Kesembuhan itu hanya bisa didapat oleh orang yang bebas, sedangkan bagi setiap orang yang terpenjara oleh segala ikatan akan selamanya sakit, sakit karena tidak ada yang ia miliki, sakit karena terkekang, sakit karena penderitaan, sakit karena keinginan yang tak tercapai, dan sakit karena tidak menemukan kesembuhan. Semuanya akan berlalu, semuanya akan hilang, dan yang tidak bisa kalian temukan adalah kesembuhan, hanya orang bebas yang bisa sembuh.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Mara diputuskan untuk dirawat di rumah tempat tinggalnya saja karena melihat Mara di rumah sakit hanya seperti ini saja, tidak ada perkembangan, tetap membisu, tetap dengan tatapan kosongnya, tetap dengan wajah yang sangat pucat dan sayu.
Mara dibawa pulang ke rumah oleh ibunya sendiri menggunakan taksi. Saat di dalam taksi, ibunya dan Mara duduk bersebelahan, tapi seperti biasa hanya ada obrolan sepihak dari ibunya untuk Mara seperti di ruangan perawatan beberapa hari yang lalu. Saat Ibunya berbicara, Mara hanya diam membisu memandangi jendela mobil yang tertutup kaca dengan pandangannya yang kosong, ibunya terus berbicara karena menurut ibunya, Mara cepat pulih jika ia bisa terus membiasakan dirinya dengan keadaannya setelah baru tersadar karena banyak melakukan hal yang tak masuk akal, jadi wajar membuat pikirannya Mara syok, pikir ibunya.
Saat berbicara dengan Mara, Ibu seakan melupakan semua yang Mara lakukan untuk percobaan bunuh dirinya itu, karena tidak ingin anaknya kembali melakukan hal menyedihkan dan bodoh seperti itu lagi, karena itulah ibunya memilih untuk tidak membicarakan hal itu kepada Mara.
Sesampainya di rumah, Mara langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya kemudian menguncinya seperti yang dulu-dulu. Ibu yang melihat hal itu lagi-lagi merasa sedih yang cukup mendalam karena kebingungan tentang semua yang terjadi pada putrinya ini sehingga dia menjadi orang yang seperti ini.
Ini sudah hari kesebelas saat Mara mulai mengurung diri di kamarnya. Ibu semakin bingung dan mulai membicarakan hal ini dengan suaminya setelah suaminya pulang dari bekerja dua hari yang lalu.
Dengan nada kesedihan Ibu karena anaknya yang mengurung dirinya sendiri di kamar, membuatnya ingin membicarakan situasi ini. Setiap malam dia hanya bisa mengantarkan makanan dan minuman di depan pintu Mara karena selalu tidak ada jawaban saat dia memanggil anaknya itu dari luar kamar. Ibu Mara yang sudah tidak tahan lagi dengan keadaan Mara yang semakin hari semakin tidak bisa dijelaskan.
Ibu dan suaminya itu pun berunding apa yang harus mereka lakukan untuk membantu Mara agar dia tidak seperti ini lagi, dan kembali menjadi normal seperti biasanya.
“Sepertinya Mara ini kejiwaannya terganggu, Istriku. Karena pusing memikirkan kau yang menyuruh dia PTN, maaf istriku … sepertinya karena itu. Kau tidak salah, wajar jika setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, hanya mungkin ada hasutan temannya yang membuat Mara seperti ini, sepertinya,” ucap sang suami untuk meyakinkan istrinya, saking meyakinkannya ibu dari Mara itu langsung percaya begitu saja dan meneguk mentah-mentah racun yang diracik suaminya sendiri itu, racun yang terbuat dari kebohongan, racun yang sangat lezat karena dibuat khusus oleh seseorang yang ia cintai.
Dengan raut muka memelas dan sayu ibu dari Mara itu menanyakan kepada suaminya, “Terus, apa yang harus kita lakukan untuk mengobati Mara ini?” tanyanya.
“Kita akan minta para petugas Rumah Sakit Jiwa untuk membawa Mara ke sana agar segera diobati, mungkin ini akan sangat sulit bagi kita, karena Mara adalah anak kita berdua sekarang, tapi mau bagaimana lagi, ini untuk kesembuhan Mara,” jawab sang suami dengan raut muka yang begitu terlihat sedih demi meyakinkan istrinya lagi.
Ibu Mara menganggukkan kepala tanda bahwa ia setuju dengan semua keputusan suaminya yang langsung menelpon Rumah Sakit Jiwa untuk meminta menjemput anaknya yang sedang mengurung diri di kamar dan mengkasuskan Mara sebagai orang yang sakit jiwa.
Beberapa menit kemudian ambulans Rumah Sakit Jiwa datang dan para petugas yang banyak, tujuh orang dan dua dari mereka adalah perempuan, yang langsung menuju kamar Mara untuk membujuk Mara supaya mau keluar, dan ke Rumah Sakit bersama mereka.
Karena tidak ada jawaban, mereka pun menggunakan cara terakhir yaitu mendobrak kamar Mara dan dengan niatan membawanya paksa ke Rumah Sakit Jiwa.
Braakk!
Pintu pun didobrak bersamaan dengan Mara yang berteriak menyuruh semua orang yang masuk untuk pergi, tentu saja teriakan Mara tak dihiraukan, dia pun memberontak hingga memukul beberapa orang yang mencoba menyentuhnya. Mara mengamuk membabi buta karena dirinya tidak tahu akan dibawa ke mana.
Saat mengamuk, Mara melihat ayah tirinya yang tersenyum menyeringai kepadanya membuat Mara semakin berteriak keras. Melihat itu, para petugas rumah sakit berinisiatif untuk mengikat Mara dengan sangat terpaksa agar bisa dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
Akhirnya Mara tidak memberontak lagi karena sudah diikat oleh para Petugas Rumah Sakit jiwa, mulut Mara terus mengatakan; mati dan pahit berkali-kali, dan matanya melotot sayu dengan aura membunuh terarah kepada ayah tirinya yang juga memandang Mara dengan senyuman menyeringai, seakan dia terlihat puas dan kegirangan melihat anak tirinya itu diikat.
Saat ibu menatap wajah suaminya, suaminya menghentikan senyuman menyeringainya dan memakai topeng kesedihan dan iba, supaya membuat sang istri sadar bahwa bukan hanya dirinya saja yang sedang bersedih, tapi dia juga sedih melihat anak tirinya diikat dan diperlakukan seperti itu tadi.
“Pahit, pahit, pahit, pahit, pa ….” racau Mara yang akhirnya berhenti karena disuntik dengan obat bius yang membuatnya kehilangan kesadaran, hingga Mara dimasukkan ke dalam ambulans dengan tenang tanpa pemberontakkan sedikit pun lagi.
Ibu yang melihat Mara diperlakukan dengan tidak manusiawi menurutnya seperti itu tentulah sangat menyedihkan, melihat putri satu-satunya itu diperlakukan seperti bukan manusia. Dia tidak dapat membendung bulir-bulir air matanya yang dengan cepat membanjiri pipinya sejurus dengan sang suami yang memeluk sang istri yang sedang bersedih itu sambil mengelus kepala istrinya dan mengatakan bahwa Mara akan baik-baik saja di sana dan ini yang terbaik, itulah yang diucapkannya.
Mobil ambulans itu pun berangkat setelah memasukkan Mara ke dalamnya. Ibu hanya bisa terus menatap, lamat-lamat matanya mengikuti pergerakan mobil itu sampai mobil itu menghilang dari pandangannya, lalu sang suami pun langsung mengajak istrinya untuk masuk ke rumah agar bisa menenangkan sang istri yang sudah sangat tidak bisa mengontrol emosi kesedihannya itu.
Setelah beberapa jam Mara pun sadar dan terbangun, kemudian ia celingukkan memandang sekitar yang hanya ada warna putih di sana, sampai akhirnya Mara sadar bahwa tangan dan kakinya telah diikat di kasur itu, membuat Mara langsung berteriak meminta tolong sampai -sampai suaranya habis, lalu dia pun pingsan.
Beberapa menit dari pingsan, Mara kembali sadar dengan keadaan sudah tidak lagi terikat dan melihat seorang petugas sedang di ruangan putih tempatnya ini. Mara pun langsung bertanya, “Ini di mana?” Mara mengeluarkan suaranya yang masih tidak stabil.
“Ah, Nak Mara sudah sadar, ini di Rumah Sakit … Mara,” jawab orang itu tanpa menjelaskan bahwa ini adalah Rumah Sakit Jiwa, jika ia mengatakan hal yang sebenarnya tidak menutup kemungkinan bahwa Mara akan memberontak lagi dan mencoba kabur dari sini dan itu akan sangat merepotkan.
“Mara tidak sakit,” lirih Mara, yang menjelaskan bahwa dia tidak sakit atau apa pun yang membuat dia harus dirawat dan berada di Rumah Sakit.
“Mara … Rumah Sakit itu tidak hanya untuk orang yang sakit karena penyakit yang terlihat atau berdampak pada tubuh maupun kesehatannya,” jawab orang itu lagi sambil merapikan meja yang berantakan di ruangan putih itu.
“Jadi, ini Rumah Sakit Jiwa?” tanya Mara lagi kepada orang itu, setelah Mara mempertanyakan hal itu tiba-tiba air matanya berjatuhan karena dia cukup merasa terpukul bahwa ibunya sudah menganggap ia gila. Petugas rumah sakit itu terkejut karena mendengar Mara yang dengan cepat mengetahui keberadaannya sekarang membuat ia tersenyum dan mengatakan, “Mara … kehidupan ini memang kadang kejam … sangat kejam, kau harus ke sini dan berobat di sini tanpa kau sadari,” jawab petugas itu lagi.
Kata-kata itu membuat Mara semakin menangis dan mengeluarkan ratusan bulir dari matanya tersebut, tapi kini tangisannya tidak berarti apa pun lagi karena dia harus dirawat di sini, dan itu mungkin akan sangat lama, dan Mara mulai menyadari bahwa dia sekarang benar-benar sendirian lagi, dia juga tidak mengetahui keberadaan Ibu Hani lagi dan bahkan Ibunya membuangnya ke Rumah Sakit Jiwa ini menurutnya.
Benar-benar pahit.