“Hhmmmpphh.” “Hah.” Ranti merasakan jantungnya seakan ingin meledak karena napas yang menyesak di d**a. Perlahan ia mencoba menarik napasnya. Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang tidak asing bagi Ranti. Namun, suara itu terdengar kurang jelas. Bagai sayap lebah yang berdengung di telinga. Ranti terus mencoba mengatur napasnya. Tak lama berselang ia mendengar kembali seorang pria yang mengatakan sesuatu. Suara itu pun masih belum jelas dalam pendengaran Ranti. Hingga Ranti mendengar kembali suara itu. Walau samar-samar, tetapi sudah semakin jelas terdengar. “Tarik napas, embuskan ... perlahan coba buka matanya!” suara pria itu seakan menuntun Ranti untuk kembali sadar dan membuka mata. Ranti mengikuti apa yang diminta oleh suara itu. Perlahan Ranti mulai merasakan jemarinya bisa

