“Ngobrolin apa?” Ekspresi Nilam mulai melunak, rasa penasarannya mengalahkan kesal yang tadi. "Duduk sini dulu!" Tirta menepuk-nepuk ranjang, berharap Nilam duduk di sebelah kanannya. "Kalau kamu mau denger obrolan aku sama Bundamu." Nilam ragu beberapa detik, lalu akhirnya dia berjalan pelan mendekati ranjang. Kedua tangan meremas ujung daster, dan begitu sampai di tepi ranjang, dia duduk dengan jarak aman setengah meter di sebelah kanan pria itu dengan posisi duduk tegak dan kepala menoleh ke arah Tirta. "Cepat ceritain!" “Aku tadi minta izin sama Bunda Winda,” balas Tirta santai. “Aku bilang, kalau aku mau serius berhubungan sama kamu, dan beliau mengizinkan aku untuk sering-sering datang ke rumah ini ketemu kamu dan Nizam.” "Eh ...." Mata Nilam mengerjap. "Tapi kita kan udah putus!

