17. Penangkal (2)

1136 Kata
"Buat apa, Pa?" tanyaku kaget. "Udah lakuin aja, cepet!" Dengan gemetar aku mengambil gunting itu dari tangan papa, entahlah kenapa aku merasa sangat takut. "Udah sini biar Mama aja yang guntingin." Mama mengambil alih gunting itu dari tanganku kemudian memotong ujung rambutku secara merata, kemudian menyerahkan potongan rambut itu ke papa. Tanpa suara papa mengambil gunting dan rambutku kemudian kembali lagi ke atas. Mama memelukku mencoba menenangkan karena aku masih gemetar, entahlah kenapa rasanya takut berurusan dengan benda tajam. Tanpa sadar aku rasakan dingin di wajahku yang ternyata mama meneruskan memberikan obat itu ke wajah dan tanganku. "Nah, sudah. Sekarang kan kamu bisa belajar," ujar mama sambil pergi menuju ke dapur yang ada di samping tidak jauh dari meja makan yang sedang aku pakai ini. "Makasih, Ma," kataku sambil tersenyum. Mama balik tersenyum dan mulai mecuci sayuran. Akhirnya aku bisa belajar dengan tenang dengan diiringi suara saat mama memasaka. Sesekali aku melihat mama sedang apa jika aku mulai jenuh belajar dan itu berhasil menghilangkan kejenuhanku, setelah itu kembali aku memperhatikan tumpukan buku itu. "Makan dulu, yuk. Mama panggil Papa kamu cuci tangan ya," kata mama membuat pensil yang sedang menari di atas kertas itu terhenti. "Biar Genta aja Ma yang panggil Papa, Mama di sini aja." Aku menutup buku, membawanya ke meja ruang tengah terlebih dahulu karena tidak mungkin ada buku di atas meja makan. Kemudian aku menuju ke atas, aku penasaran sedang apa papa dengan rambutku yang sudah digunting tadi. "Papa, Pa, Papa!" panggilku sebelum sampai ke depan pintu kamar papa. Tidak ada sahutan, langkahku terus menuju ke depan pintu kamar papa dan mama. Saat aku berada di depan pintu mereka pintunya ternyata terbuka dan langsung kulangkahkan kaki ke dalam. "Pa," panggilku saat melihat papa sedang mengerjakan sesuatu tapi entah apa itu tidak terlihat jelas karena tertutup badan papa. Seperti sebuah lingkaran yang, "Pa." Ketika panggilanku yang ini papa langsung memasukkan benda yang papa buat itu ke laci dengan cepat. "Iya, kenapa si Dek heboh banget manggil Papa," kata papa sambil tertawa kecil. "Ya habis Papa dihebohin aja gak denger, apalagi enggak," jawabku ikut tertawa. "itu disuruh Mama makan dulu, yuk Pa turun." Aku kemudian pergi menuju ke arah pintu tanpa menunggu jawaban, papa mengikuti langkahku saat aku lihat ke belakang. Tidak berani aku bertanya tentang apa yang papa buat, takut. Walau aku penasaran sebenarnya, tapi sebisa mungkin aku tahan bibir ini untuk bertanya. Karena biasanya kalau sudah penasaran aku suka keceplosan mengucapkan apa yang ingin ditanyakan. *** "Dek, Dek. Kamu di dalamkan?" Suara panggilan papa membuat aku buru-buru mencuci muka, tanpa sadar aku termenung di kamar mandi memikirkan apa yang papa lakukan dengan rambutku. Benar-benar aku ini kalau sudah penasaran pasti jadi terlalu kepikiran. "Iya, Pa. Sebentar ya Pa Genta cuci muka dulu," jawabku berteriak. "Yaudah," sahut papa lagi. Setelah aku keringkan wajah yang basah dengan handuk yang ada di pipa panjang sebagai gantungan langsung kubuka pintu. "Kenapa Pa?" tanyaku pada papa. "Ini penangkal yang Papa kasih tau, ada dua. Satu kamu letakkan di jendela boleh, depan pintu boleh. Satu lagi ini yang agak lebih kecil kamu letakkan di tas kamu ga jadi gantungan kunci atau masukkan di dalam tas juga terserah, ingat jangan sampai hilang," jelas papa panjang lebar. Papa memberikan sebuah barang berupa penangkap mimpi, yang satu agak besar seperti terbuat dari kayu dan juga ada helaian rambutku jika dilihat dengan teliti. Yang satu lagi berukuran lebih kecil dibuat lingkaran besi untuk gantungan kuncinya, warnanya pelangi dipoles sedemikian rupa sehingga terlihat cantik dan mengkilap tidak ada helaian rambut atau terlihat terbuat dari kayu karena sudah dicat. "Baik, Pa," jawabku tanpa bertanya lebih jauh. Papa kemudian mengelus rambutku dan pergi ke kamarnya yang ada di sebelah. Aku melihat sampai papa memasuki kamar dan menutup pintu, kemudian aku pandangi dari dekat penangkap mimpi itu. Aku menerka-nerka kira-kira terbuat dari apa benda ini, aku melihat sangat detail. Aku menyerah menebak-nebak ini terbuat dari kayu apa karena aku tidak tau-menau soal jenis-jenis kayu. Aku melihat sekitar, entah kenapa hawa dingin menusuk, ketika itu teringatlah akan pesan mama untuk mengobati kembali wajahku dengan salep yang mama berikan. Aku melihat nakas yang ada di sudut kamar dihimpit oleh dinding dan tempat tidur, nakas ini sudah dibersihkan dan aman tidak ada hal aneh atau hal menjijikkan lainnya yang aku temui seperti di kasur waktu itu. Mengambil salep itu kemudian membukanya, aromanya tidak enak seperti aroma perpaduan jamu dan juga obat-obatan yang pahit. Kubuka laci dan mengambil cermin kecil bulat berwarna merah muda, kuperhatikan sejenak salep itu mirip salep buatan nenek tapi warnanya lebih cerah dari yang nenek buat. Kuolesakan salep itu merata ke bintik-bintik merah di wajah dan tangan, rasanya sangat dingin walau baunya menyengat. Setelah itu aku ambil gunting dan lakban dari laci bawahnya cermin kecil dan salep aku letakkan di atas nakas. Aku menuju ke depan pintu membawa penangkap mimpi yang papa berikan tadi, mengunting lakban dan melakban bagian tali yang dibuat untuk gantungan. Setelah selesai kulihat lagi benda itu. Saat itu hawa dingin kembali datang bersamaan dengan bulu tengkukku yang berdiri, merinding. Segera aku membuka pintu dan masuk ke balik selimut, mencoba memejamkan mata walau kaki juga mulai terasa dingin. Kupingku juga berasa ada yang meniup, sepertinya penangkal itu tidak bekerja sama sekali atau perlu waktu mungkin. Aku tetap memejamkan mata mencoba tidak peduli dengan semua gangguan yang ada sampai akhirnya terlelap juga. Hanya gangguan sebelum tidur yang aku rasakan selain itu tidurku nyenyak tanpa gangguan sama sekali, tidak ada terdengar juga detikan jam seperti tempo hari. Dengan ceria aku menyapa mama di bawah, "Lho, Papa mana Ma?" tanyaku heran biasanya papa pasti ada di bawah dulu sebelum akhirnya ke kamar lagi. "Papa lagi ada kerajaan katanya," jawab mama disela makan nasi uduknya. "Papa kerja apa, Ma!? Papa udah dapat kerjaan baru, Ma!?" tanyaku girang bercampur kaget. "Freelancer di internet Sayang, memang gak seberapa tapi lumayan kalau satu hari aja bisa muat banyak orderan," jawab mama lagi. "Wah, keren Ma. Jadi Papa udah sarapan belum Ma?" "Udah tapi di kamar, kamu sarapan juga gih." Mama menunjuk bungkusan nasi uduk yang dibungkus dengan daun pisang. Aku pergi ke wastafel mencuci tangan dan ikut makan bersama mama. Makan dengan tangan memang nikmat. Selesai makan aku melihat papa, melihat dari bingkai pintu kamar. Papa terlihat sedang sibuk dengan laptop dan kertas juga pensil yang ada di dekatnya, sekilas saat papa mengangkat kertad itu ke udara terlihat coretan berupa gambar. "Papa, sampah daun pisangnya Genta buangin ya. Papa mau dibikini teh manis atau yang lain?" tanyaku menawarkan, aku memang tidak bisa membantu apapun dan hanya bisa memberikan perhatian kecil saja. "Makasih, Dek. Iya buatin Papa kopi dong, Dek dan suruh Mama buatin kue jahe ya," jawab papa tanpa berpaling dari layar laptop dan kertas-kertas yang berserakan di meja. "Sip, Pa." Aku mengambil daun pisang, sendok, dan juga gelas yang sudah kosong. Kemudian keluar dari kamar dan menuruni tangga. "aaa!" teriakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN