28. Putih abu-abu

1287 Kata
Aku mencubit pipi Febi dengan gemas, walau dia berontak atau menepis tanganku tapi sama sekali tidak aku lepaskan. "Udah, dong sakit nih, huaaa," rengeknya, akhirnya aku melepaskan cubitanku itu. Dia mengusap-ngusap pipinya dengan wajah cemberut "Katanya sakit tapi tenaganya masih kuat aja, tuh." Aku melotot ke arahnya karena dia bilang begitu. "Ya habis kamu sih buat sebal aja, udah dibilangin gak usah tetep aja batu," omelku. "Ish, biarin." Febi malah menjulurkan lidahnya dan aku hanya melotot ke arahnya. "Udah, ish terima aja ngapa. Susah amat sih tinggal nerima doang," cibirnya. "Eh, tembem aku tau kamu anak sultan tapi aku gak enak ih nerima ini semua," jawabku masih kukuh untuk menolak. "Udah terima aja ngapa sih, ngapain pakai gak enak gak enak segala sih. Kita itu udah sahabatan dari SMP gak usah bilang gak enak, gak enak kasih kucing sana!" "Gak pokoknya gak!" "Harus, pokoknya harus!" "Gak!" "Harus!" "Batu banget sih!" "Kamu tuh yang ngeyel!" Perkelahian kami terus berlanjut sampai mama dan papa masuk ke dalam kamar. "He, he, ada apa nih berisik banget sampai ke bawah lho suara kalian," ujar mama. "Kenapa Dek, Febi anak sultan kok berantem?" tanya papa. "Lho, ini kok ada para asisten rumah tangga kamu, Feb?" heran mama baru menyadarinya. "Eh, itu Tante nganu ...." "Ini, Ma Febi yang suruh buat bawain semua belanjaan dia yang mau dikasih Genta, ditolak tetep aja batu," jawabku memotong omongan Febi. "Papa kok denger suara mobil ya," kata papa. Kami berhenti berbicara sejenak, begitu juga dengan Febi yang sudah siap membuka mulut akan menyahuti. Aku menajamkan telingaku mencoba mendengarkan dan benar saja ada suara klakson mobil dari luar. "Papa lihat dulu ya." Papa segera beranjak ke luar untuk melihatnya. Aku refleks bangun dan hendak ikut bersama papa tapi didahului oleh mama dan Febi yang juga mengekor di belakang papa. Sesampainya di depan rumah aku melihat papa sedang berbincang dengan dua orang yang sangat tidak asing, mereka adalah ayah dan ibu Febi. "Febi nih Ayah sama Ibu kamu udah jemput, kamu kemasi barang-barang kamu ya kan besok udah hari pertama sekolah," kata papa sambil menatap ke arah Febi. Febi mengangguk kemudian menarik tanganku menuju ke kamar. "Kalian letakkan semuanya aja di sana, terus pulang," pinta Febi. Aku memelototi Febi tidak mungkin aku berteriak padanya sedangkan para orangtua terutama ayah dan ibu Febi ada di bawah. Dengan santainya dia membereskan semua barang-barangnya ke dalam tasnya, kemudian bersiap pergi. "Sampai jumpa besok, Gen," pamitnya, tapi tidak aku biarkan begitu saja aku memegang tangannya. "Bawa pulang ini semua," tegasku. "Gak mau, wlek." Febi menjulurkan lidah menepis tanganku dan berlari ke bawah. Tidak mungkin aku mengejarnya jika ada orangtuanya, rasanya malu. Akhirnya aku menyusul Febi ke bawah, wajahnya terlihat puas kemudian mereka berpamitan pulang. Yang membuatku juga tidak nyaman ada keberadaan orangtua Febi adalah tatapan mereka yang seolah tidak menyukai keluargaku, aku yakin mama dan papa menyadari hal itu tapi mereka cuek saja jadi aku pun melakukan hal yang sama. Walaupun tidak ada kata terang-terangan langsung dari orangtua Febi tapi tetap saja aku rasa begitu. Mungkin mereka menganggap aku bersahabat dengan Febi karena dia kaya, sebenarnya tidak aku biasa saja padanya dia juga begitu. Setelah itu kami makan malam seperti biasa, rupanya kepala batu Febi bisa juga membuat aku melupakan kejadian tadi pagi dan kembali bersemangat. Sepanjang makan malam aku mengomel tentang kelakukan Febi yang keras kepala, mama dan papa mendengarkannya saja dan hanya menyahuti seadanya mungkin takut salah bicara dan membuatku tambah kesal. Setelah itu ternyata aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk apapun. *** Suara klakson yang cukup kencang membuatku terbangun dari tidurku, aku tergaket dan sontak langsung berdiri dan melihat keluar rumah. Tidak disangka papa dan mama sudah berada di depan pintu lebih dulu. Saat aku lihat keluar ternyata itu adalah mobil Febi, Febi dengan cengiran dan pipi tembemnya melihat ke arah kami dan sekali lagi mengklakson dari luar mobil. "Febi!" seruku merasa gemas juga kesal. "Ayo, dong buruan kita ke sekolah udah aku jemput nih," jawabnya dengan senyum yang semakin lebar. "Emang ini tuh udah jam berapa? Langit masih belum terang tau," gerutuku. "Udah jam enam kok." "Febi kalau kita pergi sekarang bisa-bisa kita yang pertama tiba di sekolah." "Ya bagus dong." "Sebelum Pak satpam yang bukain gerbang juga bagus?" tanyaku membuat Febi terdiam selama beberapa saat. "Ah, udah kalau Pak satpam belum dateng juga kita di mobil aja dulu sampai dateng." "Ya bagusan tidur bentar lagilah kalau gitu." "Gak, pokoknya gak! Cepet sana mandi. Tante gak usah repot siapin sarapan aku dah bawain bubur ayam." Febi berjalan ke pintu mobil yang belakang kemudian membuka pintu mobil dan mengambil plastik bening berisi tempat makan yang terbuat dari sterofom. Febi kemudian mendorong kami masuk ke dalam rumah dan menarik tangaku menuju ke kamar. Dia menyuruhku cepat bersiap, juga menungguku mandi. "Kamu masih ngapain di sini?" tanyaku saat baru selesai mandi, tubuhku agak bergetar karena kedinginan dengan air pagi. "Ya nunggui kamulah," jawabnya enteng. "Keluar sana tunggu di bawah aja!" usirku. "Ish, yaudah." Setelah dia keluar aku selimuti tubuhku selama beberapa menit. Kemudian baru memakai seragam sekolah. Setelah itu barulah aku turun ikut sarapan. "Lama banget sih," gerutu Febi saat aku duduk di meja setelahnya. "Aku tuh kedinginan tadi, dikira air pagi gak dingin apa," protesku. "Kenapa gak masak air hangat?" "Emang ada kamu suruh? Kan enggak langsung main tarik ke kamar aja," jawabku dengan sebal dia hanya nyengir saja. Setelah itu barulah kami makan bubur bersama di meja makan pagi ini dan berangkat ke sekolah. Benar saja sesampainya di sekolah belum ada siapa pun hanya pak satpam yang baru tiba setelah kami tiba juga. Pak satpam kemudian membuka pintu dan berjaga di posnya. "Tuh kan Pak satpam udah dateng," tunjuk Febi dari dalam mobil aku hanya memutar bola mata malas. Setelah itu kami turun dan menyapa pak satpam. "Wah, rajin banget jam segini udah dateng ya," puji pak satpam membuat senyum Febi yang sudah mengembang tambah jauh lebih mengembang lagi. Kami menuju ke mading untuk melihat pembagian kelas, tapi sayang sekali belum ada pengumuman apapun di sana jadi kami tidak bisa memasukkan tas kami ke kelas. "Lho, kok gak ada pembagian kelasnya kan harusnya ...." "Udah dibilangin bandel sih, jangan buru-buru masih aja ngotot. Mungkin pembagian kelasnya nanti sekalian upacara dan acara penyambutan kali." Febi memasang wajah cemberut "Jadi kita mau ke mana?" "Coba ke perpustakaan aja yuk siapa tau udah buka," usulku membuat Febi mengangguk setuju. Akhirnya kami menuju ke perpustakaan dan ternyata perpustakaan itu telah terbuka pintunya. Kami masuk ke dalam tapi tidak asa siapa pun sepertinya, meja penjaga perpustakaan masih kosong. Saat baru masuk satu langkah aku mencium wangi bunga kantil bercampur menyan yang cukup menyengat, tapi tidak aku pedulikan. Aku melihat ke arah Febi yang ternyata sudah berwajah tegang bercampur pucat, Febi tidak berkedip seperti menatap sesuatu yang menakutkan. Perasaanku mulai tidak enak, perlahan aku juga melihat ke arah Febi melihat dan aku begitu menyesal melakukannya karena di sana ada sosok tinggi besar berbulu dengan taring panjang yang menatap kami dengan mata merahnya. *** Perlahan aku membuka mata, sepertinya aku pingsan. Kulihat sekitar dan aku tau betul ruangan serba putih ini. "Akhirnya bangun juga, selamat datang di UKS," sapa orang yang wajahnya tidak asing. Aku melirik tanda nama di bajunya dan benar saja ternyata itu adalah Kak Irfan. "Teman aku mana ya, Kak?" tanyaku. "Noh di sebelah." Aku melihat ke arah yang ditunjuknya dan benar saja di belakangku ada Febi yang masih memejamkan matanya. "Nih, diminum dulu." Tiba-tiba Kak Gilang menyodorkan teh manis hangat kepadaku, aku mengangguk dan meminumnya sedikit. "Rajin banget kalian berdua jam segini udah ada di sekolah," kata Kak Irfan. "Sampai berani ke perpustakaan yang terkenal angker di pagi dan sore hari lagi," timpal Kak Gilang. Ya hari pertama sekolah di masa putih abu-abuku berakhir dengan pingsan di perpustakaan yang angker ternyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN