Jantung Nilam seperti mau meledak. Seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Dia segera bangkit. "P—Pak Tirta?" Pria tampan yang duduk santai di sofa itu, mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam yang digulung hingga siku memperlihatkan lengannya yang kekar, rahang tegas, hidung mancung, dagu terbelah dan bibir ideal dengan tatapan mata tajam yang menancap lurus ke arah Nilam begitu menyadari keberadaannya. Senyum miringnya muncul, senyum yang entah kenapa bikin perut Nilam seperti diaduk-aduk. “Eh … Nilam, kamu kok bisa ada di sini?” Suara Tirta terdengar tenang, tapi di telinga Nilam, nada itu terdengar menyebalkan. “Ini rumah saya, Pak." Nilam memaksakan diri untuk tersenyum ramah. “Bunda Winda sang pemilik catering adalah ibu saya.” Bunda Winda menoleh, expresinya tampak ka

