Sepulang kerja Rey melewati jalan samping taman yang ada kolam ikan koi di sana. Dia tahu jika seseorang begitu senang berada di sana. Dengan jalan perlahan Rey memperhatikan Bian yang tengah asyik menekuri ponselnya. Mata gadis itu berbinar kagum menatap wajah seorang aktor korea yang kini sedang banyak digandrungi para wanita.
"Ya Tuhan ... dia cakep banget!" pekiknya tanpa sadar jika sedang diawasi. Wajahnya tampak gemas memandangi beberapa foto laki-laki yang sedang bergaya, terpampang di ponselnya.
"Hayo kamu lagi ngapain?" ujar Rey yang berhasil membuat Bian terperanjat kaget.
"Ih ... kamu! Bikin orang kaget aja!" pekik Bian sambil memukul Rey dengan bantal kursi.
"Kamu berani banget mukul aku, ya! Manggil nama, gak ada sopan-sopannya. Gak kaya sama Kak Danish," ungkap Rey lalu mengenyakan tubuhnya di samping Bian. Gadis itu nyengir kuda.
"Emang kamu lagi lihat apaan sih? Coba sini aku lihat," pinta Rey sambil menarik tangan Bian yang memegang ponsel.
"Lagi liatin Lee Min Ho, nih. Ganteng kan ya?" Bian memandang takjub ke arah ponselnya.
"Ah, gantengan juga aku," ujar Rey yang menarik ponsel dari tangan Bian lalu menaruh di samping wajahnya. Alisnya naik turun. Bian mendengkus pelan.
"Dih, PD amat!"
Tawa Rey langsung meledak.
"Emang cowok ganteng menurut kamu itu yang kayak gimana? Cowok yang gini?" tanya Rey sembari memperhatikan foto di layar ponsel.
"Yang rapi lah, rambut pendek, wajah bersih. Males 'kan kalau lihat cowok dengan rambut panjang acak-acakan," jawab gadis itu polos. Rey manggut-manggut lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Ehem!"
Sebuah dehaman membuyarkan obrolan mereka. Keduanya sontak menoleh ke sumber suara.
Danish dengan stelan baju kerja dan rambut yang dikuncir khas sedang bersandar pada sebuah bufet. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana. Matanya memandang pada dua orang yang sedang asyik mengobrol.
"Memangnya siapa yang rambutnya acak-acakan?" tanya Danish dingin. Bian terlihat salah tingkah.
"Eh, itu ... ish aku lagi ngomongin Lee Min Ho. Dia kan penampilannya memang rapi," jawab Bian kikuk. Danish menyunggingkan seulas senyum sinis kemudian berlalu ke kamarnya.
"Rey, kakakmu seperti tersinggung," ujar Bian dengan wajah menyesal. Rey hanya tertawa kecil.
"Kak Danish emang selalu serius. Gak usah diambil pusing. Aku mandi dulu ya." Rey bangkit dan berlalu ke kamarnya. Bian mengangguk sembari tersenyum.
??
Keesokan harinya, saat sore menjelang Bian mengganti sprei di tiap kamar. Sengaja dilakukan sore, agar saat pemilik kamar tiba sprei-nya terlihat masih bersih.
Lagu Pretty Boy dari M2M mengalun merdu dari ponsel gadis itu.
I lie awake at night
See things in black and white
I've only got you inside my mind
You know you have made me blind
I lie awake and pray
That you will look my way
I have all this longing in my heart
I knew it right from the start
Oh my pretty pretty boy I love you
Like I never ever loved no one before you
Pretty pretty boy of mine
Just tell me you love me too
Oh my pretty pretty boy
I need you
Oh my pretty pretty boy I do
Let me inside
Make me stay right beside you
I used to write your name
And put it in a frame
And sometime I think I hear you call
Right from my bedroom wall
You stay a little while
And touch me with your smile
And what can I say to make you mine
To reach out for you in time
Oh my pretty pretty boy I love you
Like I never ever loved no one before you…
Bian mengikuti liriknya. Dia bernyanyi sambil membentangkan alas tempat tidur itu.
Saking fokusnya, tanpa dia sadari seseorang masuk ke kamar itu dan memperhatikannya dari belakang.
Beres memasang sprei juga sarung bantal dan guling, Bian menyusunnya rapi. Menepuk bantal itu lalu berdiri tegak.
"Beres!"
Tubuhnya memutar hendak mengambil sprei kotor di lantai. Ujung matanya menangkap sosok yang tak asing lagi. Gadis itu terpaku sejenak.
"Tuan Danish? Kenapa? Apa yang terjadi dengan rambutmu?" tanya Bian dengan mata terbelalak sambil menunjuk kepala Danish dengan penampilan barunya. Rambut panjang itu sudah tidak ada lagi. Cambangnya yang biasanya terlihat, kini bersih bak bayi.
"Kenapa?" Danish malah balik bertanya.
Bian sungguh terpukau dengan penampilan baru lelaki di depannya.
Backsound lagu pretty boy yang berulang seakan menambah suasana menjadi romantis.
"Apakah aku terlihat lebih tampan?" tanya Danish sambil mendekat. Bian mengangguk dengan wajah kikuk.
"Kau mau apa, Tuan?"
Bian mundur hingga kakinya terantuk pinggiran ranjang. Danish makin mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti lagi. Mata itu saling menatap dalam. Danish meraih pinggang kecil itu hingga tubuh mereka berhimpitan.
"Lihat! Apakah aku begitu menakutkan sehingga kau terus menghindar dariku?"
"Bu-bukan, Tuan. Hanya saja ... Anda bukan siapa-siapa saya," jawab Bian menghindari tatapan itu.
"Kalau kau jadi pacarku, apa kau mau tidur denganku?" Pertanyaan itu sontak membuat Bian menatap lelaki di depannya.
"Kenapa selalu itu yang kau pikirkan, Tuan? Tidakkah kau puas dengan wanita-wanita yang kau tiduri itu? Nafasmu bau. Kau mabuk, Tuan. Maaf sebaiknya aku pergi." Bian berusaha melepaskan diri dari cengkraman Danish. Namun, cengkeraman Danish makin kuat. Lelaki itu berusaha untuk mencium gadis mungil dalam kungkungannya.
Bian kalah tenaga dari lawannya. Tak ada cara lain, Bian melakukan tendangan dengan lututnya dan tepat mengenai sasaran.
"Aaww ...!"
Danish memegangi selangkangannya. Lelaki itu ambruk. Bian lari secepat kilat.
***
Saat makan malam tiba, Danish belum terlihat di meja makan. Hanya terlihat Rey sedang menikmati sepiring salad buah.
Bian teringat kembali dengan kejadian tadi sore, saat lelaki itu ambruk akibat tendangannya.
'Apakah terjadi sesuatu pada lelaki itu?' pikir Bian.
"Rey, di mana kakakmu?" tanya Bian. Lelaki itu mendongak dari piringnya. Rey mengedikkan kedua bahunya.
"Entahlah, mungkin dia tidur," jawab Rey lalu melanjutkan suapannya.
"Hei, Bian, sini makan bersamaku!" Rey menepuk kursi di sebelahnya. Bian menggeleng cepat.
"Tidak, terima kasih. Aku mau lihat dulu keadaan Tuan Danish," jawab Bian. Rey tersenyum menggoda.
"Wah ... wah ... rupanya kau mengkhawatirkan keadaan Kak Danish." Rey tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya. Bian mendengkus pelan.
"Entahlah, hanya saja perasaanku tidak enak," ujar Bian sambil berlalu.
Rey menggelengkan kepala pelan, lalu kembali menikmati salad di piringnya.
Bian menatap pada pintu jati yang tertutup rapat. Rasa hati ingin mengetuk, tetapi dadanya bergemuruh hebat. Takut jika dia kembali memergoki Danish sedang b******u dengan wanitanya.
Namun, perasaan khawatir muncul begitu saja di hatinya. Bian mengangkat tangannya hendak mengetuk. Urung sesaat karena ragu. Memejamkan matanya sejenak lalu dia memberanikan diri mengetuk pintu itu.
Sekali, tak ada jawaban. Kedua, ketiga, tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya Bian memberanikan diri memutar handle itu.
Dalam remang cahaya lampu di atas nakas yang tepat berada di kiri kanan tempat tidur, terlihat Danish terbaring dengan selimut menutupi hingga dadanya. Bian menghidupkan lampu utama lalu mendekati tuannya.
Tangan Danish menutupi matanya yang silau karena sinar lampu.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Bian makin mendekat. Dia sentuhkan punggung tangannya ke kening Danish.
"Panas sekali, Tuan," ujar Bian seraya menarik tangannya.
"Anda sakit. Tunggu sebentar saya ambilkan kompresan." Bian segera berlari ke arah dapur dan mengambil air es. Kemudian, sebuah handuk kecil dia ambil dari ruang laundry. Tak lama, gadis itu kembali ke kamar Danish. Dia bahkan tidak menghiraukan pertanyaan dari Rey yang heran melihat Bian bolak-balik.
Bian mengambil sebuah kursi dan menempatkannya tepat di samping tempat tidur. Dia segera memeras handuk dalam wadah air es dan menempelkannya di kening Danish. Lelaki itu tampak mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia tidak nyaman dengan rasa dingin yang tiba-tiba terasa. u terjatuh.
"Minum obat dulu ya? Atau saya panggilkan dokter?"
Danish menggeleng.
"Aku hanya pusing setelah memotong rambut," ujarnya lirih.