"Makanya harus nurut kalau mau diurusin!" ujar Bian ketus. Danish mengangguk pelan. "Iya, Tuan Putri," jawab Danish lirih. Wajahnya yang pucat tampak memelas. Bian kembali ke tempat duduknya.
"Haa ...!"
Bian menyodorkan sesendok bubur yang mulai dingin. Walau rasa mual terasa menyiksa, lelaki bermata elang itu berusaha membuka mulutnya. Sesuap bubur berhasil dia telan dengan kekuatan super.
"Kamu sakit karena telat makan. Makanya jangan susah makan, Tuan. Apa susahnya, sih? Orang lain pada susah mau makan. Ini tinggal buka mulut, tapi susahnya minta ampun," cerocos Bian tanpa jeda. Danish memperhatikan gadis itu sambil mengunyah bubur yang terasa pahit di lidah.
"Kamu cantik kalau lagi cerewet sepert itu," ucap Danish yang berhasil membuat wajah Bian merah seketika. Gadis itu terlihat salah tingkah.
"Kalau kamu mau aku gak telat makan, mulai sekarang kamu harus suapin aku tiap hari," lanjut Danish.
"Kenapa kamu manja sekali, Tuan? Dan kenapa tidak kau nikahi saja salah satu wanita yang menjadi teman kencanmu itu?"
"Kenapa kamu selalu bahas tentang pernikahan, sih?"
Danish memalingkan wajahnya ke samping. Bian makin terlihat salah tingkah.
"Emh ... itu ... iya kan biar ada orang yang mengurusmu. Tidak ada rasa canggung, tidak akan ada batasan, dan ... bisa jadi ladang pahala juga buat istrimu nanti. Dengar ya, Tuan. Pernikahan itu bisa menyelamatkanmu dari perzinahan. Syahwat seorang laki-laki itu jahat jika tidak dilampiaskan pada yang halal," jawab Bian, pandangannya mengarah pada bubur di tangannya.
Seulas senyum terlukis di bibir Danish. Matanya yang terpejam membuka dan menatap gadis di sampingnya.
"Bagaimana kalau kamu saja yang jadi istriku?"
Bian mendongak seketika, menatap tak percaya pada sang tuan di hadapan. Matanya membulat.
"Saya, Tuan? Tidak, tidak! Cari wanita lain saja," jawab Bian sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenapa?" Danish bertanya dengan kening yang mengernyit.
"Emh ... itu ... itu, karena saya mau lelaki yang masih perjaka ting-ting," jawab Bian bersemangat, tetapi sesaat kemudian mulutnya mencebik. Mukanya ditekuk.
'Jawaban macam apa ini?' batinnya. Dia mengetuk kepalanya beberapa kali.
"Laki-laki pengalaman itu justru lebih hot." Danish berkata dengan senyum yang dipaksakan. Rasa mual kembali menyerang.
"Penyakitmu sepertinya merambah ke otak, ya, Tuan? Semoga dokter itu segera datang dan memberimu obat anti mesum."
Bian hendak bangkit dari tempat duduknya saat pintu terdengar diketuk kemudian muncul wajah Dokter Budi menenteng tas juga tiang infus.
"Syukurlah Anda segera datang, Dok. Sepertinya pasien Anda penyakitnya semakin parah," ujar Bian sambil menyingkir, memberikan ruang gerak pada sang dokter yang akan memasangkan jarum di tangan Danish.
Mendengar perkataan Bian, Dokter Budi menautkan kedua alisnya lalu segera menempelkan punggung tangannya ke kening Danish.
"Kenapa memangnya? Tambah panas? Atau muntah?" Dokter Budi berhenti sebentar.
"Panasnya masih, segera berikan obatnya," lanjutnya lagi dan menoleh ke arah Bian. Gadis itu mengulum senyum.
"Sepertinya penyakitnya merambah ke otak, Dok. Dia bicara m***m terus," jawab Bian sambil terkekeh.
Dokter Budi mendekatkan wajahnya ke telinga Bian dan berucap, "Sepertinya Danish menyukaimu."
Mata Bian membulat seketika. Dokter Budi terkekeh melihat ekspresi wajah gadis di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, dia mulai memasangkan jarum di punggung tangan Danish dan memasangkan kantung infus di tiang yang sengaja dibawanya lalu memperhatikan tetesan infus dari botol kaca kecil yang terdapat di bawah kantung infus.
"Sudah beres. Nanti jika mau ke toilet tolong dimatikan dulu aliran infusnya ya. Caranya putar yang ini sampai ke bawah. Begitupun untuk menghidupkan alirannya lagi, tinggal putar ke atas. Pengaturannya seperti ini." Dokter Budi memberikan pengarahan pada Bian tentang pengaturan infusan. Gadis itu manggut-manggut saat mendengar penjelasan dari sang dokter.
"Jika ada sesuatu yang penting, kamu bisa langsung menelponku," ujar Dokter Budi sambil membereskan peralatannya kemudian berpamitan pada Danish dan Bian.
"Diminum dulu obatnya, Tuan. Biar panasnya turun," ujar Bian yang mengambil sebutir obat penurun panas juga gelas berisi air putih.
Danish terlihat enggan.
"Aku pusing sekali, Bian. Tolong tinggikan bantalnya biar aku bisa bersandar."
Dengan sigap Bian segera mengangkat kepala tuannya dan memberinya sebuah bantal lagi di belakang punggung lelaki itu. Setelah dalam posisi nyaman, Bian segera memasukan obat ke mulu Danish yang terlihat membuka sedikit. Beberapa teguk air berhasil meloloskan butiran pahit itu ke tenggorokan.
Setelah selesai, Bian kembali mengambil bantal yang mengganjal punggung sang tuan kemudian mengatur posisi tidur Danish senyaman mungkin.
"Tidurlah, Tuan. Aku akan menunggumu sampai terlelap," ujar Bian lirih. Sebuah senyuman tersungging di bibir Danish tanpa Bian sadari.
??
Hampir tengah malam Bian terjaga. Ternyata dia tertidur saat menjaga tuannya. Di depannya, Danish terlihat tidur dengan tenang. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
"Kau sudah nyenyak. Aku mau tidur di kamar, demam-mu juga sudah turun," gumam Bian sambil menempelkan punggung tangan di dahi Danish. Perlahan gadis itu bangkit dan jalan mengendap-ngendap, takut jika sang tuan terbangun.
Sampai di tuang tengah, Bian melihat jika lampu di ruangan itu masih menyala dan ada Rey yang tengah duduk sambil membaca sebuah buku.
"Rey? Kau belum tidur?" tanya Bian. Lelaki itu sontak menoleh dan bangkit.
"Hai, Bian. Aku menunggumu. Bagaimana keadaan Kak Danish?"
"Kau menungguku hanya untuk menanyakan keadaan kakakmu? Kenapa tadi tidak ke kamar Tuan Danish saja?"
"Ah, itu ... eh, bagaimana kalau kau siapkan aku makanan kecil? Aku lapar. Ayo kita ke dapur!" Rey mengulurkan tangan pada gadis berambut panjang itu. Bian menolak uluran tangan Rey. Wajah Rey tampak memberengut.
"Aku duluan ke dapur, biar kusiapkan kue juga teh," ucap Bian. Secepatnya dia melangkah ke arah dapur.
Gadis bertubuh mungil itu memindai seisi lemari pendingin yang ukurannya lebih besar dari lemari di kamarnya. Ada chesse cake juga brownies aneka rasa. Setelah mengambil beberapa potong dan menaruhnya di piring kecil, Bian segera menyiapkan teh chrysant. Secepat kilat dia menaruh di meja di mana Rey sudah ada di sana.
"Silakan. Aku ke kamar dulu ya." Bian menyunggingkan seulas senyum sebelum pergi. Baru satu langkah, terdengar lelaki itu memanggil namanya, "Bian."
Gadis itu menoleh.
"Iya?"
"Temani aku sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Gadis itu urung melanjutkan langkahnya. Dia kembali ke meja dan menarik sebuah kursi di depan Rey.
Lelaki itu bangkit. Bian menatapnya penuh tanya.
"Tunggu! Sekarang giliranku membuatkan teh untuk kamu. Diam di situ!" pinta lelaki berkaos putih itu. Kening Bian mengerut.
Tak perlu waktu lama, secangkir teh chrysant telah tersaji di depan Bian. Wanginya menguar seantero ruangan.
"Kamu belum pernah mencobanya, 'kan? Banyak sekali khasiatnya, makanya aku suka," ujar Rey yang memberi tanda agar Bian segera menikmati teh itu. Seteguk air hangat itu membasahi tenggorokannya. Terasa nikmat.
"Bagaimana? Enak 'kan?" tanya Rey seraya mengangkat cangkir dan menyesap teh-nya perlahan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Bian menatap lelaki di hadapan. Rey tersenyum sekilas.
"Tadi, aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan Kak Danish soal pernikahan. Pendapatmu tentang itu benar-benar ... touching my heart. Aku bahkan sempat berpikir, apakah kamu benar sepolos itu? Dan ... apakah kamu pernah jatuh cinta?" Rey menatap dalam pada manik cokelat wanita di depannya. Merasa tak nyaman, Bian langsung menunduk.
"Bian ... sepertinya aku menyukaimu."
Deg!
Bian langsung mendongak dan menatap tanpa berkedip pada lelaki itu.
"Maksudmu? Tidak ... tidak. Kamu mungkin salah. Bagaimana mungkin lelaki sepertimu suka padaku. Aku ini hanya seorang pelayan rendahan. Aku hanya seorang gadis yang dijadikan jaminan hutang kepada kakakmu. Aku bukan siapa-siapa."
Bian bangkit dan menggeser kursinya. Baru beberapa lanhkah, lelaki itu memanggilnya lagi.
"Bian!"
Gadis itu menghentikan langkah tanpa menoleh.
"Pikirkanlah. Aku menunggu jawabanmu."
Bian menggeleng kecil, kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan Rey yang melanjutkan menyesap teh-nya dengan pikiran yang menerawang.
Sampai di ambang pintu dapur, Bian kembali dibuat terkejut. Di sana Danish sedang berdiri dengan selang infus yang masih tersambung ke tangannya. Tanpa tiang. Darah terlihat menetes dari ujung selang. Tanpa menghiraukan tatapan nyalang dari sang tuan, secepat kilat Bian meraih selang itu.
"Kenapa kau malah keluar kamar? Lihatlah! Infusanmu jadi kacau begini. Kau selalu saja membuatku repot, Tuan," ujar Bian cemberut. Tak ada jawaban dari lelaki itu. Bian menatap Danish yang masih terlihat nyalang ke arah belakangnya. Bian menoleh. Ada Rey di sana. Berdiri dengan tatapan tajam ke arah sang kakak.
"Aku mendengarnya. Dan, aku tidak suka itu!" ujar Danish dengan suara tegas penuh penekanan. Bian menatap kedua lelaki itu bergantian.
"Kenapa kau tidak suka? Dia wanita bebas. Dia bisa menentukan pilihannya sendiri," ucap Rey tak kalah tegas.
"Kalian sedang membicarakan apa, sih? Tuan Danish, ayo kembali ke kamarmu. Kau masih sakit," pinta Bian menarik lengan lelaki jangkung itu. Danish bergeming.
"Dengar! Aku tidak suka kamu mendekati apalagi menyentuh milikku!"
"Kalau seandainya aku tetap melakukannya, kau mau apa?" ujar Rey dengan tatapan mengejek. Danish terpancing emosi. Dia melayangkan sebuah tinju ke arah adiknya. Nahas, Rey secepat kilat menghindar dan membalas meninju pelipis sang kakak.
Bugh!
Danish tersungkur. Dia lupa jika tubuhnya lemah karena sakit. Bian menjerit.
"Berhentiiii!!" teriak Bian seraya meraih tubuh Danish yang tersungkur.
"Pergi Rey! Aku mohon. Kakakmu sedang sakit," pinta Bian.
Napas Rey tampak tersengal. Danish hendak bangkit, tetapi ditahan oleh tangan gadis itu.
"Sudah, Tuan. Kau bandel sekali. Lagian, kalian itu rebutan apa sih? Kayak anak kecil aja."
Tubuh kecil Bian berusaha memapah Danish dengan tinggi hampir dua kali lipatnya.
"Apa kau masih kuat berjalan, tuan?" tanya Bian, Danish mengangguk.
Mereka melangkah melewati Rey yang terlihat menahan amarahnya.
Bersambung.