Ranti masih tidak percaya, kejadian yang pernah dia alami waktu itu, sekarang terulang kembali. Wibi yang tiba-tiba hadir menyapa Ranti dengan mengambilkan buku referensi yang sulit dia jangkau. Tatapan mereka beradu, tapi ekspresi dan sikap Wibi yang dingin masih sama tidak ada perubahan. Padahal, Ranti sangat merindukan sikap dan senyuman hangat Wibi yang membuatnya mampu melewati peristiwa sulit seperti kemarin. “Ma—maksih, Kak.” Ranti merasa sangat canggung dan asing dengan Wibi yang sekarang berdiri di hadapannya. Wibi pun langsung pergi melewatinya menuju rak buku yang lain. ‘Sosok laki-laki yang sangat dekat dan selalu bersikap hangat, sekarang semua berubah. Entahlah, apakah aku sanggup untuk memulainya kembali? Karena yang pasti aku tidak sanggup untuk melupakan kenangan manis

