Bab 8

806 Kata
"Apakah Anda keturunan Samson, Tuan? Dia juga lemah kalau potong rambut. Lagi pula, kenapa Anda harus potong rambut segala?" cerocos Bian. Tangannya mengambil handuk yang sudah mulai panas, kemudian mencelupkannya kembali ke air es. Danish mendengkus pelan dan memalingkan wajahnya dengan mata yang tetap terpejam. "Makan dulu ya?" tawar Bian. Lelaki itu menggeleng. Bian membuang napas kasar karena kesal. "Tau tidak, Anda itu seperti anak kecil saja." Bian menggerutu dan meraih handuk yang lagi-lagi melorot karena Danish memiringkan wajahnya ke kanan. "Tubuhmu juga sepetinya panas, Tuan. Buka dulu bajunya biar Anda tidak demam. Bian meraih handuk di kening Danish lalu mengarahkannya ke tangan tuannya yang juga terasa panas. Sebuah ketukan terdengar di pintu yang tak ditutup. Wajah Rey muncul di sana. Mukanya tampak bertanya-tanya. "Kenapa Kak Danish, Bian?" Pemuda itu mendekat. Bian mengedikkan bahunya. "Entahlah, tubuhnya panas sekali. Apakah tidak sebaiknya dibawa ke dokter saja?" tanya Bian. Rey mendekati kakaknya, lalu dia memegang dahi Danish. "Hmm, sepertinya dia demam. Tunggu sebentar, aku telpon dulu Dokter Budi." Rey merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih itu. Tak lama terdengar percakapan yang meminta orang di seberang sana untuk datang ke rumah Danish. Setelah mematikan ponselnya, Rey menatap kakaknya khawatir. "Jarang-jarang Kak Danish sakit," gumamnya lalu duduk di pinggiran ranjang. "Apa dia keturunan Samson ya? Abis potong rambut langsung sakit," ujar Bian yang ditimpali tawa oleh Rey. "Bian, kamu ada-ada aja. Mana ada mitos kayak gitu." Rey mengacak puncak kepala Bian yang berada tak jauh darinya. Tanpa mereka sadari Danish melihat perlakuan Rey dengan ujung matanya yang terlihat memejam. Setengah jam kemudian Dokter Budi sampai di rumah itu. Rumahnya memang tidak begitu jauh. Lelaki berkemeja biru muda itu memeriksa Danish dengan teliti. Mata, lidah dan perutnya tak luput dari pemeriksaan dokter itu. "Saya curiga Danish terkena typhus. Apa kamu sudah merasa tak enak badan selama beberapa hari ini?" tanya Dokter Budi. Danish mengangguk pelan. "Sudah kuduga. Kamu mengabaikan rasa sakit dan terus bekerja. Sudah parah seperti ini, baru tau rasa," ujar dokter budi. "Apa bukan karena dipotong rambut ya, Dok? Seperti Samson, gitu ... langsung lemah setelah potong ramb—" "Biiaaannn!" "Biiaaannn!" teriak Rey dan Danish bersamaan. Bian tersenyum malu-malu. Dokter Budi tertawa kecil. "Mungkin sebaiknya dirawat di rumah sakit saja," ujar dokter itu. Kening Danish terlihat mengerut. "Apa tak bisa di rumah saja, Dok?" pinta Danish. "Agar perawatannya lebih maksimal kalau di rumah sakit," jawab Dokter Budi. "Aku minta dirawat di sini saja, biar Bian yang merawatku," ujar Danish yang kemudian batuk-batuk. Gadis itu membulatkan matanya. "Kenapa saya?" sergah Bian. "Ingat, kau punya utang banyak padaku." Danish coba mengingatkan. Bian mendengkus kesal. "Kau bisa datang ke sini tiap hari, 'kan, Dok? Kau bisa kasih penjelasan pada gadis ini apa saja yang harus dia lakukan," pinta Danish. Dokter itu manggut-manggut. "Baik, jika itu maumu. Saya akan kembali satu jam lagi membawa peralatan infus. Untuk sementara minum obat ini." Dokter Budi memberikan dua bungkus obat pada Bian. "Ini diminum sehari tiga kali untuk pereda panas. Dan antibiotik ini diminum setiap dua belas jam. Jam delapan malam ini dan jam delapan besok pagi. Makan bubur saja dulu," papar dokter itu yang disambut anggukan oleh Bian. Setelah kepergian Dokter Budi, Bian kembali ke kamar Danish dengan membawa semangkuk bubur. Wangi kaldu ayamnya menguar. Bian mengipas ke atas bubur yang masih panas. Menyendok sedikit lalu mengarahkannya ke mulut Danish. "Buka mulutnya, Tuan. Kau harus minum obat kalau mau cepet sembuh." Danish masih mengatupkan bibirnya. Bian mendengkus. "Ayolah, Tuan. Dan lagi, kenapa kau tidak mau dirawat di rumah sakit saja, sih? Kau sangat manja, bikin aku kesal saja. Kalau kau di rumah sakit, walau mati pun aku tidak akan disalahkan." Bibir Bian merengut. Danish menoleh ke arah Bian. "Kau, itu! Kau tidak ingat kalau kau punya banyak utang padaku?" Danish mengalihkan pandangannya lalu kembali memejamkan mata. "Ok, selama jadi perawat ini, aku akan meminta bayaran lima puluh juta," ujar Bian sambil merengut. Mata Danish kembali terbuka. "Kau ini, sudah belajar jadi pemeras!" ucap Danish lirih. Sesekali terlihat meringis. "Habis, kau susah sekali diatur. Ayo buka mulutnya. Nanti buburnya keburu dingin jadi gak enak." Bian kembali mengarahkan sendok itu ke mulut Danish. Perlahan lelaki yang terlihat jauh lebih muda setelah dipotong rambutnya itu membuka mulutnya. Satu suapan berhasil masuk walaipun Danish terlihat sangat tersiksa. "Mual," ucapnya sambil meringis. Bian segera mengambil gelas berisi air putih hangat. "Minum dulu, biar berkurang mualnya," pinta Bian. Danish mengangguk dan kembali membuka mulutnya. Meneguk air itu hingga terasa hangat di d**a. "Haa," ucap Bian sambil memberikan sesuap bubur itu ke mulut Danish. Lelaki itu menggeleng. "Sesuap lagi, nanti baru minum obatnya," rengek Bian. "Kau cerewet sekali!" gerutu Danish membuat Bian kesal. "Ya sudah, aku pergi saja kalau kau tidak mau diurus," ujar Bian hendak beranjak dari kursi yang didudukinya. Sebuah tangan meraih jarinya erat. Bian menoleh ke arah tuannya. "Jangan pergi!" pinta Danish dengan suaranya yang lemah. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN