Valdo melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang berada diseberang lapangan yang berarti ia harus berjalan melewati lapangan, mata cowok itu sempat terpaku kepada tiga gadis yang sedang berdiri ditengah lapangan dengan posisi hormat.
Arana, Gita dan Nesya, ketiga gadis itu dihukum karena mewarnai rambutnya, memang tidak ada kapoknya untuk melanggar segala peraturan sekolah, peraturan apalagi yang belum mereka langgar? Sepertinya semuanya sudah mereka coba.
Valdo terus berjalan berusaha mengabaikan hingga seseorang menepuk bahunya, "A'a Valdo yang kasep pisan, nyontek tugas Fisika dong A," ucap Andara tiba-tiba membuat Valdo mendengus.
"Bikin sendiri, otak lo ada kan? Gunain jangan dijadiin pajangan doang," ketus Valdo.
Andara memegang dadanya mendramatisir keadaan,"Astaga A, yang kamu lakuin ke aku itu jahat banget," ucap Andara namun tangannya yang satu lagi diam-diam membuka tas Valdo, setelah menemukan buku yang ia cari Andara dengan segera menariknya dan menjauh dari Valdo.
"Dalam kamus gue gaada yang gabisa gue dapetin, kalo gamau ngasih ya dirampas," teriak Andara mengacungkan buku yang ada ditangannya kearah Valdo.
Valdo menatap Andara tajam dan kembali menutup tasnya yang terbuka, jika saja bukan temanya mungkin Valdo sudah menebas kepala Andara.
"NENG ARANA! TADI A'A VALDO NGELIATIN ENENG LOH!" teriak Andara membuat ketiga gadis yang sedang hormat menghadap bendera menoleh kearah cowok itu dan beralih menatap Valdo yang diam mematung.
Valdo dengan segera memasang wajah datarnya dan terus berjalan menuju kelasnya sedangkan Arana menarik sudut bibirnya dan menatap punggung Valdo yang semakin menjauh.
Dilain tempat Andara yang baru saja sampai dikelas langsung disambut oleh Anje dan Wanda yang berdiri di depan pintu.
"Bahagia banget lo, habis menang give away?" Tanya Wanda.
"Gue berhasil nyolong buku pr Valdo," bangga Andara mengacungkan buku bersampul coklat milik Valdo.
"Astagfirullah kamu ini berdosa banget," ucap Anje.
"Kamu jangan solimi."
Wanda menggelengkan kepalanya melihat aksi sinting kedua temannya, "Solimi, solimi! Sholehah!" Sambung Wanda merebut paksa buku yang ada ditangan Andara dan memukulkannya ke kepala Andara dan Anje.
"s****n lo!" Maki Andara.
"Buruan nyalin pr nya sebelum Valdo datang," ucap Wanda dan memasuki kelas dibuntuti Andara dan Anje.
Baru saja di bicarakan, Valdo datang dengan menatap Andara tajam sedangkan yang ditatap hanya nyengir menampilkan deretan giginya yang putih.
Zean yang memang sedari tadi duduk diam dikelas mengangkat alisnya merasakan aura tak enak dari Valdo yang baru saja sampai ditambah tatapan tajamnya.
"Tu bocah bikin masalah apalagi?" Tanya Zean melirik Andara dibelakangnya.
"Lo tanya sendiri sama temen lo!" Ketus Valdo dan mendudukkan bokongnya di kursi.
***
Arana mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan setelah dijemur pak Septi dilapangan selama satu jam.
"Na gue mau nanya," ucap Gita sembari membersihkan keringat yang membasahi dahinya.
"Hm," gumam Arana.
"Lo yakin mau naklukin Valdo?" Tanya Gita dan diangguki Arana.
"Lo yakin na? Kenapa tiba-tiba gini? Bukanya sebelumnya lo benci banget sama dia?" Kepo Gita.
"Suatu saat lo bakal tau alasan gue," ucap Arana dan bangkit dari duduknya.
Arana berjalan meninggalkan kedua temanya tanpa sepatah kata pun, gadis itu terus melangkahkan kakinya menuju toilet.
Sesampainya di toilet Arana berpapasan dengan Vanya masi dengan tatapan tajam yang selalu mereka lontarkan ketika berpapasan tapi kali ini tatapan Vanya lebih teduh dan gadis itu mencekal tangan Arana.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Vanya.
Arana menghempaskan tangan Vanya, "gue rasa gaada yang perlu diomongin," ketus Arana dan kembali berjalan memasuki toilet.
"GUE MAU KITA KAYAK DULU LAGI ARANA!" teriak Vanya dari luar.
Arana memasuki salah satu bilik toilet dan menutupnya, gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu dengan mata memanas, perlahan-lahan ia luruh kelantai, Arana menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya, "Maaf gue gabisa Vanya," lirih gadis itu pelan.
Arana memegang dadanya, sangat sesak, semua rasa yang selama ini menghantuinya kembali menghampirinya, Sangat menyakitkan dan itu selalu menyiksa dirinya.
"Van baju ini cocok kan buat gue?" Tanya Arana yang sedari tadi melihat dirinya dalam pantulan cermin.
Vanya yang telungkup diatas kasur dengan cemilan disekelilingnya menganggukan kepalanya, "iya cocok banget," ucap Vanya
Namun Arana menekukan kepalanya, senyum yang sempat terbit kembali memudar, "tapi papa gabakal ngizinin gue pakai ini," lirihnya.
Vanya bangkit dan menepuk bahu Arana, "mungkin papa lo mau yang terbaik buat lo," ucap Vanya menyemangati Arana.
Arana tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya, "lo jangan pernah ninggalin gue ya," ucap Arana kepada Vanya dan dibalas anggukan oleh gadis itu.
Dan sekarang ia lah yang meninggalkan gadis itu, ia lah yang mengingkari janji yang dulu mereka buat, sangat sesak, Arana ingin kembali seperti dulu tapi ia tak bisa.
"Maafin gue vanya," lirih gadis itu.
Setelah lama menangis Arana kembali bangkit dan menghapus sisa air matanya, Arana berjalan keluar dari bilik toilet, gadis itu membasuh wajahnya di wastafel dan menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.
"Lo gaboleh lemah Arana, lo gabutuh kebahagian," gumam gadis itu dan kembali merapikan seragamnya.
Tak lama kemudian ponsel gadis itu bergetar
Papa
Sudah berapa kali saya katakan? Jauhi mereka Arana!
Arana segera menelepon papanya, "kenapa pa? Kenapa? Beri Arana alasan yang jelas!" Pekik gadis itu.
"Kamu hanya perlu mengikuti perkataan saya Arana, ini demi kebaikan kamu, dan jika kamu melanggar perintah saya kamu tahu sendiri konsekuensi nya," Ucap Bara di sebrang sana.
"Tapi Arana butuh alasannya pa! Arana itu anak papa bukan boneka papa yang harus selalu ngikutin perintah papa," lirih gadis itu.
Tutttt...
Bara mematikan sambungannya secara sepihak, Arana menggeram kesal dan mengenggam erat ponselnya.
Lo harus bertahan Arana, batin gadis itu menenangkan dirinya sendiri.
"Arana! Lo di dalam kan? Lo ngapain si na lama banget!" Teriak Nesya dari luar toilet.
Arana kembali merapikan seragam dan rambutnya, setelah selesai ia berjalan keluar toilet menghampiri Nesya, "lo ngapain disini?" Tanya Arana kepada Nesya.
"Disuruh Gita buat nyusulin lo, habisnya lo lama banget," ucap gadis itu.
"Maaf tadi papa gue nelfon maknya jadi lama," ucap gadis itu dan dibalas anggukan oleh Nesya.
"Tapi mata lo kenapa merah gitu na?" Heran Nesya ketika menyadari mata Arana yang sedikit berwarna merah seperti habis menangis
Arana tersenyum tipis, "tadi kemasukan debu, tau-tau nya malah jadi gini," bohong gadis itu.
Arana dan Nesya terus melangkahkan kakinya menuju kelasnya namun mereka berpapasan dengan Melisa yang berjalan sendirian.
Melisa sengaja menabrak bahu Arana membuat gadis itu berdecak kesal, "gue lagi gamau nyari masalah sama lo!" Kesal Arana.
Melisa melihat sekelilingnya yang sepi dan tersenyum sinis, Melisa melihat Arana dari ujung rambut hingga ujung kaki, "penampilan lo kali ini miris banget, terus mata lo kok merah? Habis nangis ya haha!" Tawa Melisa membuat Arana mengepalkan tangannya.
"Gue gamau nyari masalah sama cewek munafik kayak lo," kesal Arana dan menarik tangan Nesya untuk menjauhi Melisa.
Melisa kembali tertawa, "bahkan gue lebih baik dari lo Arana! Lo itu ga jauh beda dari gue, baik didepan, nusuk dibelakang," ucap Melisa membuat Arana menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Melisa.
Melisa dengan senyum iblisnnya berjalan mendekati Arana, "gausa sok baik Arana."
"Karena gue tahu masa lalu lo," bisik Melisa ditelinga Arana, Gadis itu kembali tertawa kecil dan melangkahkan kakinya meninggalkan Arana yang diam mematung.
"Na! Maksud Melisa apa?" Tanya Nesya mengagetkan Arana.
"Ha? Em-gaada kok, ngapain ambil pusing sama ucapan cewek kayak dia," ucap Arana sedikit gelagapan dan kembali menarik tangan Nesya menuju kelas.