23. Teror (2)

1345 Kata
"Gimana nginep di rumah Febi anak sultan?" tanya mama sambil tertawa kecil. "Asyik, Ma," jawabku ikut tertawa. Mama memang menjuluki Febi si anak sultan. "Gimana kemarin gak ada Genta? Enak dong gak rame." Aku balik bertanya kepada mama. Mama menghadap ke arah belakang menatapku dengan senyuman di wajahnya. "Iya, sepi gak ada kamu jadi Mama dan Papa bisa makan romantis berdua," jawab mama di luar dugaanku. Wajahku cemberut dan mama terkekeh. "Kalau gitu lebih lama aja ya Genta nginep di rumah Febi, soalnya kata dia Genta suruh aja pindah ke sana," kataku dengan pipi menggembung. "Ya jangan dong, Mama bercanda ih. Sensian deh kamu." Mama memukul tanganku. "Ya, kan Genta juga cuma bercanda." Aku tertawa lepas. "Memang bener, Ma kata pepatah. Rumahku istanaku, walau rumah kita sederhana tapi lebih nyaman di rumah sendiri," ucapku sok bijak. "Lha, tumben. Biasanya kamu pasti seneng di rumah Febi karena banyak camilannya." "Iya, sih. Tapi kali ini beda cerita. Oh, iya Pa gimana kerjaan Papa di hari pertama?" Aku mengalihkan topik malas teringat teror yang terjadi di rumah Febi. Jika rumah sebesar itu tidak aman dan rumah sederhanaku aman, maka aku akan memilih rumah yang sederhana bersama mama dan papa saja. "Baik, Dek. Lancar kok," jawab papa sambil tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari kemudi mobil. *** Sambil terus berbincang tanpa sadar kami sudah sampai di rumah kami. Saat pintu dibuka oleh papa aroma sedap langsung tercium, aku kenal betul aroma ini apalagi kalau bukan aroma masakan mama, dan benar saja saat masuk ke dalam sudah banyak makanan lezat yang tersaji di meja. "Wah, ada acara apa nih banyak banget makanannya?" kataku dengan wajah senang. "Acara ngerayain selesainya ujian kamu," jawab mama sambil tersenyum. Aku langsung memeluk mama, dan tanpa menunggu lama langsung mengambil nasi goreng yang terlihat menggiurkan dengan ditemani lauk-pauknya. Seketika masakan mama membuat aku lapar lagi padahal aku sudaj makan di rumah Febi tadi. Masakan mama memang tiada duanya di dunia. Papa dan mama menyusul duduk di kursi sedangkan aku sudah makan lebih dulu, mama dengan romantisnya mengambil piring papa dan mengambilkan nasi beserta lauknya. Setelah itu kami makan bersama dengan bahagia. Mungkin inilah yang disebut sederhana tapi penuh bahagia dan juga warna. Selesai makan aku membantu mama mencuci piring, mandi lagi dan membereskan semuanya. Barang dari dalam tas aku keluarkan, pakaian kotor aku letakkan di tempatnya, dan barang lainnya. Selesai mandi kulihat oleh-oleh yang dibawakan oleh Febi. Selain oleh-oleh itu sebelum pulang dia juga memberikanku beberapa kaset rekomendasinya, banyak camilan juga. Aku duduk di kasur, membuka paper bag itu mengeluarkan camilan yang dibungkus di plastik berwarna bening, juga kaset-kaset yang ada di sana. Setelahnya aku melihat paper bag lain yang berukuran lebih kecil berwarna senada dengan yang besar. Pertama aku mendapatkan parfum, baunya sangat feminim tapi juga segar, kedua lilin aroma, ketiga tungku aroma, dan yang terakhir baju kaus dan juga gelang. "Pasti ini couple sama dia," batinku saat melihat kaus dan gelang itu. Kaos itu hanya kaos biasa putih polos dengan inisial nama depan kami masing-masing, gelangnya berwarna hitam juga dengan inisial nama kami. 'Senangnya dapat oleh-oleh, wajahmu terlihat menggemaskan saat tersenyum.' Aku membuka pesan itu berisi fotoku di dalmnya yang sedang duduk di kamar, aku melihat sekitar. Tidak ada siapa pun, nomornya sama dengan nomor orang yang menerorku dan Febi. Aku memblokir nomor itu, walau ketakutan mulai melanda. Kesenanganku rusak seketika diganti perasaan cemas dan hancur, aku kaget saat ponselku tiba-tiba berdering nyaring ternyata itu telepon dari Febi. "Halo, ciee kenapa nih telepon kangen ya?" tanyaku pura-pura tenang memaksakan nada ceria. "Halo, Genta bukan waktunya bercanda." Suara Febi terdengar sangat serius. "Oke, ada apa?" tanyaku ikut serius. "Aku tiba-tiba kepikiran kejadian kamu tadi malam, aku gak tenang. Jangan-jangan bener rumah aku diteror, Ayah dan Ibu juga lagi di luar kota. Memang sih ada penjaga tapi tetep aja gak tenang." "Bukannya kamu bilang mau nginep di sini?" "Iya, sekarang aja ya aku ke sana. Rencananya si nanti sore tapi gak jadi deh. Nomor itu terus neror aku dia bilang buat nyerahin bedan itu yang aku gak tau apa, akhirnya aku blokir. Aku tutup ya, aku ke sana sekarang." Sambungan pun diputuskan. Aku jadi ikutan tegang, Febi itu memang penakut itulah kenapa aku tidak menceritakan padanya sejak awal. Tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Jika dipikirkan lagi bahwa penjahat itu biaa memotretku artinya kamarku juga sudah tidak aman, pasti ada CCTV atau kamera kecil sehingga dia bisa mengambil gambarku. Aku bangun dari tempat tidur dan mencari dengan teliti ke setiap sudut kamar, sampai akhirnya menemukan sebuah kamera kecil di salah satu sudut rumah dekat dengan pintu. Kuhancurkan kamera itu dengan memasukkannya ke dalam air sampai ada percikan api setelah itu aku cari palu dan memukul benda itu sampai hancur berkeping-keping. Aku luapkan segala emosi marahku ke benda itu "Rasakan dasar penjahat gil*, penguntit tidak waras!" *** Tidak lama beberapa menit kemudian Febi datang dengan mobil hitam dan supir pribadinya. Aku langsung menyambut di depan rumah bersama mama dan papa, setelah keluar dari mobil Febi terlihat berbincang sebentar dengan supirnya dan akhirnya supir itu pergi dengan mobil hitamnya. "Selamat datang anak sultan di rumah sederhana ini," kata mama dengan senyum lebar. "Ih, Tante mah suka gitu." Febi terlihat merajuk. Aku dan papa tertawa melihat pipinya yang tembem itu cemberut. "Oh, iya ini Tante, Om oleh-oleh dari Ayah dan Ibu maaf gak bisa kasih langsung katanya." Febi memberikan dua plastik berukuran cukup besar kepada papa dan mama. "Terimakasih bilang ya dari Om dan Tante, sering-sering aja keluar negeri biar dibawain oleh-oleh terus," canda papa. "Ayo, masuk-masuk," kata mama mempersilakan. Kami kemudian masuk ke dalam. "Ma, Pa, kita langsung ke kamar ya," pamitku kemudian menarik tangan Febi menuju kamar. "Iya, nanti kalau udah siap makan malamnya Mama kasih tau," jawab mama. Kami akhirnya menuju ke kamarku, sesampainya di kamar wajah Febi yang awalnha ceria berubah seketika menjadi ketakutan dan pucat. Gampang saja untuk menandai perubahan yang drastis itu. "Kenapa kok langsung berubah seratus delapan puluh derajat gitu mukanya?" tanyaku dengan kecemasan yang coba aku sembunyikan. "Gini ...." Febi menggantung ucapannya, dia melihat sekitar. Langsung menutup jendela dengan gorden dan menyalakan lampu seperti yang dia lakukan di kamaranya. "Jadi aku tadi telepon kamu karena takut banget, ini si nomor itu kirimin aku foto waktu aku lagi di kamar liat kaos sama gelang kita yang samaan itu." Febi menunjukkan sebuah foto dari nomor yang belakangnya aku ingat, empat nomor belakang yang terakhir. Aku terbelalak, berarti tidak hanya di kamarku yang ada kamera tersembunyinya di kamar Febi juga. Namun, aku tidak mau menceritakan hal itu padanya takut membuatnya semakin ketakutan. "Jadi gimana?" tanyaku bingung. Jujur bagaimana menghadapi penguntit aku tidak tau karena baru kali ini aku mengalami hal ini seumur hidup. "Aku akan tunggu Ayah pulang, katanya Ayah pulang setelah pengumuman aku lolos atau gak masuk sekolah itu. Biar Ayah yang urus penguntit ini, dan selama itu aku mau nginep dulu ya di rumah kamu, boleh kan?" tanyanya dengan wajah memelas. "Boleh dong, asalkan ada biaya sewanya," candaku sambil tertawa mencoba mencairkan suasana. "Oh, oke bentar" Febi langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah dompet. Dia mengambil uang beberapa lembar berwarna merah. "Segini cukup?" "Astaga Febi aku cuma bercanda biar kamu gak tegang!" seruku sambil menepuk jidat. Memang kalau lagi ketakutan Febi suka eror. "Oh, kirain, ehe." Aku hanya geleng-geleng kemudian membuka gorden jendela dan mematikan lampu kamar. "Nonton yuk!" ajakku. "Gak main game aja, yuk." "Oke, deh." Febi mengambil sesuatu dari tasnya lagi. Kali ini sebuah tablet, dia kemudian, dan kemudian kami bermain ludo dengan jajanan sebagai taruhan dan coretan dari tepung yang diberikan air sebagai tambahan. "Yey, menang lagi!" seruku senang. Febi memasang wajah cemberut dengan pipi tembamnya itu. "Aku sepuluh kali menang kamu dua kalinya." Aku tertawa senang. Jajan Febi hanya tinggal sedikit dan wajahnya penuh dengan tepung, ada yang sudah mengering ada juga yang masih basah karena baru aku coletkan ke wajahnya. "Genta, Febi si anak sultan makan yuk!" seru mama dari bawah membuat wajah Febi cerah seketika. Dia langsung berlari lebih dulu tanpa aba-aba meninggalkan aku, tapi sebelum meninggalkan aku dia mencolek wajahku dengan tepung yang sudah dicampur air itu lima jari sekaligus. "Febi!" jeritku menyusulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN