Ibu Hani mulai membuka mulutnya untuk menceritakan kebenaran kepada ibunya Mara, di sunyinya ruangan itu, ia yang duduk di samping Mara sambil menggenggam tangan Mara yang sudah pastinya sangat dingin, sedingin pualam. Ia menatap Ibu Hani lamat-lamat yang duduk di samping pintu keluar ruangan perawatan. “Jadi … yang menyebabkan Mara seperti ini, adalah suami Ibu sendiri,” lirih Ibu Hani sambil menatap mata ibu Mara dalam. Dengan tatapan kosong, dia menatap Ibu Hani tidak ada respon sedikit pun, yang keluar dari mulutnya hanyalah kata, “Omong kosong.” Dengan nada yang lirih, tidak percaya. “Semua yang Mara ceritakan ini berawal semenjak Ibu menikah dengan suami baru Ibu itu, apa Ibu tahu, apa yang sering suami Ibu lakukan kepada Mara? Apa Ibu tahu ke mana suami Ibu setiap larut malam

