19. Bergembira

1220 Kata
Saat kami sampai di sana wajah mama terlihat sangat pucat. "Kenapa, Ma?" tanya papa mendahuluiku. Aku melihat ke arah pandangan mama, mengerutkan dahi "Kenapa ada benda seperti itu di sini?" tanyaku dalam hati tanpa jawaban. "I ... itu, Pa," jawab mama ternyata mengalihkan pandangaku, mama menunjuk ke arah benda yang tadi aku lihat itu. Papa melihat ke arah itu, dahinya berkerut dan seperti biasa dengan beraninya papa berjongkok dan melihat benda berwarna putih yang berserakan itu. "Ini plastik, Ma," kata papa setelah memeriksa beberapa menit. "Tapi, itu tengkorak manusia, Pa. Sama tulang-belulang manusia yang berserakan di halaman belakang kita," sahut mama dengan takut. "kita harus lapor polisi, Pa!" Tawaku pecah seketika melihat ekspresi mama yang begitu serius. Mama melihat ke arahku sambil melotot tapi tetap saja hal itu tidak bisa membuatku berhenti tertawa. Akhirnya aku pergi ke arah benda berbentuk tengkorak manusia dan tulang belulangnya yang berserakan di rerumputan itu. "Ini plastik, Ma. Cuma mainan yang biasa jadi pajangan di lab biologi di sekolah-sekolah," kataku setelah memeriksa dan memastikan bahwa banar itu plastik. "Tapi kenapa bisa ada di sini, kamarin gak ada sama sekali?" tanya mama dengan dahi berkerut dan raut wajah takut. Benar juga kenapa bisa benda itu ada di sini siapa yang kurang kerjaan membawa benda itu ke sini, dan seketika otakku langsung terpikirkan tentang maling tadi malam. "Maling tadi malam ... mungkin," jawabku dengan ragu. Dahi mama berkerut semakin dalam. "Tadi malam ada maling!?" Ekspresinya langsung berubah terkejut setelah mencerna apa yang aku katakan, aku mengangguk sebagai jawaban iya. "Tapi buat apa juga maling itu bawa ini ke sini?" tanyaku lagi membuat diri sendiri malah semakin bingung. "Mungkin malingnya gak berniat mencuri barang berharga tapi melakukan hal aneh, misal mengubur benda ini," jawab papa. "zaman sekarang banyak orang aneh yang berkeliaran jadi kita harus tetap hati-hati, sudah ayo masuk." Hanya itu satu-satunya penjelasan yang bisa diterima oleh logikaku, yaitu jawaban papa tentang orang aneh yang berkeliaran di tengah malam mencuri replika kerangka manusia dari lab biologi dan menguburnya supaya orang menyangka itu benar-benar kerangka manusia sama seperti mama. Kami masuk ke dalam rumah dan bertingkah seperti tidak terjadi apapun, mungkin papa akan membuang benda itu nantinya tanpa mama dan aku ketahui seperti yang biasa papa lakukan. "Genta mau tidur lagi, capek juga jagai maling," ungkapku sambil menuju ke atas. "Papa juga masih ada kerjaan." Papa ikut menyusul. "Jadi Mama sendirian gitu di dapur masak?" tanya mama. Saat sudah di anak tangga pertama kami berbalik badan mendengar pertanyaan mama itu, wajah mama terlihat cemberut. "Yaudah Mama tidur lagi aja temeni nyelesaiin kerjaan Papa," usul papa. "Oke," jawab mama senang, aku hanya geleng-geleng kepala terkadang mama bisa sangat manja juga. *** Matahari sudah meninggi di atas kepala dan masuk ke jendela tanpa permisi membuat suhu di kamar menjadi panas, aku yang kepanasan terbangun dan tidak lagi bisa tidur. Aku melihat jam kecil bulat di atas nakas dekat lampu tidur ternyata sudah jam satu siang. Bersamaan dengan itu perutku berbunyi. Sebelum turun ke bawah untuk makan siang aku memutuskan mandi dulu agar terasa lebih segar dan kantukku setidaknya bisa hilang. Setelah itu barulah aku ke bawah. 'Mama dan papa mau pergi dulu sampai sore karena ada keperluan, mama udah siapin makanan kesukaan kamu.' Kubac catatan yang diletakkan mama dan papa di atas meja makan. Aku berjalan menuju ke dapur dan mencari nasi goreng yang dibuat mama di lemari. Langsung aku menyiapkan sendok dan minum dingin kemudian dengan lahap memakan nasi goreng itu. Tidak ada gangguan sampai hari ini aku rasa penangkal papa memang bekerja membuat tidak takut lagi berada di rumah ini. Kegiatanku selanjutnya adalah belajar kembali karena lusa pendaftaran sudah dibuka dan aku akan mendaftar ke sana. Kesunyian ini sungguh membantuku cepat mencerna pelajaran yang ada, sampai menjelang sore pun aku masih tetap beta belajar di kamar dengan kipas angin yang menyala. "Mama dan Papa pulang!" seru mama dan papa yang membangunkanku dari tidurku, ternyata aku tertidur di atas tumpukan buku. "Iya, Ma, Pa. Selamat datang kembali!" sahutku berteriak, aku kemudian langsung turun ke bawah tanpa menghiraukan buku yang masih berserakan itu. "Kamu udah makan sore?" tanya mama, aku hanya menggeleng. "yaudah kalau gitu kita sekalian makan malam aja, Mama masakin nasi goreng dulu ya sebentar." "Siap, Ma!" jawabku senang. "Mama dan Papa habis darimana? Kok lama perginya?" tanyaku penasaran. "Habis jalan-jalan aja dong berdua," kata papa sambil tertawa kecil. "Ih, Papa sama Mama, mah." "Yaudah jangan cemberut gitu nanti juga tau Mama dan Papa habis dari mana, yang pasti bisa buat kamu seneng. Yaudah Papa mau naik dulu, mau mandi gerah." Papa mengibas-ngibaskan baju yang dia pakai kemudian menuju ke atas tanpa menunggu jawaban dariku. "Emang Mama dan Papa ke mana kok bisa buat Genta seneng?" tanyaku pada mama sambil ikut mencuci timun. "Rahasia," kata mama dengan nada meledek. Aku hanya berdesis sebal. *** "Ayo, bangun-bangub kita senam!" Suara berisik dari papa itu membuatku terlonjak kaget. "Papa!" teriakku kaget. "ngapain pakai toa segala, Genta jadi kaget nih!" kataku sebal. "Biar kamu bangun," jawab papa sambil terkekeh. "Mama juga digituin sama Papa, tuh," ungkap mama sebal sambil masuk ke kamar. "Kamu mandi sana, Dek. Habis sarapan kita senam." "Hah, senam!? Gak salah, Pa!?" protesku. "Udah cepetan." Papa kemudian pergi meninggalkan kamarku sambil terkekeh. "Kenapa sih Papa nyebelin beberapa hari ini?" tanyaku dengan sebal. "tapi gak apa-apa juga sih itung-itung Papa dan Mama bisa terus senang." Aku tersenyum. Akhirnya setelah mandi dan sarapan bersama kami senam dengan lagu jadul yang dipilih papa, papa dengan semangatnya menjadi pemimpin yang memberikan gerakan untuk kami ikuti. Sepertinya suasana hati papa dan mama sedang baik, "Kenapa sih, Pa kok tiba-tiba harus sena?" tanyaku masih saja heran karena tidak biasanya papa membangunkan kami apalagi sampai menyuruh senam bersama. Papa tertawa "Ya, gak apa-apa Dek lagi pengen aja," jawab papa setelah tawanya berhenti. Setelah kurang lebih setengaj jam akhirnya senam itu selesai, aku mandi lagi karena terasa sangat gerah dengan keringat yang keluar banyak. Tapi sebelum itu kami duduk di rerumputan dan beristirahat dengan napas yanv ngos-ngosan sebelum akhirnya kembali ke dalam rumah. Setelah itu kami makan siang bersama, tapi aku heran dengan bungkusan kotak besad yang ditumpuk-tumpuk di ruang tengah yang terlihat dari saat turun tangga. "Apaan tuh, Pa?" tanyaku pada papa sambil melihat ke arah belakang. "Buka aja," jawab papa sambil tersenyum jahil. Aku jadi semakin penasaran, kalau pun itu bukan sesuatu yang aku suka aku bisa saja ngambek. Akhirnya aku menuju ke ruang tengah dan tidak sabar membuka kardus yang ditumpuk-tumpuk untuk menutupi sesuatu di dalamnya agar tidak terlihat. Agak kesusahan aku membukanya tanpa gunting tapi sebisa mungkin aku usahakan, sampai akhirnya bisa semua. Setelah semua tambalan kotak itu terbuka kini ada plastik yang melilit-lilit. Dari plastik bening itu saja aku bisa melihat bahwa itu adalah sebuah meja belajar, dengan mata berbinar dan semangat membara aku membuka plastik itu. "Wah, keren!" seruku senang sambil menyentuh permukaan meja itu. Meja belajar itu cukup besar dengan rak buku di atasnya, beberapa dan beberapa laci berwarna hijau toska yang warnanya tidak norak sama sekali malah terkesan lembut. "Kamu suka gak, Sayang?" tanya mama. "Suka banget, Ma!" jawabku senang. "Ini, lho Dek yang papa bilang semalam kami pergi buat bikin Adek senang," jelas papa. "Terimakasih, Pa, Ma." Aku memeluk mereka berdua. "Iya, Sayang sama-sama anggap aja ini hadiah dari kami karena kamu udah belajar keras untuk bisa masuk SMA impian kamu itu." Mama dan papa membalas pelukanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN