Air Mata?

1259 Kata
  Berita yang tidak bertuan langsung menjadi makanan bagi netra yang kelaparan mencari target untuk disalahkan, diejek, dicaci, karena jika tidak begitu dunia akan terlihat akan sangat damai dan Tuhan benci itu, harus ada yang terluka, harus ada yang tersakiti, harus ada yang menderita. Sekolah gempar karena ini untuk pertama kalinya ada yang melakukan percobaan bunuh diri di sekolah, apalagi yang melakukannya adalah siswi dari kelas akhir yang sudah selesai menjalankan ujian. Berita tentang siswi itu telah tersebar di mana-mana, orang-orang seakan menikmati apa yang sedang terjadi, ada yang hanya sekedar ingin tahu, ada yang cuma ikut-ikutan meramaikan, dan ada sebagian orang yang tidak peduli dengan itu semua. Sekolah mau tidak mau harus segera memberitahu kejadian ini kepada orang tua Mara, sebab banyak yang mengatakan bahwa Mara bunuh diri karena stres menghadapi soal ujian yang begitu berat, ada juga berita yang mengatakan Mara bunuh diri disebabkan keluarganya yang tidak harmonis, bahkan berita tentang Mara bunuh diri hanya karena ingin diperhatikan atau cari panggung untuk dipedulikan oleh orang-orang sekitarnya. Semua berita tampak simpang siur, mau laki-laki atau perempuan semuanya membicarakan tentang Mara di koridor sekolah, hari ini sepertinya sudah ribuan kali nama Mara disebut dari mulut ke mulut yang tidak ada pertanggung jawabannya. Pihak sekolah panik karena tidak mungkin harus terus membiarkan kejadian ini seakan tidak terjadi dan kemudian diam membisu seolah menutup mata atas kejadian ini. Pihak sekolah pun memutuskan untuk memanggil orang tua Mara ke sekolah  agar dapat memberitahu orang tua Mara, apa yang sebenarnya terjadi dengan Mara, tak lama pihak sekolah pun menelepon nomor telepon yang tertera di absensi kelas Mara. Suara telepon mulai terhubung kepada orang tua Mara, sekolah berpikir jika memberi tahu kejadian itu lewat telepon genggam tidak sopan, karena itulah sekolah ingin mengundang selaku orang tua Mara untuk membicarakan semuanya secara baik-baik. “Selamat pagi, apakah benar ini orang tuanya Mara,” ucap salah satu Guru yang ditugaskan untuk menghubungi keluarga Mara. “Selamat pagi, benar, ini Ibu dari Mara. Ada apa ya?” “Kami dari pihak sekolah, Ibu. Mengharapkan kesediaan Ibu untuk hadir ke sekolah hari ini karena ada sesuatu yang terjadi dengan anak Ibu,” lanjut Guru itu memberi tahu kalau anak dari Ibu Mara saat ini sedang mengalami masalah. “Maaf, Bapak. Anak saya kenapa, ya? Dia itu anak yang cerdas dan patuh tidak mungkin dia melakukan hal yang buruk di sekolah,” jawab Ibu Mara yang sepertinya sedikit kesal karena saat ini dia sedang dinas di luar kota, dan dia sangat percaya kepada anaknya itu bahwa anaknya bukanlah anak yang nakal yang bisa menyebabkan dirinya dipanggil oleh pihak sekolah seperti ini. “Pokoknya, Ibu Mara datang dulu ke sekolah, nanti kami jelaskan semuanya. Sampai jumpa di sekolah, Ibu,” ucap Guru yang mewakili pihak sekolah untuk menelepon Ibunya Mara sejurus dengan mengakhiri percakapan di telepon, karena ia bingung harus mengatakan apa lagi kepada Ibunya Mara, tidak mungkin ia langsung mengatakan bahwa Mara tiba-tiba bunuh diri di ruangan UKS, dan sekarang Mara sedang di Rumah Sakit karena dirawat. “Cih!” Ibu Mara cukup tersinggung atau mungkin jengkel karena diperlakukan kurang sopan menurutnya, kemudian langsung merapikan perlengkapannya dan segera berangkat ke sekolah Mara dengan menggunakan taksi. Ibu Mara bergegas karena sangat penasaran dan khawatir dengan yang dilakukan putri satu-satunya itu di sekolah yang menyebabkan dia dipanggil ke sekolah, tanpa panjang lebar Ibu Mara langsung memasuki sekolah setelah sopir taksi menurunkan dia di depan pagar sekolah Mara. Murid-murid sekolah yang membicarakan Mara di koridor semuanya terdengar samar-samar oleh Ibu Mara, Ibu Mara semakin panik mendengar bahwa Mara sedang dibicarakan, untungnya tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Ibunya Mara, membuatnya bisa berjalan tenang sampai ke kantor meski dengan banyak pikiran dan pertanyaan di kepalanya. Ibu Mara pun langsung disambut oleh Kepala Sekolah dan Wali Kelas Mara, Ibunya Mara pun dipersilahkan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak sekolah, Ibu Mara duduk dan kemudian disuguhkan air teh agar bisa berbincang santai, itulah niatan dari pihak Sekolah. Kepala sekolah pun mulai berbicara kepada Ibu Mara dengan basa-basi yang membuat Ibunya jenuh seakan sangat bertele-tele dan membuatnya semakin tidak tenang. “Maaf, Bapak … bisa langsung jelaskan saja, anak saya kenapa?” kata Ibu Mara sedikit ketus karena sudah cukup lama bersabar menahan gejolak yang ada di hatinya memikirkan anaknya. “Ibu yang sabar ya … Mara kemarin … mencoba bunuh diri di ruangan UKS dan sekarang Mara dirawat di Rumah Sakit. Mara terselamatkan, tapi, untuk sekarang kami tidak mengetahui keadaan Mara, ia sudah siuman atau belum.” Mendengar hal itu Ibunya Mara terdiam, bibirnya tak mampu untuk bergerak, mukanya merah seakan menahan emosi yang seakan-akan ingin meledak. Tangannya mengepal seakan tidak terima bahwa semua itu terjadi kepada anak tercintanya. “Tidak mungkin hal seperti itu Mara lakukan!” teriak Ibu Mara kepada Kepala Sekolah yang sudah menjelaskan dengan panjang lebar. “Tapi itulah yang terjadi, kepada Mara. Tepat kejadiannya kemarin siang,” ucap Kepala Sekolah untuk membuat Ibu Mara yakin, bahwa hal yang ia tidak inginkan terjadi kepada anaknya itu, sudah terjadi. “Sekarang Mara di mana? Di Rumah Sakit?” “Iya, Ibu. Di rumah sakit dekat sini, letak Rumah Sakitnya di depan komplek sekolah ini,” jawab Kepala Sekolah sejurus dengan Ibu Mara yang langsung keluar dari kantor tanpa satu patah kata pun kecuali suara pintu yang tertutup dengan kencang. Dia cepat-cepat berjalan keluar sekolah dan langsung berlarian menuju ke Rumah Sakit yang begitu dekat, napasnya yang terengah-engah tidak ia hiraukan, karena yang terpenting adalah Mara, anaknya. Setelah sampai di rumah sakit dia segera menanyakan di mana letak ruangan anaknya pada pelayanan administrasi di lantai satu dan kemudian setelah tahu ruangan di mana anaknya di rawat ia langsung bergegas untuk menemui anaknya yang katanya melakukan percobaan bunuh diri di sekolahnya sendiri. Sampai akhirnya ia sampai tepat di depan pintu ruangan putrinya dirawat, ia langsung membuka pintu itu dan melihat putrinya sudah sadar dengan memakai baju pasien lengan pendek dan mengenakan perban di tangan kirinya, dan ia langsung menuju putrinya itu dan memeluknya erat. “Mara … anak Ibu, apa yang terjadi?” tanyanya kepada anaknya yang hanya diam membisu tanpa suara. Dia mengeluarkan air mata yang dengan cepat membasahi pipinya seakan tidak percaya hal malang ini terjadi pada putrinya. Ia melihat ada juga sosok wanita di ruangan itu kemudian bertanya kepada orang itu, apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya, dan bagaimana hal seperti itu sampai terjadi. Orang itu adalah Ibu Hani, orang yang sejak awal mendampingi Mara saat dia ditemukan tergeletak di ruangan UKS sampai Mara siuman saat ini. Tanpa panjang lebar Ibu Hani langsung menjelaskan bagaimana kronologi kejadian di UKS dimulai dari Mara yang meminjam kotak pensil yang di dalamnya ada pisau cutter, sampai Mara yang ditemukan bersimbah darah. Ibu Mara yang mendengar cerita Ibu Hani kembali menangis dan terus menyangkal bahwa hal itu benar-benar terjadi kepada anaknya. Ia terus bertanya kepada anaknya yang hanya diam menatap jendela dengan pandangan mata kosong, tapi semua pertanyaannya hanya dijawab dengan kebisuan yang tidak ia harapkan. Suara di ruangan perawatan itu tampak sepi setelah Ibu Mara menyerah untuk mencoba mengetahui apa yang menyebabkan semua hal itu terjadi kepada mara, dan itu saat yang tepat bagi Ibu Hani untuk mengatakan kebenaran kepada Ibunya Mara. “Ibu, apakah bisa saya bicara dengan Anda empat mata?” tanya Ibu Hani kepada Ibunya Mara yang menggenggam tangan kanan Mara, karena sangat khawatir dengannya atau hanya takut Mara tidak ada lagi di dunia ini bersamanya. Dia menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia bisa berbicara empat mata dengan Ibu Hani yang ingin memberi tahu kebenaran kepadanya. “Jadi … yang menyebabkan Mara seperti ini adalah suami Ibu sendiri.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN