29. Senyuman

1225 Kata
"Duh, sakit nih kepala. Lha ini di mana?" Suara itu membuat aku berpaling dan ternyata Febi sudah sadar. "Di UKS," jawab Kak Gilang cepat. "Nih, diminum." Kak Gilang menyodorkan lagi teh manis kepada Febi. Dengan cepat Febi mengambilnya dan meminumnya sampai tandas. "Eh, buset itu masih panas udah diminum aja sampai habis," ujar Kak Gilang kaget. Febi memutar badannya berhadapan ke arahku "Tadi yang kita liat itu beneran, bukan mimpi?" tanyanya dengan mata mengarah ke arahku. "Anggep aja mimpi," jawab Kak Irfan. "Lagian kalian perpustakaan angker dimasuki mau uji nyali?" tanya Kak Gilang. "Ya mana kita tau kan kita murid baru," jawab Febi dengan sewot. Tidak lama bel sekolah berbunyi membuat kami harus pergi ke lapangan untuk upacara. "Kalau masih gak enak badan izin aja," kata Kak Irfan. "Udah baikan kok, Kak. Makasih," jawabku. Setelah itu kami mengikuti kakak kelas yang ada di depan kami itu sampi ke lapangan dimana para murid sudah berbaris rapi, para murid baru meletakkan tasnya di pepohonan yang ada di sana. Ternyata sudah ada tanda di lapangan untuk anak-anak baru dan kami berbaris bersama yang lainnya, hiruk-pikuk sebelum dimulainya acara menbuatku melupakan kejadian menyeramkan itu. Febi berdiri di depanku dan kami memilih berdiri di barisan tengah, ketika kulihat sekeliling banyak orang yang dipenuhi senyuman pagi ini ada juga beberapa gerutuhan tapi secara keseluruhan senyum yang mendominasi begitu pula dengan kami para murid baru. Ketika suara mikrofon terdengar semua menjadi senyu. Protokol mulai membacakan tata cara upacara. Semua berjalan baik dan tanpa kendala berarti dengan matahari terik yang selalu menemani ketika upacara. Sampai akhirnya upacara usai dan kami boleh beristirahat sejenak karena setelah ini akan ada acara penyambutan di aula sekaligus pembagian kelas yang akan dibacakan. Setelah membacakan pembagian kelas kami akan dipand oleh para anggota OSIS dalam rangka pengenalan lingkungan sekolah tentang gedung dan lainnya. Ketika sampai di bagian perpustakaan aku takut untuk masuk ke dalam ditambah dengan mengingat kejadian tadi pagi yang terbesit tanpa diminta, tapi setelah melihat ke dalam rasanya sangat nyaman. Mungkin benar kata Kak Irfan dan Gilang bahwa perpustakaan ini hanya angker pada pagi dan sore hari saja, jadi kalau jam segini pastinya akan aman. Berikutnya kami akan diajak ke tempat baru yang katanya akan menjadi kejutan, tempat itu masih dibangun sampai saat ini. Ternyata tempat itu adalah kolam renang yang berada di gedung olahraga, masih dalam proses tapi melihat hal itu mataku berbinar. Aku berharap kolam renang ini bisa dipakai sebelum aku lulus. Tempat terakhir adalah kami diantarkan ke ruang kelas masing-masing sesuai pembagian, semua yang disebutkan namanya masuk satu persatu dengan dua orang OSIS menunggu di depan pintu dengan daftar yang harus ditandatangani sebelum masuk ke kelas. Akhirnya aku dan Febi bisa memasuki kelas kami bersama kelas yang lainnya, beruntungnya kami bisa satu kelas. Kami boleh memilih tempat duduk masing-masing sampai guru memasuki ruangan dan mengatur ulang tempat duduk kami lagi. Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, seorang guru laki-laki memasuki kelas tapi baru satu langkah dia sudah jatuh tersungkur membuat semua kertas bawaannya berserakan. Aku hanya tercengang melihatnya, ada yang tertawa kecil ada juga yang membantu. "Siang semuanya, baik mari kita langsung atur tempat duduk kalian melalui undian yang sudah saya siapkan," ujarnya percaya diri walau tadi sudah terjatuh. Guru itu kemudian mengambil sebuah kotak kecil dan meletakkannya di atas meja memanggil satu per satu murid sesuai absensi dan menyuruh mengambil satu kertas di kotak itu. Setelah semua selesai barulah kami membuka kertas yang berisi nomor itu. "Baik, semua berdiri terlebih dahulu." Sesuai instruksi kami semua berdiri. "Silakan yang matanya rabun atau memakai kacamata ke depan dulu dan berdiri di sebelah kiri saya." Setelah berkata demikian beberapa murid ke depan dan berdiri di sebelah kiri si bapak. "Baik kalian di barisan depan ya, yang duduk di depan keluar dulu," ujarnya lagi "yang merasa dirinya tinggi maju ke depan." "Lho, kamu rabun tapi tinggi ya lebih tinggi dari Bapak lagi," katanya ke salah satu murid laki-laki "kamu bagusnya em duduk di depan atau belakang ya?" Bapak itu berpikir cukup lama sambil bergumam sendiri tidak memperhatikan sekitar, sebenarnya kakiku sudah pegal ingin duduk tapi tidak enak mau menegur. "Kami di belakang saja, nanti tanya temanmu kalau kurang jelas. Jangan lupa beli kacamata," katanya akhirnya bisa memutuskan. Setelah itu si bapak menghadap ke papan tulis dan menuliskan sebuah dena yang diurutkan dari nomor yang kami dapatkan. "Setiap tiga bulan akan daya amati dan ganti posisi duduk kalian agar kalian bisa beradaptasi dan juga bisa bergaul dengan siapa saja. Cukup untuk tempat duduk kita mulai perkenalannya." *** "Bapak tadi ceroboh ya, lama lagi ngambil keputusan," komentar seorang murid perempuan berambut pendek seleher. Teman-temannya yang lain mengiyakan, aku pura-pura tidak mendengarnya. "Kantin yuk, Gen," ajak Febi yang langsung aku angguki. "Eh, Gen siapa nama Bapak wali kelas kita itu lupa aku." "Pak Syawalhudin," jawabku. "Nah, iya itu. Orangnya lucu bin percaya diri tingkat tinggi ya." Febi cengengesan. "Gak usah dibahas deh, ngapain juga ngomentari orang lain," cibirku sebal. Malas kalau harus mengomentari orang tidak ada manfaatnya sama sekali menurutku. Febi hanya diam tanpa komentar sampai kami sampai di kantin, di sana sudah ramai dengan para murid yang lapar dan mengantre untuk membeli makanan. Saat kami makan beberapa kakak kelas mendatangi kami dan memberikan kami selebaran berupa keskul yang mereka promosikan, memang di sekolah ini setiap murid harus mengikuti minimal satu ekskul dan kenapa mereka berlomba-lomba mencari anggota ekskul adalah karena ekskul dengan anggota terbanyak akan dipantau dan jika memenuhi syarat maka akan mendapatkan fasilitas yang lebih dari sekolah. Kami menerima selebaran itu dan melanjutkan makan sampai bel pelajaran berikutnya berbunyi. Guru yang mengajar adalah guru yang sama yaitu wali kelas kami yang dipanggil Pak Syawal atau lebih kerennya Pak Sya. Kami masih tetap belum belajar karena Pak Sya membagikan jadwal pelajaran kami mulai besok, kami juga disuruh mengantri ke perpustakaan untuk mengambil buku pelajaran dan mulai dengan jadwal piket kelas. Pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara belum ditetapkan menunggu seminggu agar bisa melihat siapa yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan lainnya antara satu teman dengan teman lainnya. Pak Sya tidak ingin langsung asal-asalan memilih. Ternyata pembagian buku sangat memakan waktu karena setiap kode buku harus dicatat dan tidak boleh tertukar jika tidak ingin dikenai denda, aku juga menulis nomor bukuku agar tidak lupa. Kami harus benar-benar menjaga fasilitas yang diberikan sekolah. Setelahnya kami disuruh untuk bersosialisasi dan mengobrol satu sama lain oleh Pak Sya untuk saling mengenal teman sekelas, hasil obrolan kami harus dicatat dan dikumpulkan besok yang secara tidak langsung menjadi tugas di hari pertama sekolah. Kelas cukup berisik karena banyaknya suara percakapan, Pak Sya mengawasi dari depan sambil sesekali berjalan dan mengajak ngobrol juga begitulah yang terus kami lakukanlah sampai jam pulang berbunyi. Hari ini kami tidak ada istirahat kedua dan kelas dipersingkat karena masih hari pertama, begitulah hal yang aku tau dari sekolah ini yang didapatkan dari informasi alumni sekolah kami yang juga alumni sekolah ini. "Ih, Febi jalannya biasa aja dong jangan dempet-dempetan," kataku pada Febi yang berjalan menempel seperti prangko. "Habis takut nanti kalau ada itu lagi gimana?" tanyanya dengan wajah cemas. Aku tau apa yang dia maksudkan. "Ya gaklah kan masih terang-benderang gini," jawabku. Aku terus berusaha menjauhkan tubuh Febi walau dia kemudian kembali lagi. "Aduh, maaf Pak, maaf," ucapku karena menyandung alat pelan pengurus kebersihan. "Kamu sih Feb gara-garanya." Aku melotot ke arah Febi. Bapak itu kemudian tersenyum ke arahku saat aku berusaha melihat wajahnya yang tertutup topi, senyumannya membuatku seketika merinding.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN