18. Normal

1174 Kata
Dengan mulusnya pantatku mendarat di lantai yang terbuat dari kayu itu, lumayan terasa ngilu. Daun pisang, sendok, dan gelas yang aku bawa berserakan terlepas dari tanganku. "Kenapa, Dek!? "Kamu kenapa, Sayang!?" tanya mama dan papa terlihat panik. "Gak tau nih Ma, Pa, lantainya berasa licin banget," jawabku. Mama kemudian membantu aku berdiri dan membereskan benda-benda yang berserakan. Papa berjongkok di dekat aku tadi jatuh, tangannya mengelap sesuatu dan menggeskkannya dengan jari lain sambil menelitinya persis seperti adegan detektif mencari petunjuk. "Kenapa, Pa?" tanya mama sambil melihat lantai yang tadi papa pegang. "Minyak oli, Ma," jawab papa. "Kok bisa ada oli Pa!?" tanya mama terkejut. Tidak lama di tangga terdengar suara decitan diiringi jejak kaki berwarna hita. "Ya karena itu, Ma," jawab papa menunjuk ke arah jejak kaki itu. "ada yang jahil, Ma." "Pagi-pagi begini!?" mata mama terlihat melotot, begitu pula dengan aku yang kaget. Tidak bisakah sehari saja tidak ada gangguan apapun dan kembali normal, ini sangat menyebalkan. "Apa kita salah pilih rumah ya Pa, kok banyak sekali gangguannya?" tanya mama cemas. Aku mengangguk mungkin begitu. "Bukan salah rumahnya, Ma. Pasti ada sesuatu," jawab papa sambil berdiri. Papa melihat ke atah tembok luar kamar dan jejak kaki itu secara berintut muncul di sana. "Biarkan saja, Ma, Dek. Nanti kita bersihkan, capek juga hilang sendiri dia. Papa lanjut kerja dulu ya, Adek dan Mama lihat-lihat kalau jalan awas kepleset lagi," kata papa kemudian masuk ke kamar. Aku dan mama saling bertatapan, begitu tenangnya papa menghadapi kejahilan yang ada di depan matanya. Sesuatu yang tidak wajar sama sekali. *** Otakku terus memikirkan tentang kejadian pagi tadi yang sangat tidak masuk akal, aku jadi tidak bisa belajar. Aku lihat mama yang sedang memasak, kemudian buku pelajaran aku tutup dan ke arah mama. "Ma," panggilku pada mama. "Iya, kenapa Sayang?" tanya mama sambil terus memotong daun bawang. "Papa indigo ya?" tanyaku. Kulihat mama berhenti memotong daun bawang itu sejenak terlihat berpikir. "Mama juga gak yakin Papamu indigo apa bukan," jawab mama. "kenaap gak tanya langsung aja?" "Enggak deh, Papa kalau ditanya malah dijadiin bercandaan," jawabku sebal. Mama tertawa pelan. "Yaudah Mama coba yang tanyai ya." Kata mama kemudian melihat ke arah tangga yang di ruangan sebelah. "Pa! Oh Pa!" teriak mama sangat keras. "Kenapa, Ma!?" jawab papa ikut berteriak. "Genta tanya Papa indigo bukan!?" "Bukan, Ma. Kita kan gak pakai layanan itu!" "Ih, itu indihome Pa bukan indigo!" Terdengar papa seperti sengaja tertawa terbahak-bahak sampai terdengar ke bawah. "Tuh, kan," kataku sambil cemberut. Aku jadi tidak mau bertanya lagi dan tidak jadi penasaran. Akhirnya aku bisa konsen kembali belajar, mama melanjutkan kegiatan memasaknya. Setelah itu kami makan bersama, aku menunjukkan wajah cemberut agar papa tau bahwa aku kesal padanya tapi tetap saja dia tidak peka sampai lelah rasanya menekuk wajah terus-terusan. Aku melanjutkan kegiatan bersih-bersih kamar siang ini, dan tidak ada hal aneh terjadi. Setelah membersihkan dengan sebersih-bersihnya lemari pakaian yang masih bagus itu, aku menyusun bajuku dan setelah selesai kembali melanjutkan belajar di lantai. Untuk saat ini belum ada meja belajar yang dibelikan, tapi itu tidak masalah bagiku. Papa bekerja keras dan aku juga harus demikian. Febi juga tidak ada kabar sampai hari ini terakhir dia bilang akan mematikan ponselnya selama belajar untuk ujian masuk dan kami sudaj berjanji untuk belajar denga tekun. Yang aku salut dari sahabatku itu ya salah satunya ini selalu bisa membuat aku semangat dalam mengerjakan sesuatu apalagi kalau sudah berjanji, jika kalian bertanya bagaimana kami menepati janji itu walau tidak saling mengawasi jawabannya adalah kepercayaan. Dia percaya padaku begitu juga sebaliknya dan karena sudah berjanji pasti akan berusaha ditepati. Mungkin dia tidak sepenuhnya menepati janji karena belajar menggunakan tablet khusus belajarnya itu, sedangkan aku manual dari buku karena hanya ponsel layar sentuh yang sudah aku beli beberapa tahun itu yang aku punya. Walau begi tetap saja rasanya bersyukur punya keluarga yang sayang dan selalu mendukungku. Febi juga sebenarnya akan meminjamkan ponsel, tablet, atau laptopnya yang lain itu jika aku mau dan memintanya tapi jujur saja aku tidak enak jika meminjam barang orang lain bahkan sahabatku sendiri. Meski ada perkataan tidak boleh perhitungan dengan sahabat dan sahabat sejati tidak akan mengambil keuntungan satu sama lain atau memanfaatkan kebaikannya juga tetap saja rasanya tidak enak. Malam akhirnya tiba dan seperti biasa ritual malam tidak boleh lupa, cuci muka, kaki dan tangan. Aku kembali membuka laci nakas ingin mengoleskan lagi salep itu, dan hanya tersisa sedikit kemerahan saja di bagian wajahku. Setelah itu aku bisa tidur nyenyak tidak ada lagi gangguan. Beberapa hari ini tidak ada gangguan sama sekali, sepertinya penangkal dari papa mulai bekerja. Entahlah karena hal itu atau memang karena penghuni rumah ini sudah lelah menganggu atau mungkin bisa juga karena rumah ini sudah kami tempati hampir seminggu. Banyak orang bilang hawa dari manusia atau aktivitas mereka membuat makhluk tidak kasat mata pergi karena energi mereka tersisihkan, atau juga mereka hanya beraktivitas di malam hari saat hawa manusia dari aktivitas mereka tidak lagi ada. Dengan begitu mereka bisa lebih leluasa. *** Aku terbangun pukul tiga pagi saat aku melihat ke arah jam, bukan karena ada gangguan yang aku terima tapi karena panggilan alam yang menjengkelkan di tengah mimpi yang indah. Pergilah aku ke kamar mandi untuk panggilan alam itu alias buang hajat, selesai dari toilet aku merasakan kerongkongan yang tiba-tiba kering karena haus akhirnya aku bersiap menuju ke bawah. Saat hendak menuju ke bawah sekilas kulihat pintu kamar papa dan mama yang masih tertutup rapat. Sesampainya di bawah aku menuju ke arah dapur dan minum. Selesai aku minum di tengah kesunyian itu aku mendengar suara pintu terbuka dari arah pintu depan. Tidak mungkin itu mama dan papa karena tadi pintu kamar mereka masih tertutup rapat, akhirnya aku menyangka itu adalah maling. Aku ambil sapu di dapur dan mulai mengendap-ngendap ke arah ruang tengah. Benar saja di sana aku melihat seseorang yang sedang mengendap-ngendap. Orang itu berpakaian serba hitam. "Maling!" seruku kemudian mencoba memukulnya dengan gagang sapu tapi sayangnya dia dengan sigap bisa mengelak dan kemudian kabur dari pintu dengan mudahnya. "ck, lolos lagi," ujarku jengkel. "lagian ngapa tadi aku harus teriak ya, b**o banget," umpatku pada diri sendiri. Aku melihat sekitar tidak ada barang yang hilang dan semua masih rapi terlihat, untunglah belum ada barang yang dibawa pergi. Tidak ada barang yang terlalu berharga di rumah ini hanya televisi, kulkas, dan oven di dapur. Selain itu hanya ada ponselku mama, papa, juga laptop papa. Kututup kembali pintu depan yang terbuka itu dan berjaga di ruang tengah semalaman takut maling itu kembali lagi, ditemani buku pelajaran, camilan dan juga kopi. Sampai akhirnya aku tertidur juga di sofa. "Adek, Adek, ngapain tidur di sofa?" tanya papa yang sayup-sayup kudengar, aku juga merasa papa menggoyang-goyangkan badanku. "Kemarin ada maling, Pa masuk rumah jadi Genta tunggui sampai ketiduran di sini," jelasku masih dengan mata yang terpejam. "Serius kamu Dek ada maling!?" tanya papa, terdengar dari suaranya papa seperti sangat terkejut. Aku mengangguk pelan masih dengan mata tertutup enggan sekali rasanya untuk terbuka. "Aaa!" teriak suara yang membuatku langsung beridir tegak, itu suara mama. Aku dan papa langsung menuju ke arah suara itu, suaranya berasal dari kebun belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN