Nilam menoleh ke arah putranya. “Nizam, kamu main sama Papa, ya! Kan Papamu udah jauh-jauh ke sini, jadi temenin dia dulu!” Nizam menghentikan kunyahannya. “Terus, Pak Guru ngapain dong, Mah? Enggak bisa ya, kalau kita main bareng-bareng bertiga?” "Enggak bisa, Zam." Nilam tersenyum manis. “Ada beberapa soal pelajaran yang perlu Mama tanyain ke Pak Guru soalnya. Pelajaran yang sangat sulit, yang nggak bisa Mama kerjain sendiri. Jadi, kamu sama Papamu mainan, Mama sama Pak Guru mau belajar.” “Ohh .…” Nizam mengangguk paham, lalu berbalik menatap ke arah Zamil. “Ya udah kalau gitu. Ayo kita pergi ke kamarku aja, Pah!” Tangannya langsung menggenggam tangan Zamil, menarik ayah kandungnya menjauh dari meja makan. Zamil melirik ke arah Nilam, tapi mantan istrinya itu sudah memalingkan wajah

