Ruangan yang tadinya sangat berisik dan panas karena perdebatan antara ibu Hani dan ibunya Mara kini sudah menjadi tenang dan kembali dingin. Ibu Hani sudah pulang karena kini ada orang tua Mara yang menjaga Mara yang masih saja mengeluarkan bulir-bulir di pipinya yang putih kaku karena pucat, ibunya yang melihat hal ini memandang Mara yang sedang menangis dengan muka sayu, karena kesedihan anaknya adalah kesedihannya juga menurutnya. Air mata yang berwujud kristal bening itu diseka oleh tangan ibu Mara, seperti biasa seorang ibu adalah orang yang paling tidak ingin anaknya menangis walaupun tidak mengetahui apa yang menyebabkan anaknya jadi seperti ini. Tidak beberapa lama di ruangan yang hening itu datang seorang laki-laki yang saat ini adalah suami sah dari ibunya Mara, saat itu Ma

