22. Teror

1105 Kata
Aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba memberikan isyarat bahwa aku tidak tau benda apa yang dimaksud. Tapi sepertinya dia tidak akan paham akan apa yang aku isyaratkan, dan detik kemudian semua menjadi gelap. *** Perlahan aku membuka mata, kepala pusing terasa berdenyut. Aku melihat ke sekitar, ini masih di kamar Febi. Suara dengkuran yang cukup keras mengalihkan perhatianku ke arah suara itu, ternyata suara itu berasal dari Febi yang masih tertidur lelap. Perlahan aku bangun, dan duduk di atas kasur. Aku masih memikirkan soal kejadian semalam, apakah itu mimpi, halusinasi atau benar-benar terjadi. Semua terasa abu-abu saja. Termenung cukup lama sampai akhirnya aku anggap mimpi saja. Kembali aku tidur di sebelah Febi sampai matahari mulai memanaskan kamar Febi itu barulah kami membuka mata, menguap, kemudian merenggangkan badan. Aku dan Febi saling menatap kemudian tertawa, entahlah apa yang kami tertawakan hanya lucu saja memandang wajah bangun tidur satu sama lain yang penuh air liur dan belek. Setelah itu kami berlomba ke kamar mandi dan mencuci muka bersamaan tanpa menggosok gigi seperti balapan. Tentu sikat gigiku ada di rumah Febi bahkan diletakkan di tempat khusus agar jika aku menginap di sini tidak akan repot lagi. "Non, makan siang dulu!" teriak asisten rumah tangga Febi lagi. Kami segera menuju ke bawah dan makan, diiringi canda dan tawa. "Udah kalau gak kamu pindah ke rumah aku aja, kalau gak ada kamu sepi. Ayah sama Ibu sibuk ngurusin kerjaan mulu," kata Febi tiba-tiba curhat. "Ada-ada aja, gimana Papa dan Mama aku kalau gak ada aku kesiapan dong," jawabku sambil tertawa. "Atau kalau gak kamu aja yang pindah ke rumahku, eh tapi jangan deng nanti beras di rumah habis," candaku sukses membuat si tembem itu cemberut. *** Setelah itu kami berbesih diri dan kembali menonton film. "Eh, Feb. Siang ini aku pulang ya, soalnya kata Mama dan Papa suruh pulang dah rindu anaknya mereka, tuh," kataku saat film mulai dimulai. "Yah, sampai sore aja kenapa sih?" tanyanya dengan nada kesal. "Kamu aja sana yang ngomong kalau berani," tantangku membuat Febi hanya bisa nyengir kuda. Kami mulai fokus ke film yang sudah mulai, berawal dari sebuah rumah yang terlihat suram banyak pepohonan dan ilalang. Persis rumahku suramnya, sampai di tengah adegan aku mengambil remote dan aku hentikan film itu sejenak. "Kenapa kok dipause kamu mau ke toilet?" tanya Febi heran. Aku menggeleng, sebenarnya karena adegan film yang menampilkan bahwa rumah itu diteror oleh seseorang bertopeng badut aku jadi teringat kejadian kemarin malam dan jadi teringat bahwa ada CCTV di rumah Febi. Jadi aku bisa memastikan apakah yang kemarin kualamai hanya mimpi saja atau benar-benar terjadi. "Feb, di rumah kamu ada CCTV kan ya?" tanyaku, "satu rumah kan?" "Gak satu rumah sih, kamar gak pernah ada CCTV kan privasi. Ya kali Bapak penjaga CCTV liat aku joget-joget di kamar kalau ada CCTV," jawabnya, "emang kenapa sih?" Febi terlihat penasaran. Aku pun menceritakan apa yang aku alami kepada Febi, dia terlihat kaget dan setelah itu langsung menarik tanganku menuju ke sebuah ruangan yang agak jauh dari rumahnya yang besar itu. Kami berlari sampai ngos-ngosan. "Lha, bukannya ini gudang ya?" tanyaku sambil melihat bangunan kecil yang ada di depan. "Semua orang juga akan mikir gitu karena banyak barang gak kepakai di depannya," jawab Febi, "tapi sebenernya ini ruang kontrol CCTV," bisiknya padaku. Aku mengangguk, kemudian Febi mengetuk pintunya tiga kali dan mengucapkan sebuah sandi yang berupa tanggal ulang tahunnya. "Unik ya," komentarku. Febi celingak-celinguk dulu memastikan tidak ada orang di sekitar kemudian masuk ke dalam, oke sekarang aku merasa seperti jadi pemain dalam film di rumah Febi yang ternyata banyak hal tersembunyinya. "Pak, liatin luar kamar saya dong tadi malam karena kata sahabat saya ada orang di luar kamar saya pakai topeng badut dan ngelemparin jendela saya pakai kerikil," jelas Febi pada bapak botak berkumis lebat itu. Bapak itu mengangguk dan kemudian mencari. Kami memperhatikan dengan seksama, ternyata benar ada orang yang menggunakan topeng badut melempari kamar Febi dengan kerikil. Kami melihat kembali apa yang selanjutnya dia lakukan, ternyata setelah itu dia hilang bagai di telan bumi. "Nah, mungkin pas bagian dia hilang ini dia di kamar mandi kamu itu Feb," kataku, "pas itu aku juga masuk ke kamar mandi terus dia ngomong soal benda itu yang aku gak tau apa, aku mau teriak udah dibekep duluan dan setelahnya gelap," tambahku menjelaskan. "Bapak, tolong selidiki orang ini nanti kasih tau Ayah, ya," pinta Febi. Bapak itu memgangguk dan kami keluar dari ruangan itu. Tidak lama aku dengar ponsel Febi berdering dan dia segera melihat ke arah ponselnya. Febi kemudian melihat sekitar dan langsung menarikku untuk masuk ke dalam rumah, wajahnya terlihat gelisah. "Kenapa, Feb. Itu tadi kenapa hp kamu bunyi?" tanyaku sambil berjalan mengikuti Febi dengan tangan yang masih dipegangnya. Sesampainya di kamar Febi langsung mengunci pintu dan menutup gorden, alhasil kamarnya jadi gelap. Dia kemudian hanya menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya itu. Febi menarik tanganku dan kami berdua duduk di atas kasur, dia menyodorkan ponselnya. 'Jangan kamu kira kamu akan tau aku hanya melalui CCTV yang kamu lihat itu.' Aku melotot saat membaca pesan itu, berarti si pelaku tau bahwa kami mengecek CCTV di rumah Febi. Tidak lama pesan baru muncul di ponsel Febi yang bertuliskan 'Serahkan benda itu atau akan aku teror kamu.' Kami saling bertatapan bingung di bawah penerangan yang minim itu. Febi langsung membalas pesan itu dengan bertanya benda apa yang dimaksud. Tapi setelah lama kami tunggu pun tidak ada balasan. "Orang iseng kali, Feb," kataku. "Ya, tapi kalau iseng bisa tau nomor aku dari mana coba, kan aku pakai private number?" Aku hanya menggeleng tanda tidak bisa menjawab pertanyaan Febi itu. "Kamu gak dapat pesan juga?" tanya Febi. "Gak tau kan hpnya aku matiin," kataku sambil nyengir tidak berdosa. "Bisa-bisanya ya di tengah kepanikan gini." Febi menjitak kepalaku. Setelah itu aku menyalajan ponselku dan terdapat dua pesan yang sama seperti punya Febi. "Udahlah, Feb gak usah dipikirin anggep aja orang iseng. Aku gak mau kesenanganki dirusak sama orang gak berperikesenangan kayak gini." Aku mencoba menenangkan Febi yang wajahnya sudah menegang bercampur takut. "Nanti kalau dia berulah lagi baru kita cari tau lebih lanjut," usulku. Febi mengangguk, kemudian matikan lampu tidur, membuka gorden dan menghembuskan napas mencoba membuat wajahnya kembali ceria. Sejenak kami tidak ingin memikirkan hal itu dan kembali menikmati waktu kebersamaan kami sampai papa dan mama menjemputku. "Sampai jumpa lusa ya Feb kita liat pengumuman lolos gak kita di sekolah impian kita!" teriakku dari dalam mobil yang kacanya terbuka. "Kelamaan lusa, besok aku nginep di rumah kamu sampai pengumuman, boleh Kak, Om, Tante?" tanya Febi. Mama dan papaku mengangguk. "Sip, deh," kataku. Mobil pun dijalankan menuju ke rumah kami yang berada di pinggiran kota.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN