini sudah diserahkan ke ayah tiri kami!"
Kinara berhenti lalu balik badan menatap jijik Ana. "Siapa kamu?"
"Apa?"
"Ah, aku ingat sekarang. Bukankah kalian berdua hanya anak tiri? Lalu bagaimana ceritanya kalian bisa bersikap sebagai pemilik?" tanya Kinara.
"Kinara, bicaramu keterlaluan." Adit tidak terima kakaknya dihina.
"Ayo kita bercerai, aku tidak akan mengambil apapun kecuali anak-anak supaya bisa mempercepat kamu menikahi Cynthia, kasihan lho jadi istri siri kamu."
"KINARA! KAMU YANG SUDAH MENGHANCURKAN PERTUNANGAN KAMI!" Teriak Cynthia.
"Benar, aku yang menghancurkan hubungan kalian waktu itu. Terus? Akukan sudah berbaik hati memberikan mantan suamiku ke kamu." Ejek Kinara.
"Kinara, kita berdua belum bercerai." Tolak Adit, Kinara adalah ibu dari tiga anaknya. Tidak mungkin mereka berpisah begitu saja.
Kinara menatap Adit. "Sejak aku lihat kamu mengabaikan permintaan Bella untuk digendong, hatiku sakit dan sekarang aku melihat kamu tidak melindungi Bella, justru melindungi kakak kamu dan anaknya, hatiku mati. Bagaimana bisa aku dan anak-anak bertahan dari laki-laki seperti kamu?"
Edward menggenggam erat tangan Kinara, berharap bisa meredakan emosinya.
"Wajar memang di zaman sekarang, pria memiliki wanita lain bahkan menikahinya dengan alasan poligami tapi hal itu tidak wajar untukku-"
"Seharusnya kamu bisa belajar ikhlas, Adit sudah memilih hidup bersamaku dan tidak seharusnya kamu mengganggu kehidupan kami, Adit sudah memiliki anak denganku lagipula secara agama, pria bisa memiliki lebih dari satu istri." Cynthia melupakan posisi Kinara sebagai istri sah di depan umum.
Kinara menatap kecewa Adit. "Seorang istri dituntut melayani suami ya, termasuk harus mengakui perselingkuhan dan poligami?"
"Nabi-"
"Dia manusia, bukan nabi. Jika kamu ingin menyamakan Adit dengan nabi, apakah dia bisa membelah lautan? Tidak bukan?" Potong Kinara tanpa melihat Cynthia. "Jika kamu ingin mempercepat pernikahan, aku mengabulkannya.
Adit diam membeku.
Kinara menatap Adit untuk terakhir kalinya. Wajah tampan yang selalu dipuja sejak remaja dan ingjn memilikinya. "Aku tahu kesalahanku di masa lalu, karena itu aku dan anak-anak tidak akan muncul di hadapanmu."
"Kinara-"
"Kamu ingin kebahagiaan kan? Aku juga ingin bahagia, jangan ganggu aku lagi."
Adelio menatap cemburu Adit. Tatapan itu tidak pernah didapatkannya.
Bella melihat ekspresi Adelio lalu menepuk kepalanya seperti bayi.
Adelio menatap Bella.
"Bella selalu diginiin kakak kalau sedih, semoga kesedihannya hilang," cengir Bella.
Adelio tersenyum dan mencium pipi gembul Bella. Adit memang menyebalkan, tapi anaknya tidak.
Kinara segera meninggalkan sekolah, diiringi teriakan sumpah serapah Adit.
"KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA HIDUP ENAK BERSAMAKU!"
Adelio yang berjalan di belakang Kinara dan Reiko, menertawakan teriakan Adit. Apa dia lupa selama ini Kinara bisa menghidupi dirinya sendiri?
---
Satu jam setelahnya, Adit mengancam kakaknya untuk menyelesaikan semua akibat perbuatannya di ruang kepala sekolah bersama ibu dan anak korban sementara yang tidak terlibat disuruh pulang.
"Aku sudah pernah bilang, jangan pernah mengganggu istri dan anak-anakku!"
"Bukankah kamu bilang sendiri akan menceraikannya di masa depan karena sudah memiliki Cynthia dan si kembar. Aku berusaha membantumu karena kamu tidak cerai-cerai, kamu sebenarnya paham perasaan Cynthia gak sih?"
"Kakak, aku memang mencintai Cynthia tapi aku juga menyayangi Kinara."
"Adit!"
"Sekarang jika aku menghancurkan pernikahan kakak, apa yang akan kakak lakukan kepadaku? Menangis? Berteriak?"
"Adit! Kakak ini sayang sama kamu, makanya kakak melakukan segala cara supaya..."
"Jadi, kakak memang sengaja melukai Bella?"
"Adit, bukan begitu. Kakak hanya menyuruh anak-anak menjahili Bella supaya tidak betah, kamu tahukan bagaimana citra publik Kinara? Semua orang membenci Kinara, ibu dan ayah sampai marah karena memikirkan masa depan kamu."
Adit mengacak rambutnya dengan frustasi.
Di lain tempat, Kinara menangis kencang di dalam pelukan Adelio.
Setelah meninggalkan sekolah, Adelio menarik Kinara untuk mengikutinya sementara anak-anak pulang bersama Reiko.
Di dalam mobil hanya ada Adelio dan Kinara, semakin lama Kinara tidak mampu menahan air mata, ia berusaha menghapusnya.
Adelio yang sedang menyetir, menarik tangan Kinara. "Jangan dipendam."
Kinara menatap Adelio sekilas lalu menangis. Dia benar-benar melakukan kesalahan bodoh, ini adalah karmanya dan dia harus ikhlas menjalaninya.
"Aku mencintai Adit segenap hatiku, aku tidak percaya dia bisa melakukan ini kepadaku. Dulu aku hanya ingin menolong hatinya yang dikhianati Cynthia, aku bahkan rela berperan sebagai antagonis. Tapi kenapa itu semua menjadi sia-sia?" tangis Kinara.
Adelio mengeratkan genggamannya di setir, berusaha konsentrasi dan memadamkan emosinya.
"Aku tidak pernah mengeluh satupun, aku juga tidak berani menyentuh anak-anak karena aku takut melukai mereka."
Adelio sudah tahu, tidak ada yang tahu atau mungkin Fumiko dan Dimas mengetahuinya tapi berpura-pura tidak tahu. Setelah kelahiran Ed, Kinara mengalami baby blues.
Adit dan keluarganya mengabaikan Kinara dengan alasan sibuk, yang ternyata mereka fokus merawat Cynthia dan si kembar yang sudah lahir duluan.
Kinara berusaha menyembuhkan dirinya sendiri dengan datang ke psikiater, tapi pada akhirnya dia memilih sibuk bekerja dan menjauh dari anak-anak daripada melukai mereka.
Adelio memarkir mobil di pinggir jalan lalu menarik Kinara masuk ke dalam pelukannya. "Butuh waktu untuk melupakan Adit tapi setidaknya kamu masih memiliki anak-anak, keluarga dan aku."
Kinara menangis keras, melupakan gengsi dan harga diri tinggi di depan Adelio. Hatinya terlalu sakit diperlakukan seperti ini, apalagi yang melakukannya orang yang dia cintai dan mengeluarkan banyak pengorbanan.