“Oke, sekian pelajaran hari ini,” ucap Tirta, lalu tatapannya jatuh tepat ke arah salah satu mahasiswinya yang duduk di paling belakang. “Untuk Zulaikha Nilam Puspita, tolong temui saya di ruangan saya!” Beberapa mahasiswa menoleh penasaran, sebagian lainnya malah bersorak kecil dengan nada menggoda. Tirta tak peduli, dia langsung berbalik dan keluar kelas dengan langkah mantap. Sementara Nilam masih terdiam di kursi, matanya mengikuti punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Napasnya terasa berat. Dia mengusap wajah dengan kasar, berusaha menghapus segala perasaan yang mengaduk di dalam d**a. Tasnya disampirkan ke bahu, langkah pelan dia berjalan seakan setiap meter menuju ruang Tirta adalah beban yang menggantung. Sesampainya di depan pintu, Nilam mengetuk perlahan. "Perm

