20. Ujian masuk

1199 Kata
"Papa juga punya kabar gembira lainnya untuk keluarga kecil Papa tercinta ini." Perkataan papa membuat kami melepaskan pelukan kami. "Apa itu, Pa?" tanyaku penasaran. "Sebenarnya Papa ...." Papa menggantungkan ucapannya membuatku semakin penasaran. "Papa udah dapet kerja, Dek, Ma!" jelas papa dengan wajah gembira. Aku dan mama saling berpandangan sebentar masih mencerna kata-kata papa, akhirnya detik kemudian kami bersorak senang. "Wah, selamat, Pa!" Mama memeluk papa. "Akhirnya, Pa!" Aku ikut memeluk papa. Kami kemudian menari-nari sambil membentuk lingkaran sampai kami lelah dan akhirnya terduduk di lantai, kami tertawa dengan wajah yang sangat gembira. *** Hari pertempuranku tiba, hari ini aku bangun sangat pagi dan menyiapkan semuanya. Tadi malam aku tidur nyenyak dengan mimpi yang sangat indah, senyum tidak pernah lepas dari bibirku pagi ini. Setelahnya aku turun ke bawah dan terlihat sudah ada papa dan mama yang siap mengantarkan aku. "Pagi, Pa, Ma," sapaku riang. "Pagi, Sayang," jawab mama sambil mencium pipiku. "Pagi, Dek." Papa mengelus rambutku. Setelahnya kami sarapan bersama dengan singgungan senyum yang tidak hanya terukir di wajahku tapi juga wajah papa dan mama. "Cie yang hari ini hari pertama kerja," godaku kepada papa. "Cie yang hari ini mau tempur masuk SMA impian." Papa balik menggodaku, kami pun tertawa. *** Dengan menaiki mobil bertiga kami akan menuju ke sekolahku terlebih dahulu, kemudian rencananya mama akan ke pasar hari ini sekalian mengantarku dan papa pergi ke kantor. Pulangnya mama pasti akan naik ojek, sesampainya di sekolah aku hanya mau cipika-cipiki di dalam mobil tapi tidak mau kalau di luar. Sudah aku katakan bahwa aku akan manja pada mereka tapi harus terlihat dewasa di depan teman-temanku. "Doain, Genta ya, Ma, Pa. Genta berangkat dulu." Aku mencium tangan mereka secara bergantian. Mama dan papa mengangguk "Semangat, Dek!" Setelahnya aku turun dari mobil jalan dari gerbang pertama, kemudian jalan lagi ke gerbang utama menuju gedung sekolah. Ada dua gerbang di sekolah ini yaitu gerbang luar dan gerbang utama seperti yang sudah aku jelaskan, saat memasuki gerbang utama bau khas menusuk hidungku. Bau menyan lebih tepatnya, aku menutup hidung. "Kenapa?" tanya Febi langsung merangkulku dari belakang tanpa pemberitahuan. "Enggak gatel aja hidungnya," kataku berbohong. "Ayo, masuk. Inget detik ini kita saingan sampai kelar ujian," katanya dengan wajah sok serius. Aku menahan tawa, tidak cocok sekali pipinya yang tembam itu bercampur wajah serius. "Oke, kalau gitu jangan rangkul-rangkul dong," protesku sambil melihat tangannya yang merangkulku. "Oh, iya, ya," jawabnya sambil melepas rangkulan itu. Senangnya jika mempunyai sahabat yang bisa dijadikan rival dengan begitu selain mengeratkan persahabatan juga ada muncul rasa persaingan yang sehat. Jarang ada yang bisa menjadi keduanya, dan kami adalah salah satu yang langkah karena memiliki hal itu. Kami berjalan beriring menuju ke kelas ujian masing-masing, daftar _online_ dan sampai di sini hanya tinggal melihat nama di mading dan kelas yang ditempati. Ternyata aku dan Febi berbeda kelas. Ujian dimulai, dengan serius semua wajah mengerjakan. Untunglah pelajaran yang diujikan aku pelajari dengan sungguh-sungguh dan berulang kali jadi tidak ada kendala yang berarti. Meski begitu aku tidak boleh tinggi hati karena seperti kata pepatah 'Di atas langit masih ada langit.' Namun, tidak boleh juga kita merasa minder pernah aku menbaca salah satu buku yang berkata bahwa 'Musuhmu bukanlah orang-orang yang megikuti ujian, tapi adalah soal-soal yang harus kamu selesaikan.' Selesai ujian aku memutuskan ke kantin dan ternyata Febi sudah mendahului aku di sana. "Wah, ke kanti gak ngajak-ngajak," omelku. "Ya habis dah laper duluan," jawabnya dengan mulut penuh. "Pesen nasi goreng, ah." Aku segera menuju ke tempat jualan nasi goreng dan menunggu di meja, tidak lupa es juga dong. "Gimana ujian aman?" tanyaku. Febi hanya mengangguk sekilas. "Kalau liburan?" "Kalau soal itu aku mau ngajak kamu nginep di rumah aku, ya, ya," mohonnya. "Iya, banyak juga yang mau aku ceritain." "Nah, itu banyak juga yang mau aku tanyai, habis kamu ngilang sih. Malah katanya udah pindah lagi kan jadi bingung," cerocosnya. "Permisi." Panggilan itu mengalihkan perhatian kami. Kami melihat ke arah sumber suara dan sudah berdiri di hadapan kami dua wajah anak laki-laki yang menggunakan seragam sekolah ini. "Iya," sahut Febi lebih dulu. "Boleh gabung?" tanya siswa yang berkulit putih itu. Febi dengan antusias mengangguk, sedangkan aku sedikit risih. "Makasih." "Pesen, gih Lang," pinta siswa ber_name_ tag Irfan Buwana itu. "Lang, Lang, loe kira gue burung kutilang!" marah temannya yang ber_name_ tag Gilang Andarga. "Iya, iya. Gilang Andarga pesnenin yang biasa ya, marah mulu loe kayak cewek ketiban bulan." "Nah, gitu dong." kak Gilang kemudian langsung pergi ke tukang penjual. "Maaf sebelumnya, Kak ada perlu apa ya?" tanyaku sopan. "Gak, gak ada apa-apa. Gue cuma temeni Gilang aja cari anggota buat ekskul teater, kalau gue mah gak perlu nyari para cowok juga dah pada gabung," jelasnya membuat aku mengerutkan dahi tidak mengerti. "Emang Kakak ekskul apaan?" tanya Febi. "Basket." Tidak lama kak Gilang datang membawa es jeruk, dan di belakangnya ada seorang bapak-bapak membawa dua buah mangkok bergambar ayam jago. Bersamaan dengan itu ibu tempat aku menjual nasi goreng juga meletakkan nasi goreng di meja. "Terimakasih, Bu," kataku sambil tersenyum. Ibu itu balas tersenyum kemudian kembali lagi ke tempat semula. "Kita makan dulu nanti kita jelasin," kata kak Irfan. *** "Jadi sahabat gue ini lagi cari anggota buat ekskul teater kalian ada yang tertarik?" tanya Irfan selesai kami makan. "Kan kita belom kenalan, Fan," potong kak Gilang sambil menyikut kak Irfan. "Oh, iya. Kenalin gue Irfan ini Gilang, kita kakak kelas di sini. Jadi gimana mau gabung?" "Pemaksaan banget," komentarku dalam hati, "maaf nih ya Kak, kan kita belum tau kita masuk sekolah ini apa enggak ya mudah-mudahan aja masuk. Jadi kenapa nawarinya sekarang?" tanyaku heran. "Karena kita males nawati pas upacara penyambutan, ribet!" seru kak Gilang. "Lha, jadi kalau yang Kakak tawari kagak lolos di sekolah ini gimana?" tanya Febi. "Ya tinggal coret aja namanya, susah bener!" Aku dan Febi saling bertatapan, sepertinya pemikiran kami sama. "Kok nyolot!" sahut kami serempak. "Ya emang dia tukang nyolot." kak Irfan terkekeh. "Oke, maaf." "Jadi gimana mau gabung?" tanya kak Irfan kesekian kalinya. "Aku mah gak ada bakat akting, jadi mohon maaf Kak." Aku menyatukan kedua telapak tanganku. "Lha, saya juga Kak saya mau masuk ekskul makan enak," cetus Febi ngasal. Kak Irfan dan Gilang tertawa serentak. "Mana ada!" jawab mereka seperti anak kembar saja. "Kalau loe mau masuk ekskul apaan?" tanya kak Irfan ke arahku. "Voli, mungkin," jawabku tidak yakin. "Kalau gitu minta nomor hpnya aja," kata kak Gilang. "Lha, ini sekalian modus namanya," sahut Febi membuat dua siswa itu tertawa kecil bukannya tersinggung. "Namanya juga usaha," sahut kak Irfan. "Nomor aku aja ya Kak, nomor ini anak gak usah soalnya dia itu susah banget dihubungi," jelas Febi. Aku senang Febi berkata demikian karena memang aku malas memberikan nomorku pada mereka. Setelah mengucapkan terimakasih mereka kemudian pergi. "Udah, kenyang aku. Pergi, yuk ke rumah," rengeknya. Aku mengangguk dan langsung berdiri tapi entah kenapa pandanganku rasanya kabur dan kepalaku pusing membuat badanku tidak seimbang dan terduduk kembali. "Kamu kenapa, Gen!?" tanya Febi sambil memegangi lenganku. "Gak tau tiba-tiba pusing aja gitu," jawabku. "Yaudah kita duduk di sini dulu." Usai Febi menyahut demikian kami berdua duduk kembali beberapa meniy, Febi terus melihat dengan cemas ke arahku sedangkan aku tidak sanggup melihat ke arah wajahnya yang cemas itu. Jadi aku hanya menundukkan kepala sambil memegangi pelipisku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN